Zoladdiction 2014

Sebenarnya agak terlambat untuk mengatakan bahwa untuk kedua kalinya saya mengikuti Zoladdiction yang digagas oleh Fanda Classiclit ini. Terlambat karena eventnya sudah (hampir) berakhir, jadi sekalian saja saya sampaikan kesan saya terhadap Zola sampai sejauh ini.

Tahun lalu, saya gagal menyelesaikan event ini. Membaca karya Zola merupakan sebuah tantangan. Karya Zola pertama yang saya baca, Therese Raquin (TR), saya selesaikan dengan perasaan muak. Tetapi jauh di alam sadar saya, saya tahu bahwa buku itu bagus, bahwa potret yang begitu nyatanya–hingga membuat saya muaklah kekuatan dari penulis yang satu ini.

Oleh karena itu, saya tidak kapok, dan saya mengikuti Zoladdiction 2013, yang gagal karena buku yang saya baca, Germinal, hampir dua kali lebih tebal dari TR, yang artinya kerja lebih keras. Gagal dengan ebook, saya pun meminjam paperback Germinal agar punya alasan untuk bisa membaca lebih lama. Namun butuh waktu berbulan-bulan untuk menyelesaikan. Pada akhirnya setimpal, saya seperti dilempar ke dasar sumur seusai membacanya.

Maka di tahun 2014 ini, saya bulatkan tekad untuk menyelesaikan satu buku Zola, apapun yang terjadi, dan syukurlah saya berhasil menyelesaikan Nana dengan kerja keras pula. Apakah hasilnya setimpal?

Awalnya agak ragu juga memilih bacaan untuk Zoladdiction tahun ini. Pertimbangan pertama membaca Nana adalah karena kebetulan ebooknya sudah tersedia, tetapi sinopsisnya membuat saya ciut, apakah saya sanggup membaca tentang eksploitasi wanita dalam kondisi hati yang sedang lemah? (duh). Tetapi karena tantangan dari sang host, saya pun memutuskan membaca buku ini, dengan segala persiapan mental.

Nana menggambarkan keadaan sosial dari latar belakang yang berbeda dengan TR maupun Germinal. Jika TR berfokus pada sebuah keluarga dan Germinal pada masyarakat pekerja, Nana menyoroti masyarakat menengah ke atas dengan seksualitasnya. Lebih dalam lagi, ketiganya sama-sama ‘menelanjangi’ kehidupan. Gaya khas naturalisme Zola bukan hanya sematan, bukan muncul sebagai pemanis, pun tidak setengah-setengah. Apa yang hendak disorotinya akan digambarkan dengan menyeluruh, hingga pembaca bisa ikut muak, ikut prihatin, ikut masuk ke dalam kehidupan Perancis abad ke-19.

Setelah tiga buku, saya pun mempertimbangkan memasukkan Émile Zola dalam daftar penulis favorit saya (hmm). Memang tidak mudah membacanya, pahit, tetapi itulah hidup, lagipula dia menuliskannya dengan indah. Melahap karya Zola itu seperti menyesap kopi; pahit tapi nikmat, membuat kita sulit tidur sekaligus membuat ketagihan. Sebagaimana mengkonsumsi kopi sebaiknya tidak berlebihan, membaca Zola juga cukup satu buku saja untuk sekian waktu.

Jadi, apa yang saya dapatkan di Zoladdiction 2014 ini? Saya selesai membaca Nana, dan saya sukses teradiksi dengan Zola. Semoga hostnya puas :p

Lihat post peserta lain di sini.

3 responses to “Zoladdiction 2014

  1. Horeee! Nemu temen sesama pecandu! Hahaha….
    Thanks udah mendengarkan suggestionku dan mau menikmati Zola. Tuh kan….akhirnya jadi ketagihan kan?😉 Thanks udah ikutan Zoladdiction 2014 juga (lapor: host-nya puasss! :D), tahun depan ada 2 kesempatan menikmati kopi..eh..Zola lho, tungguin ya!😉

  2. Pingback: Zoladdiction 2015 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s