Hamlet – William Shakespeare

The conclusion in English at the last words.

13507871Title : Hamlet, Prince of Denmark
Author : William Shakespeare (1602)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : Etext #1524, November 1998
Format : ebook

That one may smile, and smile, and be a villain;
At least, I am sure, it may be so in Denmark:
(Hamlet, Act I Scene V)

Kisah Hamlet ini dimulai pasca meninggalnya Raja Hamlet, raja Denmark pada saat itu. Sepeninggalnya, Denmark dipimpin oleh Claudius, saudaranya. Tak hanya menduduki tahtanya, Claudius juga menikahi istri mendiang saudaranya, Gertrude. Hamlet junior, putra dari mendiang Raja Hamlet, merasa tidak nyaman dengan pernikahan ibu dan pamannya tersebut.

Suatu malam, para pengawal memberitahunya bahwa pada malam sebelumnya mereka melihat hantu mendiang raja mereka. Pada malam itu juga Hamlet melihat hantu ayahnya, yang berbicara padanya. Hantu itu mengatakan bahwa dia meninggal karena dibunuh oleh Claudius, dan dia meminta Hamlet untuk membalaskan dendamnya. Hamlet mengiyakan pesan tersebut, namun dia juga mempertimbangkan, apakah benar yang dilihatnya adalah hantu ayahnya, ataukah roh jahat yang menjelma seperti ayahnya. Diam-diam dia menyusun rencana.

Hamlet bertingkah seperti orang gila. Penolakan Ophelia, gadis yang dicintainya, menjadi dugaan atas ketidakwarasan Hamlet tersebut. Claudius pun mencoba menyelidiki hal tersebut, dengan rencana yang disusunnya bersama Polonius—ayah Ophelia, yang melibatkan teman-teman Hamlet, dan juga Ophelia sendiri. Pada saat itulah Hamlet mendapat ide untuk membongkar kejahatan pamannya, membuat Claudius menunjukkan sendiri rasa bersalahnya. Jika Claudius bersalah, dia akan membunuhnya. Namun jika tidak, maka dia kan mengabaikan pesan dari hantu tersebut.

Bear’t that the opposed may beware of thee.
Give every man thine ear, but few thy voice:
Take each man’s censure, but reserve thy judgment.
Costly thy habit as thy purse can buy,
But not express’d in fancy; rich, not gaudy:
(Polonius to Laertes, Act I Scene III)

Kisah pun berkembang menjadi pembunuhan orang yang salah, kegilaan dan kematian yang tak diharapkan, rencana pembunuhan Claudius terhadap Hamlet, perdebatan Hamlet dengan ibunya, dendam baru, dan kematian lagi. Meskipun sudah jelas bahwa drama ini adalah tragedi, kematian-kematian yang ada, dan cara kematian tersebut menimbulkan kesan emosional tersendiri (setidaknya bagi saya). Terutama menimbulkan pertanyaan “mengapa?”.

Drama Hamlet ini menunjukkan bahwa pembalasan dendam tak akan membawa hasil yang diharapkan. Dendam adalah hal yang emosional, oleh karenanya orang bisa salah dalam melangkah saat dalam proses tersebut. Saya memuji langkah Hamlet yang menyelidiki terlebih dahulu, benar tidaknya bahwa Claudius yang bersalah atas kematian ayahnya. Rencana yang disusunnya relatif rapi, namun dia tak bisa mengendalikan semua hal, kesalahan tetap menemukan jalannya dan membuatnya kehilangan orang yang dicintainya, untuk selamanya.

If your mind dislike anything, obey it: (Horatio to Hamlet, Act V Scene II)

Perebutan kekuasaan, harta, cinta, dendam, semuanya bisa mendorong seseorang untuk melakukan hal yang tak dibayangkannya sebelumnya. Hal-hal yang seringkali membuat penyesalan di kemudian hari. Dan Hamlet menunjukkan dua sisi dari hal tersebut, kebijaksanaan dan sikap yang terlalu gegabah. Selain itu, drama ini juga mengemukakan hakikat kematian dari satu sisi. Bahwa kematian adalah sebuah ‘perjalanan yang lain’.

4/5 bintang untuk sang Pangeran Denmark.

To be, or not to be,—that is the question:—
Whether ’tis nobler in the mind to suffer
[…..]
[…]—To die,—to sleep,—
No more; and by a sleep to say we end
The heartache, and the thousand natural shocks
[…..]
To sleep! perchance to dream:—ay, there’s the rub;
For in that sleep of death what dreams may come,
[…..]
(Hamlet, Act III Scene I)

This tragedy about vengeance and death, though not unpredictable, still brings a rhetorical question “why?”. Why should people die that way, why should be those deaths, why couldn’t all happen as it’s planned.

I think, revenge is an emotional action. Although, Hamlet had planned what he would do, there was a cleft that mistakes could slip into it. He made sure that he’d do the right thing, convincing himself that his uncle was guilty before taking action, I appreciate him for this. Still, he couldn’t control everything. He led some people to useless death, even the one he loved so much.

In the end, there would always be a remorse for emotional choices. Not only for Hamlet, but also his uncle that intended to kill him too, his mother, and other characters that acted in the name of revenge, pride, wealth, love, without really consedering the consequences.

Review #15 of Classics Club Project

Review #9 of Let’s Read Plays

Review #24 for Books in English Reading Challenge 2013

Review #14 for What’s in a Name Challenge 2013

6 responses to “Hamlet – William Shakespeare

  1. Pingback: Scene on Three (18) | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Let’s Read Plays Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Books in English 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s