Hard Times – Charles Dickens

1350918Title : Hard Times
Author : Charles Dickens (1854)
Publisher : Penguin Books
Edition : Penguin English Library 1969, 1977 printing
Format : Paperback, 328 pages

‘Now, what I want is, Facts. Teach these boys and girls nothing but Facts. Facts alone are wanted in life. Plant nothing else, and root out everything else. You can only form the minds of reasoning animals upon Facts; nothing else will ever be of any service to them. This is the principle on which I bring up my own children, and this is the principle on which I bring up these children. Stick to Facts, sir!’ (Thomas Gradgrind, p.47)

Kisah ini bersetting di Inggris pada masa setelah Revolusi Industri, tepatnya di sebuah kota kecil bernama Coketown. Thomas Gradgrind merupakan seorang pendidik, dan dia menerapkan sistem dimana setiap orang harus berpegang pada fakta, dan bukannya imajinasi, mengekang kreativitas dan mengabaikan perasaan. Dengan cara itu pula dia mendidik kedua anaknya, Tom dan Louisa, meski pada kenyataannya, kedua anaknya tersebut tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkannya. Tom dan Louisa menguasai apa yang diajarkan kepada mereka, tetapi dalam hati mereka ada bibit pemberontakan yang akan menjadi masalah di kemudian hari.

Adalah Cecilia ‘Sissy’ Jupe, putri seorang pemain sirkus yang menjadi perhatian Mr. Gradgrind, karena ketertinggalannya pada pelajaran, menurut standarnya. Sissy adalah gadis biasa dengan imajinasi sebagaimana anak-anak pada umumnya, dan kesulitan menelan fakta yang dijejalkan padanya. Hingga pada suatu ketika Mr. Gradgrind bersama kawannya, Josiah Bounderby—seorang pengusaha sukses di Coketown, hendak menemui orang tua Sissy untuk mengutarakan masalah putrinya, ternyata bertepatan dengan perginya ayah Sissy akibat masalah yang dialaminya. Demi pendidikan yang dibutuhkannya, Sissy pun diambil oleh Mr. Gradgrind untuk dididik bersama anak-anaknya dan tinggal di rumahnya.

Saat usia Louisa sudah menginjak dewasa, dia diperistri oleh Mr. Bounderby yang notabene selisih usianya lebih dari tiga puluh tahun. Louisa dengan pendidikan yang dijejalkan kepadanya, juga mempertimbangkan kemudahan yang akan diperoleh oleh Tom, adiknya, jika dia menjadi Mrs. Bounderby, menerima lamaran tersebut dengan hati yang dingin. Hidup Louisa hanya dicurahkan untuk adiknya yang berkembang menjadi tak tahu terima kasih, selalu memanfaatkan kakaknya, dan tidak sedikit pun menghargai kasih sayang Louisa. Hal ini berlangsung sampai dia bertemu dengan James Harthouse. Keduanya saling tertarik satu sama lain, tetapi menyikapinya dengan cara berbeda. Di sinilah awal dari hancurnya pertahanan Louisa akan cara hidup yang selama ini dipegangnya.

‘…. You have been so careful of me, that I never had a child’s heart.  You have trained me so well, that I never dreamed a child’s dream.  You have dealt so wisely with me, father, from my cradle to this hour, that I never had a child’s belief or a child’s fear.’ (Louisa, p.137)

Tom Gradgrind yang diam-diam memanfaatkan kakaknya, pada akhirnya terlibat masalah pelik. Masalah yang menyeret seorang dari masyarakat pekerja, Stephen Blackpool yang memiliki masalahnya sendiri dengan Mr. Bounderby. Dari sini, rahasia demi rahasia terkuak, dan cara hidup yang dianggap sempurna menjadi tak berarti apa-apa. Masing-masing orang mengalami kehancurannya, dan masing-masing orang berusaha bertahan hidup dengan caranya sendiri, entah kembali ke cara lama, atau berubah sama sekali.

Dari awal membaca kalimat Thomas Gradgrind, entah kenapa saya merasa seperti membaca sebuah novel distopia. Sebuah cara hidup yang dipaksakan teratur dan terstruktur, meski sebenarnya bukan itu. Penulis menyoroti kehidupan sebagian masyarakat yang hendak dibentuk seperti mesin, seolah-olah bukan hanya pola industri yang berubah, tetapi juga pola berpikir orang-orangnya.

When she was half a dozen years younger, Louisa had been overheard to begin a conversation with her brother one day, by saying ‘Tom, I wonder’—upon which Mr. Gradgrind, who was the person overhearing, stepped forth into the light and said, ‘Louisa, never wonder!’ (p.89)

Meski singkat, buku ini berhasil menyoroti karakter-karakter di dalamnya sedemikian rupa sehingga saya bisa merasakan empati maupun antipati terhadap mereka. Saya suka karakter Louisa yang kuat, penyayang, dan terutama sikapnya saat memiliki kesempatan untuk menuruti perasaannya terhadap Mr. Harthouse. Dia runtuh, tetapi dia tidak membiarkan dirinya melakukan perbuatan yang tidak terpuji, dia memilih mengorbankan dirinya. Karakter Mr. Bounderby tak pelak membuat saya geram akan kekeraskepalaan dan keangkuhannya. Juga karakter-karakter minor yang berperan penting dalam keseluruhan kisah ini.

Pada akhirnya, penulis mengajak kita untuk berpikir kembali, keputusan mana yang benar, mana yang salah. Bagaimana manusia harus memperbaiki dirinya setelah kesalahan yang dilakukannya, kapan manusia harus berubah, dan kapan dia harus bertahan.

3.5/5 bintang untuk masa-masa yang sulit.

Review #18 of Classics Club Project

Review #7 for Lucky No.14 Reading Challenge  category Once Upon a Time

Review #2 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Classic #1)

Entered to Reading Dickens 2014

9 responses to “Hard Times – Charles Dickens

  1. Pingback: Scene on Three (32) | Bacaan B.Zee

  2. jadi inti cerita ini adalah di jaman industri dan teknologi maju, manusia dituntut rasional karena dari situlah kemajuan berasal. tapi pada akhirnya manusia malah jadi ga berperasaan dan ga kreatif karena terkungkung rasionalitas. begitu kah, zee?

    • Ga semua gitu sih, tih. Ini cuma kisah sebagian orang aja di sebuah kota kecil. Tp pada dasarnya sebagian orang yg diceritakan itu ya jadi begitu

  3. Belum punya bukunya da belom baca, tapi ada yg bilang ini adalah karya paling jenius si om. Hmm….jadi penasaran..

    • Iya, sepertinya memang begitu, aku ngerasa seperti ‘melewatkan’ banyak hal, makanya ratenya biasa aja

  4. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 4: Top Five Female Characters | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s