Book Kaleidoscope 2013 : Memorable Quotes

Di hari kedua ini, Book Kaleidoscope 2013 menebarkan Most Memorable Quotes. Padahal kalau dikumpulkan, quote favorit saya bisa puluhan bahkan ratusan, bagaimana cara memilihnya? Sesuai judulnya, most memorable, maka yang saya pilih adalah berdasarkan ingatan saya. Jadi sebenarnya mungkin ada quote terbaik yang saya lewatkan. Bukan salah quotenya, tapi salah otak saya yang melupakannya. Let’s see.

5. Aleph by Paulo Coelho

…..kita selalu mencoba mengartikan segala sesuatu sesuai dengan apa yang kita inginkan dan bukan sebagaimana mereka sesungguhnya.

Jika seluruh kalimat berkesan yang saya baca dari buku-buku Paulo Coelho dikumpulkan, mungkin dia bisa menjadi sebuah buku tersendiri. Rasanya setidaksukanya saya pada buku beliau, tetap saja ada setumpuk quote untuk dibagi. Salah satunya kalimat ini, yang rasa-rasanya saya dulu pernah mengatakannya sendiri. Atau saya pernah membacanya di buku-buku sebelumnya lalu melekat dan muncul pada waktu saya membutuhkannya. Entahlah, yang pasti quote ini sangat dekat dengan saya, terutama saat-saat penuh kekecewaan.

4. Hamlet by William Shakespeare

To be, or not to be,—that is the question:— 

Awalnya, saya memberikan perhatian khusus pada kalimat ini karena memang kalimat ini sangat populer. Namun saat membaca keseluruhan kalimat Hamlet secara utuh, saya bisa merasakan makna mendalam dari kalimat ‘sederhana’ di atas. Hidup, atau mati; sebuah pilihan yang akan kita pertimbangkan saat kita berada di masa-masa sulit. Apalagi saat Hamlet membandingkan kematian dengan tidur.

3. Harry Potter and the Sorcerer’s Stone by J. K. Rowling

After all, to the well-organized mind, death is but the next great adventure.

Setelah Hamlet, mau tak mau saya jadi teringat kata-kata Albus Dumbledore di atas. Bukannya bermaksud menyemangati untuk mati, tetapi mengingatkan bahwa hidup itu tidak abadi, dan kematian adalah sesuatu yang mutlak dan tak perlu ditakuti. Dan pada setiap ajaran agama yang saya ketahui, semuanya mengajarkan bahwa akan ada hidup setelah mati. Jadi tugas kita pada dasarnya adalah untuk hidup hari ini dan mempersiapkan kematian esok hari.

2. The Graveyard Book by Neil Gaiman

“It’s only death. I mean, all of my best friends are dead.”
“Yes.” Silas hesitated. “They are. And they are, for the most part, done with the world. You are not. You’re
alive, Bod. That means you have infinite potential. You can do anything, make anything, dream anything. If you change the world, the world will change. Potential. Once you’re dead, it’s gone. Over. You’ve made what you’ve made, dreamed your dream, written your name. You may be buried here, you may even walk. But that potential is finished.”

Dan setelah segala omongan tentang kematian itu, ada hidup yang harus kita perjuangkan. Saat kita bisa menerima bahwa kematian itu mutlak dan tidak untuk ditakuti, kita harus tetap hidup untuk hari ini. Melakukan sesuatu, membuat sesuatu, bermimpi, dan segala hal yang hanya bisa dilakukan oleh orang hidup yang disebut Gaiman sebagai ‘infinite potential’. Tak masalah berapa panjang (atau pendek) umur yang kita miliki, yang terpenting adalah memaksimalkan hidup kita untuk hal yang berguna bagi umat manusia (hidup) yang lain. Sulit memang, tetapi itulah kewajiban kita.

1. Fahrenheit 451 by Ray Bradbury

Classics cut to fit fifteen-minute radio shows, then cut again to fill a two-minute book column, winding up at last as a ten- or twelve-line dictionary resume.

Menyedihkan memang, tapi itu benar. Dulu saya sering membaca kisah klasik yang dipersingkat untuk tujuan pembelajaran. Namun seiring berkembangnya kemampuan saya, sebisa mungkin saya meninggalkan abridged classics. Lagipula, sebuah buku sedikit banyak akan kehilangan ‘sesuatu’ saat dia diubah, bahkan meski hanya diterjemahkan. Yang menyedihkan adalah saat pada akhirnya buku itu ditinggalkan sama sekali, sebagaimana konteks kalimat di atas. Mereka hanya membaca dua belas baris resume, lalu mengatakan sudah membaca buku tersebut. Ah, semoga kita tidak mengalami dunia semacam itu. Membaca kembali quote di atas sudah membuat saya merinding.

Itulah kelima quote yang paling saya ingat dari bacaan saya tahun ini. Bagi quotes-mu dan lihat-lihat quotes blogger lain di sini.

 

 

 

8 responses to “Book Kaleidoscope 2013 : Memorable Quotes

  1. This year is a year of death, at least in your quotes. Tapi emang baca Hamlet itu susah buat lepas dari tema kematian. Becandaannya aja soal kematian (Gravedigger scene). Aku suka Quote pertama. Jadi penasaran pingin baca bukunya…

  2. iya banget itu, aku inget pas baca line dari The Graveyard Book itu aku jadi optimis (well, setidaknya aku ingin Bod agar lebih optimis).

  3. kyaaa…nyidam Aleph belum kesampaian… >.<

  4. wah, quote2 pilihanmu keren semua, Z…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s