Student Hidjo di Festival Sastra Solo 2014

(Sumber gambar)

Di tengah abainya pemerintah terhadap dunia perbukuan dan kesusastraan, hadirnya sebuah event bertajuk Festival Sastra Solo 2014 membuat saya bertanya-tanya, mengapa Solo? Usut punya usut, ternyata event ini memang digagas dan digerakkan oleh komunitas sastra yang cukup aktif di Solo, yaitu Buletin Sastra Pawon. Meski tidak aktif di dalamnya, saya beberapa kali pernah datang ke acara-acara yang diadakan oleh Pawon. Jadi saat tanggal festival telah ditentukan, saya berusaha mengatur jadwal supaya bisa hadir pada hari tersebut. Tetapi karena satu dan lain hal, sayang sekali, saya hanya bisa menghadiri satu acara saja, yaitu pada acara pembukaan pada hari Sabtu tanggal 22 Februari 2014.

Festival ini mungkin sedikit berbeda dengan yang biasa saya ketahui tentang konsep sebuah ‘festival’. Festival Sastra Solo 2014 terdiri atas tujuh acara yang berlangsung di lima tempat di kota Solo, selama dua hari, 22-23 Februari 2014. Tema yang diangkat bermacam-macam, utamanya lebih berfokus pada budaya lokal. Namun tak hanya itu, ada juga diskusi mengenai Alice Munro, sang pemenang Nobel Sastra 2013. Detailnya bisa dilihat di poster di atas.

Satu-satunya acara yang bisa saya hadiri adalah Diskusi Student Hidjo dan Marco Kartodikromo. Di sini, dihadirkan dua orang pembicara, yaitu Muhidin M. Dahlan dan Andreas Susanto, yang masing-masing adalah ahli di bidang sastra dan sejarah.

2014-02-22 10.34.24

Sejujurnya, saya baru mengetahui novel Student Hidjo ini, jadi apa yang saya sampaikan ini bukan hasil dari saya membaca buku ini, tetapi dari kata mereka yang sudah membacanya. Roman fiksi sejarah ini pertama kali diterbitkan pada tahun 1919, bersetting di kota Solo pada awal abad ke-20. Menceritakan tentang seorang pelajar bernama Hidjo, novel ini menyoroti banyak aspek dan kritik sosial pada masa itu; mengenai pendidikan, persamaan ras, kesetaraan gender, nasionalisme, keberanian untuk menyampaikan pendapat, dan lain sebagainya.

Menilik dari resensi yang saya tangkap dalam diskusi ini, selayaknya novel Student Hidjo dianggap sebagai salah satu sastra klasik Indonesia. Isu dan latar sejarahnya–secara umum–hampir mirip dengan Bumi Manusianya Pramoedya Ananta Toer, yang tak lekang oleh zaman dan bersifat universal. Karakter Hidjo juga tampak cukup menarik, sebuah potret manusia pejuang yang berusaha untuk bangun di antara para penindas.

Sayangnya, buku ini seperti tenggelam dan tak mendapatkan apresiasi yang selayaknya sebagaimana karya sastra klasik Indonesia yang lain. Hal ini ternyata, kemungkinan, bertolak dari masalah antara Marco–sang penulis, dengan pendiri Balai Pustaka–penerbit yang berjasa melestarikan sastra modern Indonesia. Sosok Marco–yang juga dibahas cukup mendalam pada diskusi ini–kurang lebihnya adalah Hidjo dalam kenyataannya, keras dan blak-blakan, tak salah jika dia memiliki banyak musuh sekaligus pengagum. Sampai-sampai terkadang saya ‘hilang’ di tengah pembicaraan mereka, karena bingung yang mereka bicarakan ini Hidjo dalam novel atau Marco dalam sejarah, saking campur aduk dan tumpang tindihnya beberapa kejadian.

Dua jam hari itu, saya mendapatkan banyak hal, bayangkan seandainya saya berkesempatan mengikuti dua hari penuh. Selamat kepada Pawon atas suksesnya festival ini, semoga di tahun-tahun mendatang, Festival Sastra Solo ini bisa menjadi event tahunan yang semakin baik dan semakin maju. Syukur jika ada perhatian dari pemerintah daerah ataupun tokoh budaya di kota Solo, sehingga cakupan acara dapat lebih luas dan–meski bertempat di kota Solo–menjadi event nasional. Salut juga untuk panitia, yang katanya tidak memiliki dana untuk membuat acara, tetapi masih memberikan konsumsi untuk para peserta yang notabene tidak membayar biaya apa pun. Lebih lengkap mengenai Festival Sastra Solo 2014 di sini.

2014-02-22 09.56.34

13 responses to “Student Hidjo di Festival Sastra Solo 2014

  1. acara festival sastra solo emang bagus bagus…
    kepengen jg ngikutinnya…
    ngomong2 student hidjo sudah dicetak ulang lagi kah?

  2. Terharu baca postingan ini. Salut deh buat komunitas Buletin Sastra Pawon. Seandainya di setiap daerah punya komunitas dengan passion yang sama ya. Di tempat saya dulu (Mataram) boro-boro punya komunitas sastra, minat baca aja kurang–yang jadi alasan mengapa Gramedia baru buka tahun 2013. Setiap saya datang ke Gramedia pun, seringnya sepi. Hehe.
    Jadi penasaran sama Student Hidjo, Mbak. Kira-kira ada rencana untuk dicetak lagi nggak ya?

  3. Wah keren banget ada acara seperti ini. Acara kumpul penulis di Jakarta masih sepi peminat nih *malah curhat
    Semoga makin sering yang menyelenggarakan dan peserta aktifnya😀

  4. baru pernah denger lho tentang student hidjo..hehehe…solo keren deh punya acara ini. semoga semakin berkembang di tahun2 mendatang…siapa tau BBI bisa kopdar nasional di sana hihi

  5. Buku student hidjo ini sepertinya layak banget buat baca bareng satu judul buku kayak dulu itu lho. Pada tertarik ga?

  6. Kalo mau ikut komunitas pawonnya gmana yaa?
    Mohon infonya ya,,

    • Coba kunjungi blog/website yg saya tautkan di atas, di sana ada info yg lebih lengkapnya tentang profil komunitas pawon.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s