Nana – Émile Zola

17355746Title : Nana (Les Rougon-Macquart #9)
Author : Émile Zola (1880)
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November 10, 2012 [Ebook #1069]
Format : ebook

Kisah bermula di Teater Varietes pada suatu malam, saat para pengunjung menunggu-nunggu kemunculan pemain baru yang telah beredar berbagai gosipnya, Nana. Kemunculannya sebagai Venus mengundang banyak pujian, terutama para pria yang langsung terpukau pada kecantikan fisik Nana, yang memang sengaja dieksploitasi. Bahkan manager Varietes—Bordenave pun dengan bangga menyatakan bahwa Varietes adalah ‘rumah pelacurannya’.

Nana adalah magnet bagi para pria. Dia memiliki kecantikan fisik, dia bisa membuat para pria nyaman dengan perlakuan manis darinya, tetapi di sisi lain, dia menggunakannya untuk mengeruk sebanyak mungkin kekayaan dari para pria yang datang kepadanya. Pasca kesuksesannya di Varietes, namanya semakin terkenal, dan semakin banyak pula pria yang datang padanya. Nana akan dengan senang hati menerima mereka jika dia merasa dapat memperoleh imbal balik yang lebih banyak dan sangat banyak, meski tidak secara langsung. Dia juga dengan mudah akan mencampakkan mereka jika dia merasa tak memperoleh imbalan yang setimpal.

Nana menerima Georges, seorang remaja yang dimanjakannya dengan cara ‘keibuan’, membuatnya merasa sebagai satu-satunya pria yang diperhatikan Nana. Kemudian pada satu titik, wanita itu akan menuntut banyak uang dari Georges jika dia ingin tetap menjadi ‘satu-satunya’. Di waktu yang sama, Nana berhubungan dengan Count Muffat, yang sempat dicampakkannya demi Fontan yang memberinya lebih banyak kekayaan. Bersama Fontan, Nana sempat merasakan cinta—atau perasaan posesif—yang sangat kuat, hingga dia rela menjadi objek kekerasan pria itu, hingga dia tak peduli lagi dengan Fontan yang semakin pelit dalam hal keuangannya. Pada masa inilah banyak adegan yang ‘mengganggu’ saya, pukulan demi pukulan yang diterima Nana demi sesuatu yang tidak akan pernah didapatkannya.

For a second or two he threatened her with a second slap, asking her at the same time if she meant to move again. Then he put out the light, settled himself squarely on his back and in a trice was snoring. But she buried her face in the pillow and began sobbing quietly to herself. It was cowardly of him to take advantage of his superior strength! She had experienced very real terror all the same, so terrible had that quaint mask of Fontan’s become. And her anger began dwindling down as though the blow had calmed her. She began to feel respect toward him and accordingly squeezed herself against the wall in order to leave him as much room as possible. She even ended by going to sleep, her cheek tingling, her eyes full of tears and feeling so deliciously depressed and wearied and submissive that she no longer noticed the crumbs. When she woke up in the morning she was holding Fontain in her naked arms and pressing him tightly against her breast. He would never begin it again, eh? Never again? She loved him too dearly. Why, it was even nice to be beaten if he struck the blow!

Setelah terlepas dari Fontan, Nana kembali ke kehidupan mewah, menuntut Count Muffat untuk menyediakan segala kebutuhannya, dengan imbalan ‘kesetiaannya’. Count Muffat mempertaruhkan kehidupan keluarganya demi kenikmatan semu yang dihabiskannya bersama Nana. Tak ada kata setia untuk Nana, sang count tahu itu, tetapi dia menutup mata atas hal itu, selama tidak dilakukan di depan matanya.

Edouard Manet 037.jpg

Édouard Manet, Nana, 1877

There was no love where mutual esteem was wanting.

Dalam kisah ini, saya merasa ditunjukkan sebuah kehidupan dari suatu masyarakat tertentu yang tatanan moralnya setingkat. Pria dan wanita yang disorot dalam buku ini saling berselingkuh satu sama lain, menjadi rahasia umum di antara mereka, tetapi di sisi lain beberapa dari mereka menuntut pula kesetiaan dari yang lain. Seperti Count Muffat yang pada mulanya berselingkuh secara diam-diam dengan Nana, kemudian saat mengetahui bahwa istrinya juga memiliki hubungan gelap dengan pria lain, dia terpuruk dan kembali melegalkan perselingkuhannya dengan Nana.

Kisah ini bisa jadi merupakan simbol dari apa yang kita hadapi dalam masyarakat, tetapi segala detail dan kebrutalan bertubi-tubi tersebut menjadikannya tidak bisa digeneralisasikan ke semua manusia. Perselingkuhan dan pelacuran tentu ada di sekitar kita, tetapi mungkin bukan sesuatu yang kita banggakan dan menjadi gaya hidup pada semua anggota masyarakat kita. Pun masalah ketuhanan yang dalam masyarakat Nana hanya diingat saat mereka jatuh.

Then he thought of God. The sudden idea of divine help, of superhuman consolation, surprised him, as though it were something unforeseen and extraordinary.

Keindahan buku ini terletak pada deskripsi luar biasa yang dihidupkan sedemikian rupa oleh penulis. Penulis dapat dengan detail menggambarkan situasi, kejadian, manusia, alam, dan lain sebagainya sehingga seolah-olah kita berada di tempat itu, menyaksikan dan mendengarkan sendiri. Cara bercerita semacam itu pada buku ini sukses memberikan rasa muak pada banyak bagian, tetapi ada juga bagian yang menakjubkan seperti ini:

The trees stretched away and away, and there were endlessly recurrent patches of ivy along the wall with glimpses of lofty roofs and screens of poplars interspersed with dense masses of elms and aspens. Was there no end to it then? The ladies would have liked to catch sight of the mansion house, for they were weary of circling on and on, weary of seeing nothing but leafy recesses through every opening they came to. They took the rails of the gate in their hands and pressed their faces against the ironwork. And thus excluded and isolated, a feeling of respect began to overcome them as they thought of the castle lost to view in surrounding immensity.

Juga kelihaian penulis menggunakan keindahan alam dalam personifikasi ini:

Suddenly a cheering influence warmed the hundred thousand souls who covered this part of the plain like insects swarming madly under the vast expanse of heaven. The sun, which had been hidden for about a quarter of an hour, made his appearance again and shone out amid a perfect sea of light. And everything flamed afresh: the women’s sunshades turned into countless golden targets above the heads of the crowd. The sun was applauded, saluted with bursts of laughter. And people stretched their arms out as though to brush apart the clouds.

Penulis berhasil memasukkan bagitu banyak karakter dalam buku ini, dengan peranan dan sifatnya masing-masing, yang meski awalnya membuat saya bingung, cukup berhasil menghidupkan kisah. Bukan hanya 2-3 pria, mungkin ada lebih dari lima pria yang terjebak dalam pesona Nana. Pun karakter-karakter wanitanya, ada yang membenci Nana dengan alasan cukup jelas, ada pula yang masuk dalam ‘lingkaran’ Nana karena satu dan lain hal.

Satu hal yang menarik perhatian saya adalah perlakuan para wanita terhadap Nana pada akhir kisah. Saat Nana mengalami sesuatu yang buruk, wanita yang paling membencinya, yang paling punya alasan untuk berbahagia atas penderitaannya, adalah justru yang paling sedih dan yang paling memperhatikan dirinya. Sementara para pria yang mengejarnya di masa kejayaannya, justru ragu untuk sedikit saja memasuki ‘bahaya’ demi menguatkan primadona mereka.

“By God it isn’t fair! Society’s all wrong. They come down on the women when it’s the men who want you to do things. Yes, I can tell you this now: when I used to go with them—see? I didn’t enjoy it; no, I didn’t enjoy it one bit. It bored me, on my honor. Well then, I ask you whether I’ve got anything to do with it! Yes, they bored me to death! If it hadn’t been for them and what they made of me, dear boy, I should be in a convent saying my prayers to the good God, for I’ve always had my share of religion. Dash it, after all, if they have dropped their money and their lives over it, what do I care? It’s their fault. I’ve had nothing to do with it!” –Nana.

Pada akhirnya, apa yang hendak disampaikan melalui kisah Nana? Bahwa wanita dapat menggunakan kecantikan fisiknya untuk memeras para pria? Bahwa para pria begitu lemah dan bodoh saat dihadapkan pada nafsu? Bahwa pembudakan diri terhadap seks dapat merusak seluruh tatanan masyarakat? Meski tidak diceritakan dengan detail, sepintas disebutkan bahwa masa kecil yang kelam yang menjadikan Nana seperti itu. Kekurangan kasih sayang dari orang tua salah satunya. Jadi jika harus menutupnya dengan satu kalimat, saya akan mengatakan bahwa wanita pun memiliki ‘kekuasaan’ tersendiri untuk menjadikan suatu masyarakat itu baik atau buruk.

3/5 bintang untuk buku ini, saya suka unsur-unsurnya, tetapi keseluruhan buku ini mengusik kemanusiaan dan moral saya—yang berarti keberhasilan penulis membangun suasana dengan sangat baik. Hidup memang tak pernah selalu manis.

 

April #1 : Tema Perempuan

April #1 : Tema Perempuan

22 responses to “Nana – Émile Zola

  1. Baca adegan nana ma fontan jd bertanya2… ini BDSM kah??? O_O.
    eh, kok cuma 3 tho? kan kayake bagus bgt tuh… >.<

    • Kayanya menjurus ke situ, tapi ga dibahas detail sih. Memang bagus, ratingku itu lebih ke kesan personal sih, jadi bukan menggambarkan bagus/ga bukunya (sudah kusebut di review juga). Kalo ga salah kamu suka Therese Raquin ya? menurutku kamu bakal suka ini juga🙂

  2. Ah iya tahun lalu untuk Zoladicction juga baca buku ini . Terimakasih dah diingetin lagi mbak

  3. Pingback: Zoladdiction 2014 | Bacaan B.Zee

  4. Nah, kamu merasa gak bahwa uraian Zola yang detail yg bikin kita seakan hadir dan melihat sendiri, itu seperti pelukis yg matanya jeli menangkap semua detail sampai sekecil2nya dan dapat mewujud dalam sapuan kuasnya? Terasa banget gak sih, Zola si pelukis itu lalu ‘melukis’ dengan kata2 di atas novel sebagai kanvasnya?…. Ada saat2 cerita di buku Zola kurang ‘nendang’, tapi ‘lukisan kata2nya’ gak pernah tidak membuatku takjub.

    • Iya, kali ini ngrasain banget, mungkin karena konfliknya sendiri ga se-intense Germinal, jadi aku malah memperhatikan detail2 kecil itu.

  5. “Keindahan buku ini terletak pada deskripsi luar biasa yang dihidupkan sedemikian rupa oleh penulis. Penulis dapat dengan detail menggambarkan situasi, kejadian, manusia, alam, dan lain sebagainya sehingga seolah-olah kita berada di tempat itu, menyaksikan dan mendengarkan sendiri. Cara bercerita semacam itu pada buku ini sukses memberikan rasa muak pada banyak bagian, tetapi ada juga bagian yang menakjubkan” –> ini juga yang aku rasain di Therese Raquin, kayaknya si Zola itu jago bgt ya menggambarkan konteks..

    brarti nana juga termasuk salah satu buku Zola yang dikecam karena moralitas itu kah bzee? soalnya isinya perselingkuhan dsb gitu kan…kayak di Therese Raquin juga gitu soalnya.

    • Iya, ini termasuk yg kontroversial juga. Apalagi di sini cakupannya lebih luas dari Therese Raquin, jadi terkesan masyarakat yg imoral bgt

      • aku beneran jadi pengen baca buku-buku Zola lainnya…iya sih Therese Raquin fokusnya masih sempit kalo dibandingin sama Nana ini ya…kayaknya asik nih jadi my next Zola🙂

  6. Belum pernah baca Zola, kayaknya karakternya kuat2 ya.. meski rada miris juga tuh baca penggalan adegannya si Nana sama Fontan…

  7. Ho’oh, aku suka bgt therese raquin, makanya baca repiumu jadi pengen, hehe…
    si zola ini emang top bgt ya kalo soal ngulik2 kemanusiaan dan kemasyarakatan. sayang belum bisa baca bukunya yg lain >.<

  8. wah, zola ini selalu mengangkat tema tema kemanusiaan ya.. em.. aku kapok tapinya baca buku dia, suram boo’ x_x

  9. Pingback: Scene on Three (39) | Bacaan B.Zee

  10. Pingback: Third Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s