The Man with the Twisted Lip – Sir Arthur Conan Doyle

Title : The Adventures of Sherlock Holmes
Author : Sir Arthur Conan Doyle (1892)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : Ebook #1661, 12th edition, November 2002

Contents:

  1. A Scandal in Bohemia
  2. The Red-Headed League
  3. A Case of Identity
  4. The Boscombe Valley Mystery
  5. The Five Orange Pips
  6. The Man with the Twisted Lip
  7. The Adventure of the Blue Carbuncle
  8. The Adventure of the Speckled Band
  9. The Adventure of the Engineer’s Thumb
  10. The Adventure of the Noble Bachelor
  11. The Adventure of the Beryl Coronet
  12. The Adventure of the Copper Beeches

The Man with the Twisted Lip

“I confess that I cannot recall any case within my experience which looked at the first glance so simple and yet which presented such difficulties.”

Pada suatu malam, John Watson dan istrinya–Mary, didatangi oleh kawan lama Mary, Kate Whitney, sehubungan dengan suaminya yang pemadat. Biasanya suami Kate, Isa Whitney, hanya pergi semalam saja, namun kali ini sudah dua hari dia tidak pulang. Maka Watson memutuskan untuk pergi ke sarang para pemadat yang ditunjukkan oleh Kate tempat suaminya biasa berada. Setelah berhasil menemukan Isa Whitney, Watson dikejutkan oleh sosok Sherlock Holmes di antara para pemadat. Watson pun pulang bersama Holmes untuk mengetahui kasus yang sedang ditangani oleh kawannya tersebut.

Sepanjang perjalanan, Holmes menceritakan sebuah kasus aneh yang sedang dialaminya, dan tujuannya berada di sarang pemadat tersebut. Kasus ini mengenai seorang bernama Neville St. Clair, seorang yang bisa dikatakan sangat sukses dalam kehidupannya. Menikah, memiliki dua anak, seorang suami dan ayah yang baik, juga memiliki kekayaan yang cukup banyak. Pada suatu ketika, dia menjanjikan sebuah hadiah untuk putranya, sementara hari itu juga, istrinya menerima telegram tentang sebuah paket yang harus diambilnya di kota. Saat sedang berjalan hendak pulang, Mrs. St. Clair mendengar teriakan dari sebuah jendela di lantai dua. Ketika dia menengok ke atas, dia melihat suaminya yang terlihat panik, dan—anehnya—hanya mengenakan mantel, tanpa pakaian yang dikenakannya saat pergi dari rumah. Setelah itu, Mrs. St. Clair melihat suaminya seolah-olah tertarik ke belakang.

Dengan khawatir, Mrs. St. Clair memaksa masuk ke rumah tersebut untuk menemukan bahwa suaminya tidak ada dimana-mana dalam rumah itu–yang tidak lain adalah sarang pemadat yang baru saja Holmes dan Watson tinggalkan. Alih-alih, mantelnya ditemukan di dalam air, di bawah dermaga yang berbatasan dengan rumah tersebut, dengan kantong penuh berisi koin. Sisa pakaian Mr. St. Clair ada di dalam rumah itu, tanpa ada tanda-tanda kekerasan, ditemukan juga noda darah di jendela, tetapi tak ada tanda-tanda keberadaan orang itu, bahkan jasadnya. Polisi dikerahkan untuk pencarian, tetapi hari-hari berlalu tanpa hasil yang memuaskan. Nantinya, di rumah, Mrs. St. Clair menemukan bahwa paket yang diambilnya adalah hadiah yang dijanjikan suaminya untuk diberikan kepada putranya.

Orang terakhir yang diketahui melihat Mr. St. Clair adalah seorang pengemis profesional bernama Hugh Boone. Boone disebut profesional karena dia menjadikan mengemis sebagai profesinya, dia menghasilkan cukup banyak uang dari mengemis, dan menyewa kamar di lantai dua sarang pemadat tersebut untuk ditinggalinya. Penampilan Boone cukup mencolok dan mudah dikenali, rambut jingga terang, dengan wajah pucat yang menampilkan bekas luka yang menarik bibir atasnya sehingga seolah terpilin. Karena itulah, polisi menahan Boone sebagai terdakwa, dan pria itu tidak melawan.

Holmes yang berfokus mencari jasad Mr. St. Clair karena tak yakin bahwa suami kliennya masih hidup, dikejutkan dengan surat yang baru saja datang kepada Mrs. St. Clair. Surat itu berisi tulisan tangan orang yang dicari tersebut, tetapi tulisan di amplopnya bukan tulisan tangannya. Segel surat tersebut juga adalah milik Mr. St. Clair. Hal ini membawa penyelidikan Holmes ke arah yang sama sekali berbeda. Bagaimana pada akhirnya Mr. St. Clair ditemukan, dan apa yang sebenarnya terjadi?

“I have seen too much not to know that the impression of a woman may be more valuable than the conclusion of an analytical reasoner.”

Seperti biasa, kasus Sherlock Holmes seringkali di luar dugaan kita. Sama uniknya dengan kasus-kasusnya, pemecahannya pun terkadang terjadi dengan cara yang unik, dan—dalam kasus ini—melalui kontemplasi yang unik.

Sherlock Holmes was a man, however, who, when he had an unsolved problem upon his mind, would go for days, and even for a week, without rest, turning it over, rearranging his facts, looking at it from every point of view until he had either fathomed it or convinced himself that his data were insufficient. It was soon evident to me that he was now preparing for an all-night sitting.

“I reached this one,” said my friend, “by sitting upon five pillows and consuming an ounce of shag.”

Sebagaimana dalam kisah-kisah Sherlock Holmes sebelumnya, sedikit demi sedikit penulis menyampaikan kepribadian Holmes, pengaruh Holmes terhadap Watson, serta bagaimana hubungan mereka. Dalam kisah ini, tersirat bagaimana berpengaruhnya Holmes terhadap Watson, pun sebaliknya, Watson terhadap Holmes.

It was difficult to refuse any of Sherlock Holmes’ requests, for they were always so exceedingly definite, and put forward with such a quiet air of mastery.

“You have a grand gift of silence, Watson,” said he. “It makes you quite invaluable as a companion. ’Pon my word, it is a great thing for me to have someone to talk to, for my own thoughts are not over-pleasant.”

Juga bagaimana tingginya standar Holmes atas dirinya sendiri sehingga tidak mentolerir kelambatan berpikirnya.

“I think, Watson, that you are now standing in the presence of one of the most absolute fools in Europe. I deserve to be kicked from here to Charing Cross. But I think I have the key of the affair now.”

“I confess that I have been as blind as a mole, but it is better to learn wisdom late than never to learn it at all.”

Dan akhirnya, sekali lagi, apa yang ada di balik sikap dingin detektif itu. Bahwa Holmes tak kebal terhadap emosi.

Sherlock Holmes sat down beside him on the couch and patted him kindly on the shoulder.

Catatan : Pada cerita ini, Mary menyebut John Watson sebagai James. Diduga merupakan variasi dari nama tengah Watson, belum ditemukan penjelasan resmi dari penulis maupun ahli warisnya.

10 responses to “The Man with the Twisted Lip – Sir Arthur Conan Doyle

  1. Kemarin-kemarin waktu nonton Sherlock S3E3, berusaha mengingat-ngingat adegan awalnya itu diambil dari cerita yg mana. Ingat kasusnya, ingat penjahatnya, tapi gak ingat judulnya…. sampai baca review ini…. akhiirrrnyaaa… =))
    Thx BZee.

  2. eh zee… kalo a study in scarlet itu masuk buku mana??

  3. Pingback: The Adventures of Sherlock Holmes – Sir Arthur Conan Doyle | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s