The Sound and the Fury – William Faulkner

The Sound and the FuryTitle : The Sound and the Fury
Author : William Faulkner (1929)
Translator : Ingrid Nimpoeno
Editor : M. Sidik Nugraha
Publisher : PT Serambi Ilmu Semesta
Edition : Cetakan pertama, Januari 2014
Format : Paperback, 436 halaman

Manusia adalah jumlah dari pengalaman batiniahnya kata Ayah. Manusia adalah jumlah dari apa saja. (p.180)

Pada awal abad ke-20, keluarga Compson sudah hampir menjadi sejarah. Keempat bersaudara generasi terakhir Compson tersebut adalah: Caddy, gadis yang bebas dan sangat menyayangi Benjy dan Quentin. Quentin sangat menyayangi Caddy, bahkan cenderung posesif, dengan gagasan-gagasannya yang kadang terlalu berlebihan. Jason yang membenci kesemua saudaranya, tetapi merupakan kesayangan ibunya. Serta Benjy yang mengalami keterbelakangan mental dan sangat bergantung pada Caddy. Ibu mereka cenderung menyalahkan diri sendiri, lemah, dan banyak mengeluh. Sedangkan ayah mereka yang pemabuk tak bisa mengendalikan apa yang terjadi kemudian. Dan yang tak kalah penting, para budak kulit hitam, yang meski peran dalam kisahnya minor, memegang peranan penting dalam memegang puing-puing terakhir keutuhan keluarga Compson.

Dalam kondisi keluarga yang terpecah-belah, masalah demi masalah berdatangan. Caddy yang hamil tanpa mengetahui oleh siapa, terusir dari rumahnya, meninggalkan putrinya yang dinamai sama dengan pamannya, Quentin. Sementara Quentin Compson kuliah di Harvard untuk kemudian menjadi hancur oleh obsesinya sendiri. Jason yang menjadi kepala keluarga setelah ayah mereka meninggal, harus menghadapi ibu yang pengeluh, saudara lelakinya yang terbelakang, serta keponakannya yang tumbuh menjadi gadis ‘liar’, dalam kemarahan dan keserakahan yang akan membawanya pada hal buruk.

Dalam buku ini, kita diajak untuk memasuki pikiran Benjy, Quentin, dan Jason secara berturutan. Dalam sudut pandang Benjy, kita ditunjukkan segala sesuatu sebagaimana adanya. Narasinya yang harfiah, bahkan cenderung unik, apa-apa saja yang ditangkap oleh panca inderanya. Melalui narasi Benjy, perpindahan alur dan setting terjadi begitu cepat, biasanya dipicu oleh suatu kejadian yang mirip di masa lalu. Narasi kedua disampaikan oleh Quentin. Di sini, perlahan-lahan kita diajak masuk ke dalam pemikiran Quentin yang tak biasa, sampai suatu titik kita akan diajak berputar dengan cepat pada pikirannya yang melompat-lompat. Dari ‘suara’ yang ditampilkan Benjy, kita masuk ke ‘suara’ Quentin, yang akan menuju pada ‘kemarahan’. Sedangkan dalam sudut pandang Jason, ‘kemarahan’nya sungguh tampak nyata. Dia merasa hidupnya berantakan oleh karena ulah saudara-saudarinya, hingga dia tak bisa maju. Dilampiaskannya dendam itu pada keponakannya–Quentin, mengambil uang yang diberikan Caddy untuk putrinya, dengan upaya kerasnya untuk mengontrol kelakuan gadis itu. Namun, sebagaimana ibunya, Quentin tak bisa dikekang dan dibatasi.

Bila pada bagian Benjy dan Quentin kita diajak untuk melihat kejadian-kejadian sebagai sebab dan akibat, melalui Jason hubungan-hubungan tersebut mulai ditampakkan satu per satu. Jason, menurut saya, merupakan satu-satunya anggota keluarga yang berpikir praktis sekaligus egois. Saya bisa memahami kemarahannya atas keluarga yang berantakan tersebut, saya juga menghargai usahanya untuk mengendalikan Quentin keponakannya, tetapi beberapa caranya terlihat salah dan jahat. Mungkin juga sejak awal ada kontribusinya untuk keliaran Quentin yang tidak ditampilkan dalam kisah ini. Pada akhirnya, kita berputar dari tanda tanya yang satu menuju tanda tanya yang lain. Caddy yang terusir dari keluarga belum pasti salah, Quentin yang tumbuh liar seperti ibunya belum tentu benar-benar liar, mungkin dia hanya mencari keamanan.

Buku ini ditulis dengan cara yang tidak biasa, seringkali keluar dari tata bahasa dan penulisan yang baku. Terkadang kita dibawa dalam rentetan kata-kata lurus, tanpa tanda baca, bahkan meski sesungguhnya sudah berganti kalimat. Pergantian setting yang hanya dibedakan oleh huruf miring, atau penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya. Cara penulisan seperti ini memberi efek yang luar biasa pada intonasi kalimat atau paragraf tersebut. Tanpa kesempatan untuk mengambil napas, seolah kita bisa merasakan ketergesaan pikiran tersebut. Tentu saja hanya penulis luar biasa yang dapat memberikan efek seperti ini dengan konsistensi dalam ketidakkonsistenannya. Pujian juga saya berikan pada penerjemah dan penyunting yang dapat mentransformasikan buku ini menjadi sebuah terjemahan yang rapi.

Saya mengakui bahwa buku ini bukan bacaan yang mudah. Bahkan pada awalnya, saya akan maju terus meski belum menangkap ide tertentu. Namun, seiring dengan berjalannya alur serta perubahan sudut pandang, hal-hal yang tak jelas mulai menjadi jelas. Biarpun membingungkan, saya merasakan keindahan yang tak terjelaskan dalam buku ini. Mungkin seperti yang saya sebutkan di atas, intonasi yang diciptakan buku ini melalui teknik penulisan yang unik. Buku ini memang seharusnya dibaca ulang, kerena dengan begitu kita dapat memasukkan potongan teka-teki tersebut sekali lagi ke tempat yang tepat.

Pada edisi yang saya baca, ada lampiran dari penulis yang ditempatkan di awal. Ternyata tambahan tersebut pada buku aslinya baru ada pada edisi kesekian. Lampiran tersebut berisi silsilah keluarga dalam narasi yang jauh lebih membingungkan daripada kisah itu sendiri. Pada lampiran tersebut, kejadian-kejadian penting yang akan terjadi pada karakter-karakter dalam kisah ini juga disebutkan, sehingga, menurut saya, justru menjadi spoiler yang tidak perlu, karena beberapa kejadian tersebut sebetulnya adalah kunci dari kisah ini. Entah mengapa lampiran tersebut diletakkan di awal, mungkin penulis memandang bahwa bukan kejadiannya yang penting, atau hendak membantu pembaca untuk lebih cepat masuk ke kisah, atau entah apa, yang jelas saya lebih merekomendasikan untuk membaca lampiran ini belakangan saja.

4/5 bintang untuk keluarga yang membuat geregetan.

Kata Ayah seseorang adalah jumlah dari semua kesialannya. Suatu hari kau akan mengira kesialan merasa lelah, tapi kemudian waktu adalah kesialanmu, kata Ayah. (p.155)

Review #10 for Lucky No.14 Reading Challenge category Blame it on Bloggers (teh Annisa Anggiana and her review here)

Maret #1 : Oprah's Book Club

Maret #1 : Oprah’s Book Club

22 responses to “The Sound and the Fury – William Faulkner

  1. Makin gak sabar pengen baca….
    Tapi gilirannya baru tahun depan, heheheh.
    Makanya, karena penulisan yg keluar dari tata bahasa itu, aku kali ini gak berani baca versi aslinya.

  2. saya penasaran, seperti apa sih yang
    “Pergantian setting yang hanya dibedakan oleh huruf miring, atau penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya.” ini, hehehe

    nice review mbak🙂

  3. Waduh, stimulasi otak sambil baca yaa…
    Hmm.. Boleh dicoba nih nanti xD

  4. “Terkadang kita dibawa dalam rentetan kata-kata lurus, tanpa tanda baca, bahkan meski sesungguhnya sudah berganti kalimat. Pergantian setting yang hanya dibedakan oleh huruf miring, atau penggunaan huruf kapital yang tidak pada tempatnya.”

    Astaga, kayaknya kalau sy yang baca pasti dikira salah cetak, bukannya disengaja😀

    Jadi penasaran jg pengen baca bukunya.

    • Kalau salah cetak parah banget itu hampir setengah buku lho, hahaha.. Ga lah, itu karena aku sudah baca review2 sebelumnya kalo buku aslinya kaya gitu

  5. Buku yang susah🙂 aku aja perlu Waktu 3 hari untuk baca dan enjoy !

  6. Naaah, aku tuh sempet tergoda sama buku ini tapi takut terjemahannya kurang mumpuni… ceritanya sih kayanya susah-susah keren gitu ya zee🙂

  7. Wah, baca reviewmu aja sudah kebayang njlimetnya bahasa en intrik keluarganya….

  8. Jiah keindahan yang tak terjelaskan. Oke, buku sudah ada ditimbunan. Siap dibaca!

  9. reviewnya kereeeen. detil banget, berasa ikut baca bukunya. *padune males moco bukune saking suramnya x_x

  10. Pingback: Second Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  11. Pingback: Book Haul : March 2014 | Bzee's Inner Space

  12. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s