The Cuckoo’s Calling – Robert Galbraith

18802299Title : The Cuckoo’s Calling (Dekut Burung Kukuk)
Author : Robert Galbraith (2013)
Translator : Siska Yuanita
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 520 pages

Cormoran Strike adalah seorang detektif partikelir yang bisa dikatakan ‘berantakan’. Dia adalah veteran angkatan darat yang kehilangan setengah tungkainya, dengan pekerjaan yang belum bisa menghidupinya secara layak, baru saja memutuskan hubungan tak sehat selama bertahun-tahun dengan kekasihnya, Charlotte—yang berarti pula dia harus angkat kaki dari apartemen Charlotte yang selama ini ditinggalinya. Jadi, saat Robin Ellacott yang merupakan sekretaris yang dikirim oleh Temporary Solutions tiba, Strike dalam kondisi keuangan yang tidak memungkinkannya menggaji Robin, juga tidak memiliki tempat tinggal sehingga harus bermalam di kantornya. Beruntungnya, Robin adalah gadis yang cerdas dan efisien. Dia sangat bersemangat begitu mengetahui bahwa tempat kerja sementaranya adalah kantor seorang detektif—impiannya sejak kecil, pun suasana hatinya sedang baik karena dia baru saja dilamar oleh kekasihnya, Matthew.

Keberuntungan tampaknya tak jauh-jauh dari Robin, karena di hari pertama kedatangannya, Strike mendapatkan seorang klien yang sanggup membayar mahal, yang memberinya harapan untuk bisa melunasi hutang dan menggaji Robin secara layak. Strike sangat puas dengan cara kerja Robin yang sangat membantunya dalam banyak hal pada penyelidikannya. Robin juga sangat profesional dengan berusaha tak mencampuri area pribadi Strike; berpura-pura tak tahu kalau Strike bermalam di kantor, kondisi keuangannya yang menyedihkan, juga kenyataan bahwa Strike adalah putra tak sah seorang musisi terkenal dengan ibu seorang grupies yang meninggal karena overdosis.

Klien Strike adalah John Bristow yang memintanya menyelidiki kematian adiknya, seorang supermodel bernama Lula Landry, beberapa bulan sebelumnya. Pengadilan memutuskan kasus Lula sebagai bunuh diri, tetapi Bristow tidak puas, dia yakin Lula dibunuh dan berkeras dengan bukti rekaman CCTV dua orang pelari yang muncul sesaat setelah Lula jatuh dari balkon apartemennya.

Penyelidikan yang mulanya berupa wawancara dengan pihak-pihak yang berhubungan, mencari alibi dan motif, serta mengulik bukti dan modus, menjadi jauh lebih dalam lagi. Strike mau tidak mau berhubungan dengan orang-orang di sekitar Lula, dengan berbagai karakteristiknya. Strike terseret dalam kehidupan Lula Landry, yang jauh berbeda dari kehidupan yang dijalaninya, sekaligus sama bermasalahnya dengan kehidupannya sendiri.

Buku ini merupakan perpaduan yang apik antara kisah detektif dan kisah kehidupan. Sebagai detektif, Strike sebenarnya sangat tahu apa yang dia lakukan. Di balik kehidupannya sendiri yang kacau, dia bisa mengendalikan diri dan tetap profesional dalam bekerja. Kita disuguhkan wawancara-wawancara yang unik, dengan orang-orang yang mungkin berbohong, yang mengalihkan pembicaraan ke kehidupan pribadi Strike, yang mengatakan kebenaran dengan ragu-ragu, yang memberi informasi tak jelas, tetapi ternyata Strike dapat menyaring semuanya dengan baik.

“Kebohongan tidak akan masuk akal, kecuali kebenaran mengandung bahaya yang setara.” (p.186)

Tak hanya mengumpulkan fakta, Strike juga dihadapkan pada emosi orang-orang di sekitar korban maupun keluarganya. Ada yang marah dan tak suka dengan penyelidikannya, ada yang berharap dengan muluk, ada juga yang berusaha mengarahkan penyelidikan ke arah yang sesuai dengan kepentingannya.

“Orang-orang yang berdekatan dengan peristiwa bunuh diri sering kali merasa bersalah. Mereka merasa, kadang-kadang tanpa alasan yang masuk akal, bahwa seharusnya mereka bisa lebih membantu. Putusan pembunuhan akan membebaskan keluarga dari rasa bersalah itu, bukan” (p.230)

Kemudian, tiba-tiba tanpa saya sadari, Strike sudah tiba pada suatu titik dimana informasi yang didapatkan sudah cukup. Dan bukan hanya mengetahui siapa pembunuh Lula Landry, Strike pun seperti telah mengenal dekat supermodel itu, berkat informasi-informasi yang didapatkannya dari orang-orang terdekat Lula.

Yang mati hanya bisa berbicara melalui mulut orang-orang yang ditinggalkan, dan melalui tanda-tanda yang terserak di belakang mereka. Strike telah merasakan seorang perempuan yang hidup di balik kata-kata yang dia tulis untuk teman-temannya; dia telah mendengar suara gadis itu di telepon yang menempel di telinga; namun sekarang, ketika menatap hal terakhir yang dilihat Lula dalam keadaan hidup, Strike merasa sangat dekat dengannya. Kebenaran berangsur-angsur muncul dari banyaknya detail yang tidak saling terkait. Yang tidak dia miliki hanyalah bukti. (p.325)

Awalnya saya agak terganggu dengan bahasa terjemahannya. Terutama deskripsi ruang yang panjang dan rinci, malah membuat kepala saya semakin berputar, tak membantu saya untuk membayangkannya. Apalagi saat saya menemukan kata ‘talek’ di halaman 248 yang paling mengganggu. Mengapa tidak menggunakan kata ‘talk’ saja? Apakah itu hanya kesalahan ketik? Namun lambat laun, saya semakin bisa menangkap keindahan sekaligus ‘ke-apa-adanya-an’ terjemahannya. Bahasa kasar tetaplah kasar, tetapi saya masih bisa menemukan keindahan deskripsi yang diterjemahkan dengan cukup indah pula. Meskipun saya masih tidak bisa menerima penggunaan kata ‘talek’, sejauh ini terjemahannya tidak seburuk sangkaan awal saya.

Sebenarnya saya ingin sekali memberi buku ini lima bintang, tetapi dorongan itu semata-mata karena saya tahu siapa penulisnya. Dengan terpaksa, untuk saat ini, jika hanya melihat bukunya saja, saya hanya bisa memberinya 4/5 bintang. Artinya, saya sangat menyukai buku ini, tetapi tidak ada hal yang ‘menonjok’ ataupun mencengangkan saya. Tetapi mungkin di situlah kehebatan buku ini, dia bisa menyajikan sesuatu yang tampak ‘biasa’ menjadi ratusan halaman yang tidak membosankan untuk dibaca. Buku ini tidak diam setelah saya menutupnya, buku ini memberi banyak perenungan; tentang karakter manusia, lingkungan di luar kita, dan secara khusus, bagaimana penulis dengan jeniusnya menghubungkan Cormoran Strike dengan Lula Landry, sebegitu eratnya, padahal sekali pun mereka tidak pernah bertemu.

Leda, Lula, dan Rochelle bukanlah wanita-wanita seperti Lucy atau Bibi Joan; mereka tidak melakukan tindakan pencegahan yang perlu dilakukan terhadap kekerasan maupun kesempatan; mereka tidak melabuhkan diri pada kehidupan yang diisi cicilan rumah dan kerja sukarela, suami yang aman dan anak-anak yang berwajah bersih. Karenanya, kematian mereka tidak dikategorikan sebagai “tragedi”, tidak seperti bila hal yang sama terjadi pada para ibu rumah tangga yang lurus dan terhormat itu. (p.433)

Review #4 for Read Big!

Review #4 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Chunky Brick

7 responses to “The Cuckoo’s Calling – Robert Galbraith

  1. Pingback: Read Big! Wrap Up | Bacaan B.Zee

  2. Kayanya perlu baca ulang bahasa Inggrisnya zee, karna menurutku deskripsi Rowling masih sekuat biasanya, termasuk penggambaran ruang dan lokasi yang vivid banget. sepertinya emang nggak akan sama kalau baca terjemahannya, hehe

    • Iya, salah satu alasanku baca terjemahan dulu ya karena bakal punya alasan buat baca ulang bahasa Inggrisnya. Kalau dari awal baca aslinya pasti sudah males baca terjemahannya, hehe.

  3. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 4: Top Five Female Characters | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: The Silkworm – Robert Galbraith | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Career of Evil – Robert Galbraith | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s