Gekiga Hyoryu / Hanyut (2/4) – Yoshihiro Tatsumi

8576485Title : Gekiga Hyoryu (Hanyut)
Author : Yoshihiro Tatsumi (2008)
Translator : Yoko Takebe & Yoko Nomura
Cover designer : Rully Susanto
Publisher : Penerbit Nalar
Edition : Cetakan pertama, Juni 2010
Format : Paperback, vi + 208 pages

Kelanjutan dari buku pertama autobiografi penulis ini menceritakan kehidupan Hiroshi pasca lulus sekolah menengah. Dia berencana masuk ke universitas dan telah menabung untuk itu, dari honor membuat manga. Namun sesaat menjelang ujian masuk, penolakan naskah yang telah lama ditunggu-tunggu serta diharapkan, juga tragedi yang menimpa ayahnya membuatnya putus harapan dan akhirnya memutuskan untuk tidak berkuliah.

Hiroshi pun memusatkan diri membuat manga, kemudian atas dorongan kakaknya, Oki, dia mendatangi penerbit satu per satu, menawarkan naskahnya. Menemui berbagai editor penerbit dengan berbagai karakteristiknya memberi harapan baru bagi Hiroshi, beberapa menolak, tetapi kegigihan dan kenekatan membuatnya menemukan penerbit yang mau menerbitkan karya-karyanya.

Bekerja dalam kesendirian di depan meja yang menyengsarakan, mengisi kertas putih dengan pena dan tinta hitam... Ini merupakan cara untuk memperoleh kebebasan. (p.141)

Bekerja dalam kesendirian di depan meja yang menyengsarakan, mengisi kertas putih dengan pena dan tinta hitam… Ini merupakan cara untuk memperoleh kebebasan. (p.141)

Perjuangan Hiroshi belum berhenti, dia harus menghadapi benturan antara bisnis manga yang diharapkan oleh penerbit dengan idealismenya sebagai pembuat manga. Dari kesukaannya menonton film, dia mengeksplorasi teknik pembuatan manga yang berbeda dari pakem yang sudah-sudah, hal yang tidak mudah diterima semua orang.

Menjadi mangawan di satu penerbit mau tak mau melahirkan pertemanan dengan sesama mangawan. Berdiskusi dan bertukar pikiran, namun ada kalanya Hiroshi merasakan aura persaingan. Di saat satu mangawan mencapai sesuatu yang belum diraihnya, dia berusaha keras agar dapat menyamainya. Hingga pada akhirnya, saat karyanya disandingkan, dia dapat melihat dengan jelas hasil dari kekeraskepalaannya.

Kesan saya terhadap novel grafis ini tak jauh berbeda dengan pecahan pertamanya. Tak terkecuali ilustrasi manusianya yang agak sulit dinilai karakternya. Saat penulis menggambarkan suatu tokoh yang ‘berwajah seram tapi baik hati’, saya hanya bisa menangkap ‘wajah seram’nya saja. Tidak ada suatu ekspresi yang kiranya dapat sedikit menunjukkan kebaikan hati karakter tersebut.

Mengenai konfliknya sendiri, selain perjuangan Hiroshi dalam menerbitkan manganya, hubungannya dengan Oki dalam buku ini terasa lebih dekat. Kedekatan itu terutama dalam hal pertukaran pikiran saat membuat manga, dorongan dan dukungan Oki terhadap adiknya, juga tidak adanya kecemburuan lagi di antara mereka—oleh karena masalah kesehatan Oki sudah teratasi dan dia sendiri sudah bisa bekerja. Dalam buku ini, mulai muncul seorang gadis dalam hidup Hiroshi, meski dia belum menyadarinya.

4/5 bintang untuk perkembangan karakter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s