While the Light Lasts – Agatha Christie

2222684Title : While the Light Lasts (Selagi Hari Terang)
Author : Agatha Christie (1997)
Translator : Tanti Lesmana
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan kedua, April 2005
Format : Paperback, 220 pages

“Selagi hari terang aku akan selalu ingat, dan setelah hari gelap aku takkan pernah lupa.” (p.215)

Kumpulan cerpen Agatha Christie yang satu ini berisikan sembilan kisah, dengan tema yang berbeda-beda. Rumah Impian mengisahkan John Segrave, pekerja keras yang nasibnya tidak begitu baik. Keluarganya kaya, namun saat ini menjelang bangkrut, dan meski bekerja keras, posisi Segrave hanya di situ-situ saja. Suatu malam, dia bermimpi tentang sebuah rumah, yang dihubungkannya dengan seorang wanita yang ditemuinya keesokan harinya. Rumah itu kembali diimpikannya, rumah indah namun penuh misteri, sama seperti wanita tersebut.

Tak ada kekuatan yang dapat menghentikan mimpi—mimpi bisa meloloskan diri dan menyelinap pergi begitu saja. (p.29)

Dalam Sang Aktris, kita disuguhkan drama terbaik yang bisa ditampilkan aktris yang hebat demi menghindari pemerasan. Tepi Jurang mengangkat masalah rumah tangga dan kecemburuan. Clare Halliwell menyaksikan teman masa kecil yang dicintainya menikah dengan wanita yang (menurutnya) hanya menginginkan hartanya saja. Hingga suatu hari tak sengaja dia menemukan bahwa istri temannya tersebut berselingkuh. Apa yang akan dilakukannya? Petualangan Puding Natal menghadirkan Hercule Poirot yang menemukan keanehan pada puding Natal, yang diikuti dugaan pembunuhan. Kasus yang awalnya main-main ternyata merupakan kedok dari sesuatu yang lebih besar.

Dewa yang Kesepian dikatakan merupakan salah satu dari sedikit karya Christie yang romantis. Bahkan penulisnya sendiri menganggapnya terlalu sentimental. Menceritakan Frank yang menemukan patung dewa di museum yang dirasakan mirip dengannya, yang tampak sama kesepiannya dengan dirinya, kemudian memujanya dan menjadikannya dewanya sendiri. Pada suatu hari, seorang wanita yang juga tampak kesepian muncul dan menjadi pemuja dewa ‘milik’ Frank. Frank pun merasakan ketertarikan dan berusaha mendekati gadis itu, namun ada perbedaan membentang begitu besar di antara mereka—salah satunya usia. Dapatkah mereka saling mengisi kesepian masing-masing, ataukah ada rahasia yang disembunyikan yang membuat mereka sulit bersatu?

Manx Gold merupakan kisah perburuan harta karun, yang konon permainannya benar-benar dibuat untuk mempromosikan Isle of Man pada tahun 1930. Kisah aneh mengenai pelukis dalam Di Balik Dinding menunjukkan hubungan rumit antara Alan—sang pelukis, Isobel–istrinya, dan teman sekaligus ibu baptis anak mereka—Jane. Bagaimana Isobel yang boros dan memanfaatkan kebaikan Jane dalam hal finansial, serta kebencian tak terjelaskan Alan terhadap Jane, yang membuatnya menghasilkan karya yang berbeda dari karya-karyanya yang lain.

Hercule Poirot kembali muncul dalam Misteri Peti Baghdad, kali ini bersama Hastings, sahabatnya. Pembunuhan Mr. Clayton di dalam sebuah peti mengungkap kerenggangan hubungan suami-istri Clayton, serta motif cinta yang menjebak penyelidikan para polisi. Bagaimana modus pembunuhan yang dikatakan oleh detektif kita sebagai ‘pembunuhan yang sempurna’? Sedangkan kisah terakhir, Selagi Hari Terang, mengisahkan seorang wanita yang ditinggalkan suaminya karena perang dan kemudian menikah lagi. Meski telah bersuami, wanita itu tak bisa melepaskan bayangan cintanya yang telah dianggap terbunuh, sampai bayangan itu kembali dalam keadaan yang tak disangka-sangka.

Orang kadang senang diberitahu betapa mengerikan mereka sebenarnya. Itu sebabnya mereka selalu mengerumuni para pengkhotbah populer. Mereka sukses besar. (p.13)

Seingat saya, ini pengalaman kedua saya membaca kumpulan cerpen Agatha Christie. Saya tak terlalu berhasil dengan yang pertama—karena terkesan ‘nanggung’, namun saya sangat menyukai yang satu ini. Mungkin karena memang ini adalah cerpen pilihan beliau (kumpulan ini diterbitkan pertama kali jauh setelah penulisnya meninggal dunia) dari cerpen-cerpen beliau yang pernah dimuat di berbagai majalah. Meski pendek, saya merasa karya Christie ini cukup lengkap dalam hal karakter dan plot. Eksplorasi karakter cukup jelas sesuai dengan porsinya dalam kisah, begitu pula penyajian twist maupun kejutan yang langsung pada sasaran.

Tema yang diangkat pun tak melulu kisah detektif dan kriminal, namun ada juga yang menyajikan thriller atau suspense seperti Tepi Jurang dan Selagi Hari Terang, kisah misteri sehari-hari semacam Rumah Impian dan Di Balik Dinding, bahkan romance yang sangat kentara di Dewa yang Kesepian. Kekayaan tema dan gaya penulisan Christie dalam kumpulan ini—terutama dengan nuansa mystery-romance–sedikit banyak menjawab rasa penasaran saya terhadap novel-novel Christie yang ditulis dengan nama Mary Westmacott.

Meski hanya masuk dalam dua cerpen, kehadiran Poirot cukup berkesan, karena kasusnya yang cukup menarik serta kebrilianan yang ditampakkannya. Bahkan dalam satu bagian, Poirot sempat mengutarakan isi hatinya pada Hastings, kalimat-kalimat yang menunjukkan dengan jelas karakteristik sang detektif.

“Tapi sobatku, aku bukan orang Inggris. Mengapa aku harus bersikap munafik? Si, si, itulah yang kalian lakukan. Pilot yang berhasil melakukan penerbangan sulit, juara tenis—mereka menunduk dan bergumam, ‘Itu bukan apa-apa.’ Tapi benarkah mereka berpikiran begitu? Sama sekali tidak. Mereka mengagumi orang lain yang punya prestasi demikian. Jadi, wajar saja kalau mereka juga mengagumi prestasi mereka sendiri. Tapi mereka terlatih untuk tidak mengakuinya. Tapi aku… aku tidak begitu. Aku memiliki bakat-bakat, tapi aku juga menghormati bakat-bakat orang lain. Kebetulan, dalam bidang pekerjaanku, tak ada yang menyaingiku. C’est dommage! Karena itu, kuakui dengan bebas dan tanpa kepura-puraan bahwa aku pria hebat. Aku memiliki keteraturan, metode, dan psikologi dalam kadar yang luar biasa. Akulah Hercule Poirot! Mengapa aku harus tersipu malu, terbata-bata, dan bergumam bahwa sebenarnya aku sangat tolol? Itu namanya berbohong.” (p.182-183)

Kumpulan ini memang tipis, namun isinya sangat kaya dan komplit.

4.5/5 bintang untuk seni penulisan cerpen misteri yang menakjubkan.

While the Light Lasts First Edition Cover 1997.jpg

Dust-jacket illustration of the first UK edition

Contents:
1. The House of Dreams / Rumah Impian (Sovereign Magazine, January 1926)
2. The Actress / Sang Aktris (Novel Magazine, May 1923)
3. The Edge / Tepi Jurang (Pearson’s Magazine, February 1927)
4. Christmas Adventure / Petualangan Puding Natal (The Sketch, 12 December 1923)
5. The Lonely God / Dewa yang Kesepian (Royal Magazine, July 1926)
6. Manx Gold (1930)
7. Within a Wall / Di Balik Dinding (Royal Magazine, October 1926)
8. The Mystery of the Baghdad Chest / Misteri Peti Baghdad (Strand Magazine, January 1932)
9. While the Light Lasts / Selagi Hari Terang (Novel Magazine, April 1924)

Review #7 for Mystery Reading Challenge 2013

Review #3 for Agatha Christie Read Along

5 responses to “While the Light Lasts – Agatha Christie

  1. Pingback: Agatha Christie Read Along | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: 2013 TBRR Pile Mystery and Fantasy Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Agatha Christie Read Along Wrap-Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s