Germinal – Émile Zola

2042370Title : Germinal (Les Rougun-Macquart #13)
Author : Émile Zola (1885)
Translator : Larry Duffy
Publisher : Wordsworth Classics (2007)
Format : Paperback, xviii + 478 pages

‘It will end; one day we shall be the masters!’ (p.134)

Germinal menceritakan kehidupan pekerja-pekerja tambang batu bara di Perancis pada abad ke-19, khususnya di distrik Montsou. Saat itu, upah pekerja sangat minim sehingga semakin banyak anggota keluarga yang bekerja, semakin banyak pemasukan yang bisa mereka peroleh, meski itu berarti semakin banyak pula mulut yang harus diberi makan. Pernikahan di usia muda merupakan momok bagi orang tua, karena itu berarti berkurangnya sumber pemasukan di dalam keluarga mereka.

Di tempat semacam itulah Étienne Lantier datang dan mencari pekerjaan. Di sana, Étienne melihat kenyataan hidup, bagaimana para pekerja bangun sebelum matahari terbit, turun ke penambangan, dan baru pulang setelah matahari tenggelam, tetapi tetap tak bisa membuat perut mereka cukup kenyang tanpa berhutang kesana kemari. Belum lagi masalah kesehatan yang mereka alami karena menghirup debu tambang setiap hari, juga standar keamanan yang kurang, yang tak menghindarkan mereka dari risiko kematian saat bekerja.

Salah satu keluarga pekerja yang menjadi sorotan dalam buku ini adalah keluarga Maheu, yang terdiri atas suami-istri Maheu dan Maheude, seorang kakek, serta tujuh orang anak. Meski hidup dalam kondisi kekurangan, pasangan ini memegang teguh prinsip mereka. Maheu, yang awalnya digambarkan kasar dan temperamental, bekerja keras untuk keluarga dan berdedikasi pada apa yang dikerjakannya. Sedangkan Maheude sebagai pengelola keuangan rumah tangga, sebisa mungkin menghemat dan mencari tambahan-tambahan sendiri tanpa harus merendahkan diri dengan meminta-minta ataupun menjual kehormatan diri keluarga dan anak-anaknya.

Hidup berjalan sangat sulit, sampai suatu kecelakaan tambang yang nyaris mematikan, juga adanya penyesuaian upah yang merugikan pekerja, menyulut suatu gerakan pemberontakan. Para pekerja yang digerakkan oleh Étienne dan Maheu melakukan mogok kerja yang menuntut standar upah mereka dinaikkan. Pemilik yang sedang dalam masa sulit pun tidak bisa memenuhi tuntutan para pekerja, yang mengakibatkan tidak adanya kegiatan penambangan selama berminggu-minggu.

Menganggur dan lapar adalah kombinasi yang mengerikan bagi para pekerja. Akankah mereka sanggup bertahan sampai tuntutan mereka dikabulkan, ataukah mereka akan menyerah dan kembali ke kehidupan yang tak manusiawi? Bisakah mereka tetap bersatu demi mewujudkan cita-cita kehidupan bermasyarakat yang lebih baik, atau pada akhirnya perut yang lapar menuntut mereka untuk menomorsatukan diri dan keluarga mereka sendiri?

‘Trouble is, you see, when you say to yourself that it won’t change. When you’re young you think that happiness will come some time, you hope for things; and then the wretchedness begins always over again, and you get shut up in it. Now, I don’t wish harm on anyone, but there are times when this injustice makes me mad.’ (p.151-152)

‘It don’t do to turn up your nose at anything. A good glass is a good glass. The bosses, well, they’re often scum; but there always will be bosses, won’t there? What’s the use of racking your brains over those thinks?’ (p.152)

Sebagai pelopor gaya naturalis dalam dunia literasi, Zola benar-benar menampilkan kehidupan di area pertambangan secara ‘telanjang’. Dia menggambarkan segala sesuatu sebagaimana adanya, tanpa terlalu banyak metafora, perumpamaan, maupun penghalusan. Hidup yang bermoral, hidup yang penuh kebejatan, sikap yang baik, sikap yang memuakkan, semuanya dirangkum dengan lengkap dan dijalin tanpa kehilangan keindahan bahasanya.

Meski berfokus pada masalah masyarakat pekerja kelas bawah, Zola juga menunjukkan masalah-masalah yang dihadapi oleh kaum borjuis, seolah mengajak pembaca untuk memutuskan, masalah mana yang lebih serius, masalah siapa yang lebih penting.

‘You want five centimes, and I agree that the work is worth it. Only I can’t give it. If I gave it I would simply be done for. You must understand that I have to live first in order for you to live. And I’ve got to the end, the least rise in net prices would bring me down. …’ (p.273)

Buku ini sangat emosional dengan caranya sendiri. Dia tidak memukau dengan kata-kata indah, tidak pula dengan adegan-adegan atau deskripsi-deskripsi yang muluk. Buku ini memberi saya perasaan jungkir-balik karena kenyataan yang digambarkannya, kenyataan yang bisa jadi merupakan hal yang tidak harus terjadi, atau mungkin tidak harus digambarkan, tetapi digambarkan oleh penulis dengan gamblang. Tambahan-tambahan detail yang terkadang memutar isi perut, karakter-karakter yang begitu mudahnya didekatkan sekaligus dijauhkan dari pembaca, merupakan hal yang tidak asing dari karya-karya penulis yang satu ini.

Berkali-kali dalam buku ini, penulis menyoroti pergulatan antara idealisme dengan nafsu, mengadu hati nurani dengan perut yang lapar, serta mempertanyakan apa yang sudah dijalani dari generasi ke generasi. Dalam hal ini, Étienne sebagai penggerak revolusi sekaligus sebagai orang luar yang pernah mengenyam pendidikan yang relatif lebih baik, yang menjadi tolok ukur. Masyarakat Montsou yang sudah terbiasa dengan cara dan kebiasaan tertentu mendapatkan pandangan yang berbeda dari Étienne, begitu pula sebaliknya. Puncaknya adalah saat kekacauan berada pada titik yang mengkhawatirkan, dan Étienne menyadari bahwa mungkin ada sesuatu yang tidak dipahaminya, yang luput dari perhitungan dan harapannya.

… It shook his revolutionary beliefs, the courage to kill, the right to kill. Was he, then, a coward? (p.381)

Seolah mengalir begitu saja, buku ini menceritakan kejadian demi kejadian, waktu demi waktu, tanpa penekanan pada bagian ataupun peristiwa tertentu. Hal yang baru saya sadari saat membuat review ini adalah bahwa buku ini ternyata begitu ‘penuh’. Setiap kejadian merupakan potret dan setiap peristiwa mengandung pesan yang hendak ditunjukkan kepada para pembacanya. Ini adalah salah satu buku yang menampakkan kehebatannya setelah saya selesai membacanya.

4/5 bintang untuk kemajuan, bagaimanapun bentuknya.

‘Never has violence succeeded; the world can’t be remade in a day. Those who have promised you to change it all at one stroke are either jokers or scoundrels!’ (p.407)

Review #17 of Classics Club Project

6 responses to “Germinal – Émile Zola

  1. ‘jungkir balik’ dan ‘memutar isi perut’ <== wkwkwkwk!
    Begitulah Zola… Tapi kalau mau yang bikin perut bukan cuma diputar, melainkan dipelintir sampe perih, coba baca L'Assommoir. Aku beneran shock berhari-hari abis baca itu.😉

  2. Pingback: Scene on Three (28) | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Zoladdiction 2014 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s