Scene on Three (39)

SceneOnThree

Akhir bulan biasanya ada posting bareng member BBI, kali ini temanya tentang perempuan (bertepatan dengan bulan kelahiran RA. Kartini) dan traveling. Buku-buku yang dibaca bulan ini lumayan seru, lihat daftarnya di sini.

Bulan ini saya memposting Nana karya Émile Zola, dan scene kali ini pun akan saya ambil dari situ. Berhubung scene ini panjang–begitu detailnya penulis ini–maka saya tuliskan potongan-potongannya saja.

“When we learned that a great artiste lived in this house we promised ourselves that we would put the claims of our poor people before her in a very special manner. Talent is never without a heart.”
Nana pretended to be modest. She answered them with little assenting movements of her head, making rapid reflections at the same time. …..
…..
“One is only too happy to be able to give.”
At bottom she was flattered.
“Ah, madame,” rejoined the marquis, “if only you knew about it! there’s such misery! Our district has more than three thousand poor people in it, and yet it’s one of the richest. You cannot picture to yourself anything like the present distress—children with no bread, women ill, utterly without assistance, perishing of the cold!”
…..
“My faith,” said Nana, bringing the ten big silver pieces and quite determined to laugh about it, “I am going to entrust you with this, gentlemen. It is for the poor.”
…..
“There are a pair of beggars for you! Why, they’ve got away with my fifty francs!”
She wasn’t vexed. It struck her as a joke that MEN should have got money out of her.

Pasca kesuksesannya di Teater Varietes, Nana kedatangan kedua pria yang meminta sumbangan padanya, padahal saat itu dia baru mengeluarkan uang banyak untuk kebutuhan yang penting. Untuk ‘kepatutan’, wanita itu pun menyerahkan seluruh sisa uangnya, hingga tak tersisa sepeser pun hari itu.

Sebagai seorang yang terbiasa mendapatkan uang dari pria, kondisi ini mungkin sangat menggelikan bagi Nana. Dan memang sudah umum jika seseorang meraih sedikit saja kesuksesan, ada saja yang meminta sumbangan atas nama ini-itu, padahal belum tentu kesuksesan itu relevan dengan kondisi keuangan seseorang.

Sebenarnya tidak masalah jika yang dimintai sumbangan itu orang ‘baik-baik’. Tetapi karena mereka meminta pada Nana, sialnya, mereka akan mendapat ‘balasan’ yang buruk. Ah, malangnya.

Bagi scene-mu hari ini, caranya:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

4 responses to “Scene on Three (39)

  1. Buku-buku terjemahan kadang suka panjang-panjang kedetailannya, padahal intinya sih itu-itu aja, biar halamannya banyak mungkin ya😀

    • Oh, enggak sih, menurutku malah di situ dia menghidupkan kisahnya melalui narasi, jd kita diajak ikut ‘masuk’ ke suasana dlm buku. Ini kupotong krn ada yg mau kutekankan, sebenarnya ada dorongan buat masukin semua tapi takutnya bukan jadi Scene on Three malah jadi cerpen😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s