The Unknown Errors of Our Lives – Chitra Banerjee Divakaruni

Title : The Unknown Errors of Our Lives (Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita)
Author : Chitra Banerjee Divakaruni (2001 ©2005)
Translator : Gita Yuliani K
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, Februari 2010
Format : Paperback, 264 halaman

Sejak pertama kali ditemukan oleh Columbus, Amerika dianggap sebagai dunia baru. Berbondong-bondong masyarakat Eropa pindah ke Amerika. Lambat laun, pergerakan ini tidak terbatas di Eropa, seiring kemajuan dunia dan Amerika sendiri, orang-orang dari belahan dunia yang lain mulai masuk ke Amerika. India adalah salah satunya, negara yang jumlah penduduknya terbesar kedua di dunia.

Buku ini secara khusus menceritakan tentang para wanita India yang bergelut dengan tradisi dan kehidupan modern di Amerika Serikat. Bagaimana hidup dengan darah yang mengalirkan kepercayaan dan nilai leluhur di antara hiruk-pikuk teknologi dan kebebasan di sekitar mereka. Para wanita ini, ada yang mencari kehidupan baru di luar tanah kelahirannya, ada yang lahir di tanah asing dan mencari akarnya, ada yang berusaha membangun jembatan antara dunia baru dengan dunia, dan penulis menyatukan kisah mereka dengan apik.

Saya membaca adanya konflik dalam batin para tokoh dalam kumpulan cerita pendek ini. Dengan masalahnya masing-masing, mereka berusaha berdamai dengan dunia leluhur mereka, dunia baru yang mereka jalani, dan—terutama—berdamai dengan diri mereka sendiri, dengan nurani mereka.

Nyonya Dutta Menulis Surat mewakili suara para orang tua yang ‘dipaksa’ untuk keluar dari zona nyaman kehidupan yang mereka jalani selama bertahun-tahun, yang dalam usia senjanya—usia tubuh mengalami degenerasi—harus menyesuaikan diri dengan kehidupan baru, yang tentunya jauh lebih sulit ketimbang generasi yang lebih muda. Nyonya Dutta merupakan suara para ibu, yang dengan setia menyimpan kenangan dan rasa sakit demi kelangsungan hidup keturunan mereka.

Karena sudah takdir kaum ibu untuk ingat apa yang tidak dipedulikan orang lain, pikir Nyonya Dutta. Untuk menceritakannya berulang kali sampai mau tidak mau tertanam dalam riwayat keluarga. Kami adalah pemelihara sudut-sudut hati yang berdebu. (p.36)

Kisah-kisah Kecerdasan Benda-Benda Liar, Cinta Seorang Pria Baik, Apa yang Diketahui Tubuh, Anak-Anak yang Terlupakan, dan Masa Kaktus Berbunga mengandung kemarahan-kemarahan terpendam yang berbeda wujudnya. Kemarahan anak terhadap orang tua yang sesungguhnya karena terlalu banyak cinta, karena kurangnya cinta, atau cinta yang tidak pada tempatnya, juga kemarahan terhadap keadaan. Kemudian karena cinta pula kemarahan itu didinginkan, kehidupan diselamatkan.

Amarah adalah penghancur paling dahsyat. Mungkin. Tetapi aku justru menganggap itu penyelamatku. (p.103)

Kehidupan Orang-Orang Asing mengisahkan perjalanan Leela, yang dibesarkan di Amerika, ke India, tanah nenek moyangnya. Cara hidup yang familier tetapi terasa asing, orang-orang yang serupa dengannya tetapi tak sepemikiran, serta sebuah naluri yang mengusik tentang apa yang benar—keyakinan bersama atau hati nuraninya.

Apakah itu benar, bagian tentang bintang pembawa sial? Di Amerika dia akan menghadapi takhayul semacam itu dengan sikap enteng dan dengan mudah melupakannya, tetapi di India masalahnya rumit. Seperti masuk ke danau primitif yang berlumpur, di India dia harus hati-hati dalam bertindak. (p.67)

Kesalahan-Kesalahan yang Tidak Diketahui dalam Hidup Kita, yang dijadikan judul untuk kumpulan ini, sepertinya adalah kisah yang memiliki efek kejut yang paling kuat. Tentang sepasang kekasih—sama-sama keturunan India yang tinggal di Amerika—yang akan menikah, tetapi tiba-tiba keindahan yang mereka bangun dirusakkan oleh kesalahan di masa lalu, kesalahan yang muncul karena perpindahan—tempat maupun budaya. Di sinilah penyelesaiannya akan menuntut mereka untuk memutuskan, akan berpikir dengan cara India atau Amerika.

Nama-Nama Bintang dalam Bahasa Bengali cocok sebagai penutup yang manis. Anak-anak India yang dilahirkan di Amerika sehingga justru merasa asing dengan tanah nenek moyangnya, dengan bahasanya, dengan cara hidupnya. Kekuatan masa lalu sang ibu, dan bagaimana mendamaikannya dengan masa kini, hingga akar mereka tidak tercerabut.

Untuk sesaat aku jadi menyadari semua kehidupan kita mempunyai kedalaman yang tidak akan pernah bisa dijelajahi orang asing. (p.182)

Penulis menyajikan buku ini dengan rasa India yang kuat, potret tradisi-tradisinya, makanan-makanannya, suasana di kota-kotanya, pemikiran orang-orangnya, semua digambarkan dengan jelas meski tak bertele-tele. Hal ini membuat orang yang asing dengan India bisa menikmatinya, dan bisa merasakan empati atas konflik batin yang dialami oleh para tokohnya. Pesona Amerika pun tak kalah kuat penggambarannya, bagaimana kehidupan para imigran India di sana, diskriminasi yang dialami, pola masyarakat yang terbentuk, serta Amerika itu sendiri.

Sebagai negara dengan akar budaya yang sangat kuat, tidak mudah untuk melepaskan diri sepenuhnya dari tradisi nenek moyang. Pun di zaman modern, selama masih ada generasi tua yang menuntut kepatuhan penuh pada tradisi, perpindahan itu tidak mudah. Dan buku inilah potret dari sebagian orang, tentang perjuangan mereka untuk ‘berpindah’, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan hati nurani. Pada akhirnya, pembacalah yang menilai, pembaca pula yang mengambil kesimpulan dari tindakan-tindakan mereka.

Tetapi kalau kita percaya kepada takdir, tidak ada yang bisa menjadi orang asing, bukan? Selalu ada koneksi, sebab mengapa orang-orang masuk ke dalam orbitmu, bergetar penuh energi gelap seperti meteor yang menuju tabrakan. (p.81)

3.5/5 bintang untuk aroma kari yang bercampur rasa pizza.

Review #13 for Lucky No.14 Reading Challenge category It’s Been There Forever

Review #6 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

April #1 : Tema Perempuan

Juni #1 : Sastra Asia

10 responses to “The Unknown Errors of Our Lives – Chitra Banerjee Divakaruni

  1. sejak kecil saya dikelilingi orang Arab karena pekerjaan bapak, sampe SMA pun beste juga orang Arab, sampai ketika ada temen, juga 1/4 Arab, memperlihatkan buku yang diberikan ayahnya tentang asal-usul mereka (dari Yaman, apa namanya lupa…), lalu saya pikir, generasi di atasnya benar-benar gak pingin anak-anaknya kehilangan akar ketika hidup di tanah yang bukan asal darah mereka ya rasanya u_u

  2. Banyak yang baca karya Divakaruni buat Sastra Asia🙂. Udah baca bukunya yang Istana Khayalan itu belum Zee?

  3. ahhh buku ini ada di timbunan, belum kubaca hihihiy….nada2nya mengingatkan aku sama jhumpa lahiri yg interpreter of maladies ya🙂 aku suka model cerpen2 tentang imigran, perbedaan budaya dan pencarian akar keluarga🙂

    • Jhumpa Lahiri ku malah masih di timbunan😄
      Tema2 macam gitu kayanya banyak di Asia ya, terutama negara2 padat spt Tiongkok & India

  4. Itu yang Nyonya Dutta… sediiih… Aku kasian. Ini buku Divakaruni pertama yang aku baca, beli gak sengaja pas lagi nginep di daerah Senen dan kurang kerjaan gitu. ahahahaha

  5. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s