Scene on Three (26) + 2nd Blogoversary Giveaway

SceneOnThree

Tepat di tanggal 13 Januari 2014, Bacaan B.Zee resmi berusia dua tahun. Tak terasa sudah dua tahun pula saya bergabung dengan BBI, mengalami perkembangan dan pengayaan dalam hal buku dan membaca. Selama dua tahun, blog ini telah menjadi wadah saya untuk menuangkan segala hal tentang buku yang biasanya sulit saya bagi dengan orang-orang di sekitar saya.

Sebagai wujud rasa syukur atas dua tahun yang menyenangkan bersama BBI dan para pengunjung Bacaan B.Zee, baik silent reader maupun yang sekali waktu berkomentar, maka saya ingin mengadakan giveaway kecil-kecilan. Sebelum saya jelaskan mengenai tata caranya, kita kembali dulu ke Scene on Three, yang kali ini saya ambil (lagi) dari buku Anne of Avonlea by Lucy Maud Montgomery.

“Thomas Lynde tidak pernah memiliki kekuatan untuk berusaha. Ibunya menyetir Thomas dengan begitu ketat hingga dia menikah, kemudian Rachel melanjutkannya. Aku heran dia berani sakit tanpa meminta izin pada Rachel. Tapi, tentu saja aku tidak boleh berkata demikian. Rachel adalah istri yang baik untuknya. Thomas tidak akan pernah berhasil dalam apa pun tanpa Rachel, sudah pasti. Thomas dilahirkan untuk diperintah orang, dan karena itulah dia cocok di tangan seorang manajer yang cerdas dan ahli seperti Rachel. Dia tidak berkeberatan dengan cara-cara Rachel. Rachel menyelamatkannya sehingga dia tidak perlu berpikir keras untk memutuskan segala sesuatu.” (p.307)

Kembali lagi ke giveaway, syaratnya mudah saja: beri komentar mengenai scene yang saya bagi di atas. Jawab sebaik dan sekreatif mungkin. Satu jawaban yang saya anggap paling baik dan kreatif akan mendapatkan voucher buku senilai Rp50.000,- (di luar ongkos kirim, hanya untuk wilayah Indonesia). Mudah, bukan?

Setiap orang hanya boleh menjawab satu kali saja, jangan lupa menyertakan alamat email sehingga saya bisa menghubungi jika terpilih menjadi pemenang. Jawaban ditunggu sampai dengan tanggal 20 Januari 2014, di mana pun kalian berada, patokannya adalah time stamp pada komentar yang kalian tinggalkan, selama masih bertanggal 20 atau kurang, berarti masih sah. Pemenang akan diumumkan pada 23 Januari 2014, bertepatan dengan Scene on Three selanjutnya.

Keputusan saya memang sangat subjektif, tetapi tetap tidak bisa diganggu gugat. Selamat berkreasi, semoga beruntung.

Jika berkenan mengikuti Scene on Three, begini caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

15 responses to “Scene on Three (26) + 2nd Blogoversary Giveaway

  1. Menurut saya:
    Thomas Lynde ini orang yang tidak memiliki pendirian teguh dan kepercayaan pada diri sendiri. Apapun yang ia jalani dan akan jalani dilakukan atas perintah/putusan orang lain seperti ibunya dan istrinya. Sifatnya ini tak terlepas dari pengaruh lingkungan dan didikan sedari kecil. Hikmah yang dapat diambil mungkin: cobalah memberi kebebasan pada seorang anak agar dapat memilih jalan hidupnya sendiri. Meski memberi kebebasan, orang tua tetap membimbing, namun tidak mengekang. Agar kelak anak setelah dewasa memiliki kepribadian dengan pendirian teguh. Mungkin ^_^

  2. Satu hal tentang Thomas Lynde, orang ini unik! Kita tidak bisa menyalahkan mengapa dia menjadi orang dewasa yang gampang disetir karena lingkungan yang membuatnya demikian, Ia terlahir dari ibu yang begitu penyayang, yang saking sayangnya sehingga sang ibu merasa bertanggung jawab untuk memutuskan apa-apa yang boleh.tidak untuk putranya. Setelah menikah pun, Thomas jatuh ke istri yang mirip dengan ibunya. Ini sekali lagi membuktikan kecenderungan sebagian (kalau tidak seluruhnya) pria yang sering kali mencari pasangan hidup yang menyerupai ibunya, terutama jika sosok ibu begitu dekat di masa kecil dan remajanya. Tapi, kalo gini kan ya susah hihihi

    salam dari yuliantodion@gmail.com

  3. menaati orangtua itu hukumnya wajib, namun jangan lupa jika kita pula lah yang nantinya akan bertanggungjawab atas kehidupan kita sendiri. mampu menentukan pilihan hidup yang terbaik dan bertanggung jawab penuh atasnya adalah tanda bahwa kita sudah dewasa
    nariswariputrii@gmail.com

  4. Pingback: Scene on Three [2] | Me: Book-admirer

  5. Rasanya terlalu menghakimi kalau saya bilang Thomas Lynde karakter yang buruk, karena dia lemah dan tidak mandiri. Memang dia adalah karakter fiksi, tapi di dunia nyata juga banyak orang yang memiliki karakter seperti Thomas Lynde (karakter para suami di sitkom Suami-suami Takut Istri bisa disamain nggak yah? :-p). Saya mencoba memandang segi positifnya, bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu seimbang. Kalau seorang pria “lemah” maka Tuhan memberikan istri yang lebih kuat. Memang kesannya nggak adil dan aneh kalo pria yang seharusnya jadi kepala rumah tangga malah lebih lemah daripada istrinya. Tapi dalam kasus seperti Thomas & Rachel Lynde, kalo memang mereka saling mencintai dan bisa hidup sekian lama sebagai suami istri, lalu apa yang salah? Saya cuma pernah baca versi manga dari seri Anne, dan saya ingat memang ada satu adegan di mana Thomas mengakui bahwa Rachel istri yang baik. Walaupun pada kenyataannya Rachel cerewet dan tukang gosip, Thomas mencintai istrinya sedemikian rupa sehingga ia bisa bilang bahwa istrinya “baik”.

    email-ku: elsa_maran at yahoo dot com

  6. Tokoh yang dibentuk Lucy M Montgomery ini pada kenyataannya memang ada. Orang yang terbiasa di atur sejak kecil pada akhirnya akan merasa lebih nyaman hidup dengan aturan itu. Orang yang biasa dikendalikan saat diserahi kendali untuk mengatur dirinya sendiri akan kehilangan orientasi.
    Akan baik jika orang seperti ini dikendalikan oleh orang yang baik dan memang sayang padanya.

    Seingat saya Thomas Lynde (terakhir baca buku ini tuh sekitar 2-3 tahun yang lalu), memang anak laki-laki yang sangat menyayangi ibunya. Dia menyerahkan kendali hidupnya pada sang ibu karena bagi dia itu cara untuk membuat ibunya bahagia. Dan kemudian ia pun menikah dengan Rachel atas pilihan ibunya. Bagi saya mungkin menurut Thomas itu adalah cara yang terbaik untuk membahagiakan ibunya dan membuat dia tenang. Dan saya pernah bertemu dengan orang yang memiliki karakter dan kehidupan seperti Thomas Lynde. Saat saya tanya, jawabannya kurang lebih sama seperti di atas (^_^)v

  7. Sejujurnya aku belum pernah baca buku-buku Anne.. tapi satu hal yang kunilai dari scene di atas tentang Thomas Lynde adalah: he’s not a husband material😄 buatku, laki-laki harusnya bisa menentukan kemauannya sendiri, dan tahu bagaimana mencapai tujuannya itu. meminta pendapat dari ibu tentu sah-sah saja, dan istri juga mempunyai peranan penting setelah si lelaki menikah. tapi disetir sepenuhnya oleh lingkungan? uhmmm…not my kind of guy!😄

  8. Hmmm…sebetulnya saya pengen jawab kalau komentar sy idem sama komentar-komentar di atas digabung jadi satu *dikeplakBzee*😀
    Saya belum pernah membaca Anne of Avonlea, tapi berdasarkan pengalaman saya membaca buku2 klasik, saya tidak akan percaya 100 % dg pendapat salah satu tokoh terhadap tokoh2 lainnya.
    IMO, kadang2 pendapat mereka terhadap sesuatu bisa berlebihan.
    Yang saya tangkap dari scene di atas adalah scene tersebut merupakan pendapat orang lain terhadap Thomas. Mungkin saja orang tersebut adalah orang dekat Thomas, tapi bukan berarti dia Thomas sendiri. Dari caranya bicara sepertinya dia sudah ‘men-judge’ kalau hidup Thomas tidak akan berhasil tanpa arahan ibunya dan Rachel. Padahal belum tentu juga kan.
    Yaah, kalaupun benar Thomas memang sangat tergantung dg ibu dan istrinya, asal Thomas bahagia aj *apacoba*, saya rasa tidak masalah. Terlepas dari hal itu benar atau tidak, saya hanya
    sebal dengan orang yang suka ‘men-judge’ hidup orang lain sebelum memberi orang tersebut kesempatan untuk membuktikan dirinya.
    Toh mungkin dia tidak pernah melihat bagaimana hidup Thomas tanpa Rachel dan ibunya, kan? Mungkin saja Thomas ternyata punya pendirian yang kuat.
    Eh, kok saya yang sewot sendiri ya, hehehe. Terserah tokoh itu juga kali mau berkomentar apa tentang hidup Thomas.
    Yang pasti, saya tidak akan ‘men-judge’ hidupnya Thomas sebelum saya ‘mengenal’ bagaimana si Thomas itu sendiri (˘▿˘)ง
    ira.j1f108056@gmail.com

  9. hahahaha.. gua ketawa di bagian ini nih, “aku heran dia berani sakit tanpa meminta izin pada rachel.

    ada orang yang suka mengatur, ada orang yang suka diatur, kalau semua orang di dunia ini ‘sama’, dalam artian “lelaki”-nya itu sukanya ‘mengatur’ istri, kasian donks rachel, dia khan sukanya ‘memerintah’ dan ‘mengatur’ suaminyaa.. bisa2 stress karena dapat suami yang ngga bisa diatur dan hanya mau mengatur dirinya, ahahahahaha😄

    gua pikir pasangan yang ‘sepadan’ itu ngga melulu yang harus sama2
    ‘sempurna’ tapi lebih kepada yang saling melengkapi satu sama lain sehingga in a ‘weird’ way yang mungkin ngga dimengerti banyak orang yang hanya melihat permukaannya aja, mereka justru ‘cocok’😉

    indah79ers (at) yahoo (dot) com

  10. Anne of Avonlea ini sepertinya Anne 2 yah, seingatku. Sejauh ini aku setuju sama jawaban mbak melmarian, menurutku manusia itu memang diciptakan berbeda-beda karakternya. Walau tentu saja lingkungan dan kondisi juga sangat memengaruhi. Bahkan sekalipun lingkungan sama, sifat bisa berbeda, contohnya saja saudara, seperti kakak dan adik bahkan saudara kembar sekalipun, ehem maaf saya mulai melantur.

    Intinya, menurut saya hubungan Thomas dan Rachel justru saling melengkapi seperti Yin dan Yang, makanya mereka akur, apa yang kurang di Thomas, ada di Rachel dan apa yang kurang di Rachel ada di Thomas. Bayangkan seandainya Thomas ini sama seperti Rachel, bisa-bisa mereka ribut hebat setiap hari, walau kesannya Thomas lemah dan tidak ada pendirian, tapi saya rasa dia justru lega, karena dia tidak perlu mengambil keputusan. Dan kalau Rachel juga sama seperti Thomas, mau kemana arah rumah tangga mereka. Seseorang yang dominan akan cocok dengan yang submisif. Saya punya teman yang suka ngatur, tapi karena pacarnya cenderung pengalah, mereka baik-baik saja.

  11. Aku rasa Mr. Thomas Lynde pasti senang diobrolkan seperti itu. Maksudku, sebagai orang yang tak terbiasa bekerja keras dia bisa terkenal tanpa perlu bekerja keras! Dan yang pasti popularitasnya tersebut tidak dibangun dari hal-hal yang melanggar hukum. Aku sudah membaca banyak sekali kisah hidup selebriti, mereka harus bekerja keras untuk bisa dikenal orang, kadang sampai membuat “drama” yang sensasional, sementara Mr. Lynde… Dia hanya cukup menjadi dirinya sendiri dan patuh pada ibunya!

    Betapa sederhananya!

    Dan mungkin karena selalu patuh pada ibunya (surga itu ada di telapak kaki ibu, bukan?), hidup Mr. Lynde selalu mudah! Dia tak perlu berpura-pura jadi orang lain. Dia tak perlu khawatir bakal terinfeksi stres, atau setidaknya kemungkinannya kecil dia terserang hal itu, sebab semua hal (mungkin) tak perlu melalui pertimbangannya. Dia mendapatkan Rachel sebagai istrinya yang secara presisi melengkapinya (atau lebih tepatnya lagi saling melengkapi satu sama lain). Dan yang terpenting adalah…

    Adegan di atas jelas secara gamblang membuktikan bahwa hidup Mr. Thomas Lynde—hingga jadi bahan pergunjingan—nyaman, damai, tenteram dan bahagia. Kebahagiaan yang kemudian berkorelasi dengan kebahagiaan ibunya, wanita yang mana telah bertaruh nyawa demi memperlihatkan betapa indahnya dunia padanya! :’D

    Salam,
    Jun
    reatheryan(@)gmail(.)com

  12. Pingback: LINK OF THE WEEK #3 | Ira Book Lover

  13. Alfindy Agyputri

    Hai, kak. Aku ikutan, ya! Happy anniversary, anyway. Stay awesome!😀

    Pathetic. Jujur, kata itu yang pertama kali muncul pas aku baca scene itu. Aku nggak pernah baca novelnya sebelumnya, cuma dari satu paragraf yang kakak kutip itu, udah langsung kebaca karakternya si Thomas. Ya itu, pathetic a.k.a. menyedihkan. Kenapa? Hidup ini emang Tuhan yang atur, tapi Tuhan aja kasih kita kebebasan buat memilih dan membuat keputusan sendiri.

    Kita emang bisa pasrah ama Tuhan, tapi Tuhan tetep motivasi kita buat berusaha dalam hidup. Nah, masa si Thomas ini cuma pasrah aja sama kehendak orang lain dalam hidupnya? Okelah, kalo dia merasa keputusan orang lain itu (ibu dan istrinya) emang yang terbaik untuk dia. Tapi, dia kan nggak bisa selamanya begitu. Kalau kita terlalu bergantung sama seseorang atau sesuatu, saat seseorang atau sesuatu itu udah nggak ada, kita jadi nggak ada pegangan, dong? Jadi kayak kapal yang nggak punya jangkar, pas badai langsung terombang-ambing dan akhirnya tenggelam.

    Aku emang mendukung emansipasi, tapi aku bukan pendunkung feminisme (yang udah melenceng). Menurutku, dalam keluarga, istri tetep nggak boleh sepenuhnya mendominasi. Suami tetep punya peran pegang kendali. Keluarga itu satu kesatuan dari dua orang, dan dua-duanya punya peran masing-masing. Jadi, Thomas seharusnya nggak sepenuhnya tunduk sama Rachel begitu. Kalo tunduk sama ibu, okelah, tapi ada batasnya juga, kan. Ada saatnya seorang anak harus berdiri dengan kakinya sendiri, nggak bergantung sama orangtuanya terus.

    Oke, cukup ceramahnya. Hehehe. Mohon maaf kalau ada kesalahan kata atau menyinggung perasaan. Sekian dan terima kasih! May the best one wins😀

    alfindy.agyputri@gmail.com

  14. Thomas memiliki sikap yang sangat salah. Sebagai pria, dia seharusnya sudah bisa menentukan jalan hidupnya sendiri tanpa campur tangan secara besar oleh orangtua. Pasti, tentunya peran orangtua sangat dibutuhkan, namun tidak sampai berlebihan hingga harus menggunakan kata ‘menyetir’ kehidupan Thomas. Dia pria yang sudah menikah, sudah seharusnya dia memimpin keluarga barunya, dia yang merencanakan segala sesuatunya, bukan malah sebaliknya. Untung istrinya memang punya bakat menjadi manajer, tetapi sebagai istri juga tidak pantas mengatur dan memerintah suaminya. Seharusnya Rachel dapat mengubah perilaku Thomas, walau perlahan-lahan, agar kelak rumah tangganya awet. Istri pastinya menginginkan suaminya menjadi pemimpin keluarga yang baik🙂

    @meliarawr ameliaura66@gmail.com

  15. Pingback: Scene on Three (27) + Giveaway Winner! | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s