The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo

Title : The Miraculous Journey of Edward Tulane (Perjalanan Ajaib Edward Tulane)
Author : Kate DiCamillo (2006)
Illustrator : Bagram Ibatoulline
Translator : Dini Pandia
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, November 2006
Format : Paperback, 188 pages

Kelinci porselen itu bernama Edward Tulane. Seluruh tubuhnya terbuat dari porselen, dengan siku dan lutut yang disambung kawat sehingga bisa ditekuk, telinga dan ekor dari bulu kelinci asli, serta mata yang dicat biru. Pemiliknya adalah seorang gadis sembilan tahun bernama Abilene Tulane yang menyayangi Edward sepenuh hati, memperlakukannya seperti makhluk hidup. Setiap hari Edward didandani sedemikian rupa, ditempatkan di dekat jendela saat Abilene ke sekolah, mendudukkannya di meja makan dan melibatkannya dalam pembicaraan seolah Edward ikut mendengarkan. Sesungguhnya, Edward tidak pernah memperhatikan hal-hal yang terjadi di sekitarnya, dia hanya mengagumi dirinya, dan merasa istimewa karena perlakuan yang didapatkannya.

Suatu hari, Pellegrina—nenek Abilene, menceritakan kisah seorang putri yang sangat cantik:

Zaman dahulu ada putri yang sangat cantik. Ia gemerlapan bagai bintang-bintang di langit tanpa bulan. Tapi apa bedanya bahwa ia cantik? Nihil. Tak ada bedanya.
“Kenapa tidak ada bedanya?” Abilene ingin tahu.
“Karena,” jawab Pellegrina, “ia putri yang tidak menyayangi siapa pun dan tak peduli pada rasa sayang, meskipun banyak yang menyayanginya.”
(p.31)

Di akhir kisahnya, Pellegrina berbicara dengan Edward, seolah dia tahu bahwa Edward mendengarkannya, bahwa kelinci porselen itu mengecewakan dirinya.

Hari berikutnya, suami-istri Tulane bersama Abilene melakukan perjalanan dengan kepal menuju Inggris. Abilene yang tidak bisa berpisah jauh dari Edward ikut membawa kelinci tersebut. Namun, di tengah perjalanan, sesuatu menyebabkan Edward terjatuh ke laut, tenggelam ke dasarnya selama berbulan-bulan, sampai dia tersangkut di jaring seorang nelayan.

Edward pun dirawat oleh istri sang nelayan, diperlakukan sebagaimana anaknya sendiri, diajak bicara sebagaimana Abilene biasa mengajaknya bicara. Akan tetapi, saat itu ada yang berubah dalam diri Edward.

Dan Edward terkejut saat mendapati ia memang mendengarkan. Sebelum ini, kalau Abilene bicara padanya, semua terasa begitu membosankan, begitu tak berguna. Tapi sekarang, kisah-kisah yang diceritakan Nellie bagai sesuatu yang paling penting di dunia dan ia mendengarkan seolah hidupnya tergantung pada apa yang dikatakan wanita tua itu. Ia jadi bertanya-tanya apakah kepala porselennya kemasukan lumpur laut sehingga jadi rusak. (p.67)

Saat Edward mulai merasa nyaman dengan pasangan nelayan itu, dia kembali menemukan dirinya terhempas ke tempat yang tidak seharusnya, sampai dirinya ditemukan oleh seorang gelandangan yang memiliki seekor anjing. Petualangan Edward tidak berhenti, beberapa kali dia terbuang, ditemukan, disayangi, dan dihilangkan. Edward yang mulai mengenal perasaan sayang, perasaan nyaman, kemudian harus mengalami kehilangan, mulai mengerti apa yang dipersalahkan oleh Pellegrina.

Sampai sejauh mana perjalanan Edward, sampai kapan dia mengalami kehancuran, dan akankah dia bisa bertahan terus menyayangi meski berkali-kali menjadi sakit karenanya?

Buku anak-anak dengan ilustrasi cantik yang menghiasi pada beberapa halamannya ini tak sesederhana alurnya. Setiap perjalanan yang ditempuh oleh Edward adalah potret dari kehidupan kita, bagaimana sekiranya hidup akan membawa kita, seiring pertambahan usia, seiring banyaknya orang-orang yang kita temui, seiring peristiwa-peristiwa yang kita lihat dan alami. Edward yang saat bersama Abilene ibarat ‘bayi’ yang tak memikirkan apa pun selain kebutuhannya sendiri, didewasakan oleh bulan-bulan kegelapan yang dialaminya di dasar laut.

Perjalanannya mengenalkan Edward pada perasaan dan emosi. Dia mengenal rasa sayang, marah, kecewa, sedih, bahagia, sampai perasaan hampa. Dia pernah disayangi, pernah disia-siakan, pernah sendirian, pernah dimanfaatkan. Fase-fase yang dialami oleh Edward terasa dekat dengan kita, bukan hanya fase dalam masa kanak-kanak, bahkan fase kehidupan pada masa dewasa. Saya jadi berpikir bahwa hidup memberikan masalah yang pada intinya sama, namun dengan tingkatan yang disesuaikan dengan usia. Saat kanak-kanak, mungkin kehilangan sebuah mainan dapat berarti kesedihan yang sangat besar. Saat dewasa pun, kita akan diuji dengan kehilangan, jika kehilangan benda tak lagi membuat kita sedih, mungkin kehilangan seseorang akan menjadi ujian kita berikutnya. Begitu seterusnya.

“Tapi jangan khawatir, sobatku. Tidak usah cemas. Aku berniat memenuhi janjiku. Aku akan mengembalikan kau ke keadaan yang menurut dugaanku merupakan kondisi terbaikmu. Kau akan punya telinga dan ekor bulu kelinci. Kumismu akan diperbaiki dan diganti, matamu dicat ulang jadi biru terang dan memesona. Kau akan mengenakan setelan paling bagus.
“Lalu, suatu hari nanti, aku akan menuai hasil investasiku padamu. Semua ada waktunya. Semua ada waktunya. Dalam bisnis boneka, ada pepatah: ada saat sungguhan dan ada saat boneka. Kau, temanku yang bagus, telah memasuki saat boneka.”
(p.159-160)

5/5 bintang untuk fabel cantik yang universal.

Januari #1 : Fabel

Review #1 of Children’s Literature Reading Project

Review #1 for Lucky No.14 Reading Challenge  category It’s Been There Forever

Review #1 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

25 responses to “The Miraculous Journey of Edward Tulane – Kate DiCamillo

  1. Buku favorit ku =* Coba baca buku lainnya DiCamillo Mbak, kerennya sama

  2. Aku pengen baca ini gegara nongol di drama korea,…😉

  3. Hoa, kayaknya bagus bukunya…selalu suka sama buku2nya DiCamillo. Kemarin baru dapet Newbery lagi zee, jadi penasaran sama buku barunya🙂

  4. Edwardnya bling bling juga nih, pan dari porselen x)) mau punya bukunya huwaa pasti seru apalagi ada ilustrasinya

  5. Jadi pengen baca karya Kate ini. Nyari pinjaman ah… #gamodal

  6. tolong kasih saran dong belinya dimana???
    aku tinggal di medan

    • Yang terjemahan sudah susah nyarinya, mungkin masih ada di penjual buku bekas. Kalo mau yg bahasa Inggris aku lihat di opentrolley.co.id masih ada, atau coba berburu di online shop lain.

  7. iya susah banget cari buku terjemahanx dimana2 udh ga ada lagi yang jual ;(

  8. Aku nggak sengaja liat buku ini di toko buku & baru sadar ini buku aku liat di drama korea, untungnya dapat yang versi terjemahan (kalu masih original, kudu mikir dua kali ) tanpa buang waktu aku beli buku ini.
    Jujur setelah baca buku ini, banyak banget pelajaran & renungan buat kita, walaupun buku ini bisa dibilang buku dongeng anak-anak.

  9. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  10. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s