Book Kaleidoscope 2013 : Newly Crowned Favourite Authors

Hari keempat Book Kaleidoscope 2013 adalah saat yang tepat untuk mengeluarkan hal-hal yang sangat ingin dibagi. Oleh karena pada hari ini, kita bebas untuk memilih kriteria, maka salah satu yang paling ingin saya bagi adalah penulis-penulis yang bukunya baru saya baca tahun ini, dan langsung membuat saya jatuh cinta ATAU penulis yang berkat buku-buku yang saya baca tahun ini membuat saya menobatkannya menjadi salah satu penulis favorit. Karena itu, judul dari postingan ini menjadi Top Five Newly Crowned Favourite Authors.

Saat membaca sebuah buku, kita akan membaca ‘jiwa’ di dalamnya. Ada kalanya jiwa di dalam buku itu langsung terikat pada jiwa kita begitu saja, ada yang perlu diyakinkan dulu, ada pula yang ‘bandel’ dengan tetap menjadi ‘biasa saja’ meski telah berulang-ulang bertemu dengan jiwa tersebut. Neil Gaiman merupakan salah satu penulis yang membuat ‘jiwa’ tersebut terikat pada saya setelah pertama kali membaca bukunya, sedangkan penulis seperti Jodi Picoult mengikatkan ‘jiwa’ tersebut saat beberapa kali saya melihat kelebihan-kelebihan yang dimilikinya. Inilah lima penulis yang saya nobatkan sebagai penulis yang baru saya favoritkan tahun 2013 ini :

5. Ernest Hemingway

young man dressed in a uniform sitting on a chair facing the camera

Hemingway in 1918

white-haired, white-bearded man with striped shirt

Hemingway in 1950s

Sebenarnya saya bingung antara Hemingway dan George Orwell sebagai kandidat nomor lima (karena saya memiliki enam kandidat terkuat). Berkat sebuah novella distopia dan autobiografi, saya melihat Orwell lebih jelas, tetapi mungkin Hemingway lebih memiliki kehormatan untuk ‘benar-benar dinobatkan’ tahun ini. Meski sangat terpesona dengan The Old Man and the Sea yang merupakan salah satu buku terfavorit 2012, saya belum percaya begitu saja pada Hemingway. Bahkan saat tahun ini saya membaca A Farewell to Arms yang memberi kesan berbeda, saya belum bisa mengatakan saya menyukainya. Sampai ketika saya menutup halaman terakhir buku tersebut, ada perasaan hampa yang khas saat ‘jiwa’ kita tertinggal di dalam buku. Ernest Hemingway, dari dua bukunya yang sudah saya baca, saya nobatkan sebagai penulis favorit karena aftertaste yang ditinggalkannya pasca saya membaca bukunya, yang belum bisa terasa sebelum saya menutup halaman terakhir. (pic source)

4. Sapardi Djoko Damono

Berkat event membaca puisi yang diselenggarakan divisi event BBI bulan Juni lalu, saya mengenal Pak SDD. Dalam kumpulan Hujan Bulan Juni, saya terpesona terutama oleh puisi-puisinya yang ‘gelap’. Sampai setelah itu, saya menemukan kumpulan cerpen terbarunya di toko buku dan membelinya, dan sangat terpesona oleh gaya bahasa dan berceritanya di kumpulan cerpen Pada Suatu Hari Nanti. Berkat Pak SDD pula lah saya mulai ‘kembali’ pada penulis lokal kontemporer, mulai mencari-cari kembali penulis Indonesia yang bisa saya nikmati karyanya.

3. Luigi Pirandello

Luigi Pirandello 1932.jpg

Pirandello in 1932 (source)

Berkat rekomendasi dari kak AsDewi (dan review salah satu novel karya penulis ini), saya membaca play Pirandello, Six Character in Search of an Author di awal tahun ini. Dan kejutan, saya langsung menyukainya. Kata-katanya yang filosofis, quotable, absurditas idenya, serta kemampuannya menghidupkan sarkasme dalam dialog karakter-karakternya, membuat saya yakin bahwa saya harus membaca karya-karyanya yang lain suatu saat nanti.

2. J. K. Rowling

Event membaca ulang serial Harry Potter tahun ini memberikan pemahaman yang sangat berbeda terhadap buku ini. Jika saat pertama kali membacanya beberapa tahun yang lalu saya memandang Harry Potter sebagai kisah fantasi ‘biasa’, maka saat kedua kalinya membaca serial ini, saya dapat melihat secara terang kejeniusan Madam Rowling. Bukan hanya dunia yang dibangunnya yang luar biasa karena kekonsistenan dan kecocokannya dengan berbagai legenda dan mitos yang sudah ada, namun juga karena nilai-nilai yang disampaikannya–baik secara langsung maupun tidak–sangat menggugah untuk digali, lagi dan lagi. Yah, mungkin dia sendiri sesungguhnya bekas murid Hogwarts, siapa tahu. Sayangnya tahun ini saya belum berkesempatan membaca karya dewasanya, tahun depan saya harus membacanya.

1. Oscar Wilde

Apa yang menahan saya untuk membaca karya-karya Oscar Wilde sebelum tahun ini? Setumpuk timbunan sepertinya. Beruntung berkat event Let’s Read Play, saya mau tidak mau menyempatkan membaca karya Wilde (akhirnya!). Karya pertamanya yang saya baca adalah play yang sangat populer, The Importance of Being Earnest. Rasa penasaran mendorong saya untuk langsung membaca An Ideal Husband setelahnya, dan efeknya ternyata sangat dahsyat. Saya mengalami sesuatu yang bisa dikatakan sebagai author-hangover. Saya haus–tidak, saya sakau–dengan karya Wilde yang lain. Kemudian saat saya memutuskan membaca playnya yang paling tidak populer–Vera, or the Nihilists–demi menghilangkan sakau tersebut, dan saya gagal. Oscar Wilde telah memenangkan hati saya, lewat karakter-karakternya yang bijak dengan caranya sendiri, humoris yang berisi :’)

Saya tak sabar untuk membaca lebih banyak karyanya, terutama satu-satunya novel yang ditulisnya yang sudah ada di timbunan. Oya, jika ada yang sudah membaca review-review saya, saya menyatakan bahwa dalam beberapa karyanya dia memasukkan dirinya ke dalam salah satu karakternya, dan jika kalian sudah membaca Book Kaleidoscope 2013 hari pertama, kalian akan melihat hubungannya😉 (pic source)

Lihat lebih banyak kategori lain di sini.

8 responses to “Book Kaleidoscope 2013 : Newly Crowned Favourite Authors

  1. Yeaayy…ada pirandello.
    Aku juga suka banget sama Wilde, zee. Dan aku jatuh cinta hanya setelah baca si Dorian Gray itu. Sampe skr belum baca Ernest malah. Jadi penasaran

    • Makasih ya sudah dikenalin🙂
      Iya nih, udah ga sabar baca Dorian Gray. Eh, belum baca Hemingway? Coba The Old Man and The Sea aja dulu, tipis tapi dahsyat.

  2. Ernest Hemingway ganteng ya pas muda :v

    Entah kenapa aku masih belum bisa suka JKR karena Harpot, dan bau2nya malah lebih suka Robert Galb…ugh siapa namanya, padahal orangnya juga sama >_<

  3. Ernest Hemingway gantengggg pas muda😄
    cuman udah baca bukunya JKR aja –“

  4. Waa….ada bang Oscar! Doi memang pantas menyandang no. 1, karya2nya selalu bikin ketawa sekaligus kudu nampar seseorang yg sinis *teringat Lord Henry*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s