The Curious Incident of the Dog in the Night-Time – Mark Haddon

Title : The Curious Incident of the Dog in the Night-Time (Insiden Anjing di Tengah Malam yang Bikin Penasaran)
Author : Mark Haddon (2003)
Translator : Hendarto Setiadi
(Pembaca ahli) : Fridiawati Sulungbudi
Editor : Pax Benedanto
Cover designer : Rully Susanto
Publisher : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Edition : Cetakan ketiga, April 2005
Format : Paperback, viii + 312 halaman

Ini novel misteri pembunuhan.
Menurut Siobhan aku seharusnya menulis sesuatu yang aku sendiri mau baca. Kebanyakan aku membaca buku-buku tentang ilmu pengetahuan dan matematika. Aku tidak suka novel biasa. Di dalam novel biasa orang berbicara seperti ini, “Tubuhku berurat besi dan perak dan berona lumpur. Aku tak sanggup mengepalkan tinju begitu saja sebagaimana bisa dilakukan orang tanpa rangsangan.” Apa artinya ini? Aku tidak tahu.
(p.7)

Buku ini ditulis dari sudut pandang orang pertama seorang remaja lima belas tahun penderita Sindrom Asperger, Christopher Boone. Kisah yang ‘ditulisnya’ ini dimulai saat dia menemukan Wellington, anjing milik Nyonya Shears–tetangganya, tewas oleh karena tusukan sebilah garpu kebun. Christopher yang sangat menyayangi Wellington pun tergerak untuk menyelidiki pembunuhan tersebut, dengan caranya sendiri.

Christopher yang kesulitan dalam hal hubungan sosial dan komunikasi dengan orang asing mulai melakukan hal-hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Dia pergi ke rumah tetangganya, menanyai mereka, meski tetap menjaga jarak yang dirasa nyaman olehnya. Saat ayahnya mengetahui hal tersebut, dia diminta untuk menghentikan penyelidikan tersebut dan melupakan segala hal tentang pembunuhan Wellington.

Hal-hal tak terduga mulai muncul satu per satu. Secara tak sengaja ayahnya menemukan ‘calon buku’ Christopher dan marah karenanya, secara tak sengaja pula Christopher menemukan rahasia besar yang disimpan ayahnya yang membuat hubungan mereka memburuk.

Sejak awal membaca buku ini, saya sudah merasakan rasa sayang pada karakter Christopher, pada cara penulis menghidupkannya. Saya (merasa) bisa memahami perasaannya, meski—sebagai penyandang Sindrom Asperger—dia tidak berbahasa seperti orang-orang pada umumnya. Dia menerima segala sesuatu dengan arti yang sesungguhnya, tak mengenal metafora ataupun makna ganda. Begitu pun kata-katanya, diucapkan secara langsung, dalam bahasa sederhana yang khas, tapi tetap dapat menunjukkan kecerdasannya yang luar biasa.

Kalau lelucon itu kuucapkan dalam hati sambil membayangkan ketiga arti kata itu sekaligus, aku seperti mendengarkan tiga jenis musik yang berbeda-beda sekaligus dan ini tidak nyaman dan membingungkan dan bukan sesuatu yang menyenangkan seperti suara desis radio. (p.12)

Aku tetap tidak menyahut karena Nyonya Alexander sedang melakukan sesuatu yang disebut berbasa-basi, yaitu kalau orang asing mengatakan hal-hal yang bukan pertanyaan dan bukan jawaban dan juga tidak terkait satu sama lain. (p.58)

Dari kata-kata Christopher yang sederhana pun saya dapat menangkap emosi dan perasaan karakter-karakter yang lain, meski dia sendiri sebenarnya tak mengerti. Kecintaannya pada matematika dan astronomi tercermin dalam banyak hal yang dijelaskannya dalam buku ini, yang sedikit banyak juga mengungkap kepribadian dan pola berpikirnya. Dan karena saya juga (pernah) menyukai dua hal tersebut, saya sangat menikmati dan merasa terpukau olehnya.

Bilangan prima adalah apa yang tersisa setelah semua pola kau buang. Kupikir bilangan prima seperti kehidupan. Bilangan prima serba logis tapi kau takkan bisa mencari aturan mainnya, sekalipun kau menghabiskan seluruh waktumu untuk memikirkan bilangan itu. (p.17)

Tuan Jeavons berkata bahwa aku menyukai matematika karena matematika itu aman. Menurut dia, aku menyukai matematika karena matematika itu berarti memecahkan soal-soal, dan soal-soal itu sulit dan menarik tapi selalu punya jawaban yang pasti. Dan yang dia maksud adalah bahwa matematika itu tidak seperti kehidupan karena dalam kehidupan tidak selalu ada jawaban yang pasti. Aku tahu yang dia maksud karena begitulah yang dia katakan.
ini karena Tuan Jeavons tidak mengerti soal angka-angka.
(p.89)

Dalam beberapa hal, Christopher juga mirip dengan Sherlock Holmes. Oleh karena itu, Sherlock Holmes adalah juga merupakan salah satu favoritnya. Dia hapal berbagai detail yang terdapat dalam buku-buku karangan Sir Arthur Conan Doyle tersebut, seperti saat Holmes dan Watson singgah makan siang di Swindon—tempat Christopher berasal—pada kasus The Boscombe Valley Mystery.

Aku juga suka The Hound of the Baskervilles karena aku suka Sherlock Holmes dan aku pikir kalau aku menjadi detektif sungguhan maka aku akan menjadi detektif seperti dia. Dia sangat cerdas dan dia berhasil memecahkan semua misteri dan dia berkata
Dunia penuh hal-hal yang serba gamblang tetapi tidak pernah diperhatikan oleh siapapun.
(p.104)

Buku ini menunjukkan bahwa meski dengan ‘kebutuhan khusus’, bukan berarti mereka harus selalu menggantungkan diri pada orang lain. Kecerdasan Christopher, daya ingatnya, pengamatan detailnya, logikanya, berhasil membuatnya bertahan saat dia harus melakukan berbagai hal seorang diri. Meski dengan beberapa keterbatasan; tak tahan terhadap tempat baru, informasi yang terlalu banyak, terganggu dengan sentuhan fisik, dan lain sebagainya, dapat diatasi dengan kemauan yang keras dan pengenalan terhadap batas diri.

Saya puas dengan buku ini, tak ada janji-janji muluk ‘semuanya baik-baik saja pada akhirnya’, tak ada pula hal yang terlihat dibuat-buat. Hanya kehidupan dari sudut pandang yang berbeda, tapi tetap saja kehidupan. Kemudian buku ini ditutup dengan sebuah paragraf yang sempurna.

Dan aku tahu aku pasti bisa karena aku pernah ke London seorang diri, dan karena aku bisa memecahkan misteri Siapa yang Membunuh Wellington? dan aku bisa menemukan ibuku dan aku berani dan aku menulis buku dan ini berarti aku bisa melakukan apa saja. (p.302)

5/5 bintang merah, di piring terpisah🙂

Review #7 for New Authors Reading Challenge 2013

*Posting bersama BBI Oktober (1) Buku-buku finalis atau pemenang Man Booker Prize. (Nominee for Longlist 2003)

 

14 responses to “The Curious Incident of the Dog in the Night-Time – Mark Haddon

  1. buku ini heartbreaking bangeeeet :’) christopher ini salah satu narator berkebutuhan khusus yang paling berkesan buatku…

  2. Dari semua man booker prize yang udah aku baca, ini yang paling aku suka (dan mungkin juga yang paling ringan ya).
    Suka sama christopher.

    Temenku ada yang asperger, dan dia bilang christopher itu “gw banget”. Sekarang dia residen jantung di Undip. Kayaknya emang bener ya anak asperger itu jenius

  3. Aku suka sekali buku ini. Ini buku pertama daari buku jenis ini yang kubaca. Unik, keren, mengharukan dan luar biasa

  4. Waaaaa… banyak kutipannyaaa… aku nulis secepat aku bisa keburu buru dengan linky RC non BBI yang segera ditutup :@

  5. Pingback: Scene on Three (16) | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Buying Monday #4 : October 2013 | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: Finding New Author & What’s in a Name Challenges 2013 Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Scene on Three (44) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s