IRF 2013 : Sebuah Pesta di Museum

IRF atau Indonesian Reader Festival, alias Festival Pembaca Indonesia yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia (GRI) tahun ini diselenggarakan tanggal 7-8 Desember 2013 di Museum Mandiri, Jakarta Kota. Untuk ketiga kalinya, BBI ikut serta dalam pestanya para pembaca ini, namun ada yang berbeda pada tahun ini. Jika dua tahun sebelumnya booth BBI identik dengan penyampulan buku, maka tahun ini kegiatan BBI di IRF jauh lebih terkonsep dan lebih beraneka macam. Sebelum menceritakan tentang BBI, saya ingin bercerita sedikit tentang IRF itu sendiri.

Selain pameran pembaca dan komunitas, IRF juga menawarkan berbagai talkshow dan workshop, yang kesemuanya gratis. Kebetulan tema talkshow yang diadakan tidak ada yang sesuai dengan minat saya, workshop pun hanya sebagian yang saya minati, dan karena tempat yang terbatas, maka saya hanya mendapatkan tempat di Workshop Fun Library Management. Di sini, kita diajarkan cara menggunakan aplikasi SLiMS (Senayan Library Management System), yang sayangnya menurut saya terlalu superfisial. Ya, mungkin benar bahwa waktu dua jam saja tidak cukup, tapi setidaknya saya tahu bagaimana menggunakan SLiMS secara umum, juga mendapatkan panduannya untuk dipelajari sendiri di rumah. (Satu lagi workshop menarik yang tak bisa saya ikuti ada LPMnya di sini).

Di hari pertama, selain mengikuti workshop, saya menyempatkan berkeliling ke semua booth, karena pada hari berikutnya saya berniat untuk berkonsentrasi di booth BBI yang memang hanya buka sehari. Godaan paling tak tertahankan adalah saat berada di booth DBNC, yang menjual buku impor bekas dengan harga murah, yang hasilnya akan dipergunakan untuk amal. Beruntung saya menemukan beberapa judul yang menarik, meski beberapa kondisinya sudah tak begitu baik, jebollah pertahanan dompet saya. Setelah itu saya baru tenang berkeliling, mengikuti kuis-kuis yang diadakan di sana demi meninggikan timbunan.

Tak lupa mengunjungi area bookswap yang pada hari pertama tempatnya sangat sulit dicari dan kurang nyaman karena menjadi satu dengan area talkshow, buku-bukunya pun ternyata kurang menarik.

Sebenarnya masih banyak kegiatan menarik hari itu, seperti pemutaran film yang diangkat dari buku, juga ada Turnamen Triwizard yang diadakan oleh komunitas pecinta Harry Potter. Sayangnya waktu begitu cepat berlalu, sementara kegiatan yang begitu banyak tersebut mengharuskan kita memilih. Bahkan isi dari museum yang sebenarnya menarik pun terpaksa harus saya lewatkan, atau hanya sempat melihat sekilas saja.

Di hari pertama, saya hanya sukses mendapatkan buku gratis dari booth Pemburu Singa Mati, yaitu tempat para pengejar deadline (dipelesetkan menjadi dead lion), yaitu para penerjemah dan editor. Di booth inilah kemampuan berbahasa Indonesia saya diuji. Sedangkan booth-booth lain untuk mendapatkan satu buku saja persyaratannya sangat sulit sekali, nyaris tidak mungkin jika kita belum membaca seluruh buku yang ada di dunia ini (bukan berlebihan, tapi kenyataannya memang begitu).

Di hari kedua, sebelum mulai beraktivitas, kami disuguhi meja bookswap yang sudah berpindah di dekat area pameran. Pada saat inilah buku-buku yang ‘lumayan’ mulai bermunculan, meski tak ada yang luar biasa sehingga membuat saya tak berhasrat mengeluarkan kebrutalan di bookwar. Selain sesekali mencoba peruntungan di beberapa booth lain, sebagian besar waktu saya habiskan di booth BBI.

DSCN1944Apresiasi setinggi-tingginya bagi para panitia yang sudah menghias booth sedemikian rupa, membuat games yang asyik, juga para sponsor yang menyediakan hadiah-hadiah keren (penerbit Gramedia, Serambi, dan para donatur). Dibandingkan booth yang lain, hanya BBI yang menurut saya menyediakan hadiah buku yang keren dengan syarat yang tak terlalu sulit. Ada dua games yang diadakan, yang pertama adalah tebak judul dari cover buku yang dipotong sedemikian rupa, dan menyusun kalimat/puisi dari judul buku. Jika yang pertama dirasa terlalu sulit bagi pembaca yang tidak ‘kelas berat’, maka yang kedua sifatnya lebih universal, hanya membutuhkan sedikit kreativitas.

Selain games, acara seru di booth BBI lainnya adalah talkshow mengenai maksimalisasi blog yang diisi oleh Bapak Korum Helvry Sinaga, dan mengenai seluk-beluk mereview yang diisi oleh Rahib Hernadi Tanzil yang didatangkan langsung dari Bandung. Bincang-bincang yang sangat luar biasa, karena selain mendapatkan ilmu dari suhunya langsung, suasana kekeluargaan di booth BBI pun sangat terasa pada saat itu.

DSCN2019

Secara keseluruhan, saya sangat menikmati IRF ini, sampai-sampai saya merasa kehilangan waktu dan ketinggalan acara-acara menarik. Terima kasih untuk semua pihak yang mendukung terselenggaranya acara ini, juga mendukung kelancaran kehadiran saya di IRF, semuanya yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu. Semoga di tahun-tahun mendatang, saya akan bisa menghadirinya kembali, bahkan masuk dalam jadwal acara tahunan saya.

Itulah cerita singkat versi saya, mungkin tidak selengkap teman-teman yang lain (dan terlambat pula), tetapi inilah yang harus saya sampaikan. Cerita-cerita bersama teman-teman BBI akan saya tuliskan di post tersendiri.

4 responses to “IRF 2013 : Sebuah Pesta di Museum

  1. aku nunggu cerita sama temen-temen BBI-nya aja deh #dudukmanis😀

  2. Pingback: Happy Birthday, my dear Bebi! | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: IRF 2014 : Bahagia karena Membaca | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s