Enigma – Yudhi Herwibowo

EnigmaJudul : Enigma
Penulis : Yudhi Herwibowo (2013)
Editor : Anin Patrajuangga
Penerbit : Grasindo
Format : Paperback, 224 halaman

Aku tahu bagian tubuh kita tak hanya terdiri dari tulang-tulang dan daging, darah serta air. Ada juga yang mungkin tak terdeteksi. Itu adalah: kenangan. (Chang, hal.91)

Hasha sedang mempersiapkan pernikahannya. Isara sedang menata hidupnya pasca perpisahannya dengan Patta. Goza masih menjadi bedebah yang bahkan lebih bedebah dari sebelumnya. Sedangkan Chang atau Indiray, kini hidup dengan keyakinan yang dipegangnya, menjadi orang yang berbeda. Mereka berlima yang dulunya sering mengisi siang hari seusai kuliah di meja panjang di bawah pohon besar di warung lotek, kini berselisih jalan, mengungkap rahasia demi rahasia, dan dipertemukan kembali dengan cara yang tak disangka-sangka sebelumnya.

Tapi waktu seperti berdatangan sejak perpisahan itu. Aku sendiri merasa heran, ke mana mereka selama ini? Sepertinya mereka sengaja bersembunyi enggan menemuiku? (Isara, hal.11)

Adalah Kurani, wanita yang sempat setahun bersama mereka berlima sebelum kemudian pindah kuliah, yang menjadi calon istri dari Hasha. Hasha yang pendiam dan mengisi hari-harinya dengan menulis. Kurani yang mempesona dan membuatnya nyaman. Sejak sebuah insiden yang menimpanya di Yogyakarta, yang berkaitan dengan pekerjaannya sebagai jurnalis, dia terpaksa kembali dan menyembunyikan diri di tanah kelahirannya di Solo. Pertemuan tak terduganya dengan Isara pun membangkitkan kenangan masa lalu yang hendak dikuburnya. Isara yang penuh rahasia, Isara yang dihantui oleh rahasia masa lalu, kini mencoba berdamai dan melepaskan bebannya.

Patta yang masih sulit menerima bahwa dirinya kini berpisah dengan Isara, menenggelamkan diri dalam pekerjaan yang berbahaya. Yang pada suatu titik akan menemukan Goza yang dulu sangat dibencinya. Goza yang kerap mempermainkan wanita, menganggap mereka hanyalah sarana pelampiasan nafsu, di sela-sela pekerjaannya sebagai pembunuh bayaran. Dia menemukan dirinya harus kembali ke Yogyakarta dan, mau tak mau, menelusuri kembali perjalanan masa lalunya. Chang yang hidup damai dalam sebuah persaudaraan mendapatkan tugas yang mengharuskannya pindah ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta mereka pertama kali bertemu dan berteman, setelah sekian lama berpisah, di Yogyakarta pula mereka dipertemukan kembali dalam suasana yang aneh. Misterius, penuh pertanyaan yang satu per satu terjawab dengan meninggalkan pertanyaan baru.

Buku ini ditulis dengan sudut pandang yang berganti-ganti di antara kelima orang tersebut. Pergantian sudut pandang tersebut kadang terjadi begitu cepat. Begitu pula setting waktu yang dapat berubah tanpa peringatan, sehingga terkadang saya baru menyadari di pertengahan bab bahwa sang karakter sedang mengenang masa lalunya. Meski begitu, alur dalam buku ini terasa sangat lambat. Terkadang satu bab akan menceritakan satu episode yang singkat, namun dengan bahasa berbunga-bunga khas penulis, terasa sangat lama.

Bagian yang mengganggu saya adalah fakta yang diceritakan berulang-ulang. Untuk hal tertentu yang membutuhkan penjelasan dari sudut pandang berbeda, pengulangan masih bisa diterima. Namun fakta yang sudah jelas, seperti Kurani yang hanya bersama-sama mereka selama satu tahun, rasanya tidak perlu disebutkan oleh setiap karakter, karena toh tidak mengubah apa pun dan tidak semua karakter terlibat secara emosional dengan fakta tersebut.

Hal tersebut mungkin mengurangi kenikmatan membaca buku ini, namun tidak mengubah fakta bahwa saya suka dengan bahasa yang dipergunakan oleh penulis. Bahasa Indonesia yang baku tanpa kesan kaku, puitis dan diksi yang indah.

Aku ingat, ada sebuah sudut di rumah itu yang selalu membuatku merasa begitu tenang. Sebuah sudut dengan bau dupa yang samar dengan keheningan yang begitu beku. Hingga napas pun dapat terasa bergema di sana. Dan itu bukan sudut yang ada di ruang doa, tapi sudut yang ada dalam perpustakaan. (Chang, hal.57)

Kesan misterius buku ini pun terasa meningkat seiring berkembangnya kisah dan terkuaknya kebenaran. Semakin ke belakang, semakin kita terbawa dengan gaya penceritaan penulis dan semakin penasaran dengan akhirnya.

3/5 bintang untuk kisah cinta yang menegangkan.

Review #6 untuk Membaca Sastra Indonesia 2013 (Kontemporer #4)

One response to “Enigma – Yudhi Herwibowo

  1. Pingback: Selesai Membaca Sastra Indonesia 2013 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s