Orang-Orang Tanah – Poppy D. Chusfani

18250158Judul : Orang-Orang Tanah
Penulis : Poppy D. Chusfani (2013)
Editor : C. Donna Widjajanto
Ilustrator : Anne M. Oscar
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Agustus 2013
Format : Paperback, 200 halaman

“Ini tidak nyata,” bisik Kiran pada diri sendiri.
“Kenyataan tergantung di mana kau berada,” kata si lelaki, menoleh ke arah Kiran. “Di sini, saat ini, apa yang kaulihat dan kaurasakan, itulah kenyataan.”
(hal.123)

Kumpulan kisah tentang kefanaan, perjuangan, dan pembalasan dendam. Itulah subjudul yang tertera dalam buku ini, dan kira-kira seperti itulah kurang lebih isinya. Berisi sembilan cerita pendek yang gelap dan supranatural, buku ini menghanyutkan saya ke dalam pikiran dan dunia manusia-manusia yang berada di batas nyata dan tidak nyata—dalam sudut pandang yang umum. Tetapi, apakah kenyataan yang mutlak itu benar-benar ada?

Seorang anak yang tersiksa tiba-tiba menemukan jalan keluar dari kehidupan sengsaranya, seorang penulis mendapatkan jalan pintas menuju kesuksesan yang harus dibayarnya dengan mahal, kisah tentang tarik-ulur kehidupan dan kematian, kisah tentang watak manusia, dan kisah tentang keputusan manusia. Tema-tema itu sebenarnya tampak biasa, tema-tema yang universal, tetapi ada yang berbeda di sini. Yang jelas, tidak ada kisah biasa di sini, semuanya tidak biasa—kalau tidak saya katakan luar biasa.

Sembilan kisah ini unik dengan caranya masing-masing. Kita bisa menganggap kisah ini sebagai simbol akan sesuatu yang bisa terjadi di sekitar kita, kita bisa menyangka kisah ini adalah imajinasi luar biasa sang penulis, kita juga bisa menikmati kisah ini sebagaimana adanya kisah itu. Satu hal yang dominan dalam kumpulan cerita ini adalah peranan wanita dan ibu. Beberapa kisah menampilkan wanita yang lemah dan menjadi sasaran penindasan, yang lain menunjukkan kasih sayang ibu yang tiada batas, dan ada juga kisah yang melibatkan ibu tiri yang kejam. Pola ini membuat saya berpikir bahwa penulis mungkin hendak menyoroti perempuan dalam berbagai sisinya, meski tak bisa dikatakan menggambarkan keseluruhannya.

Musuh terbesar umat manusia adalah kepicikan, selain ambisi untuk melebihi orang lain. (hal. 169)

Ini pertama kalinya saya ‘mencicip’ karya penulis yang satu ini. Sebelumnya, saya hanya mengenalnya lewat karya terjemahannya yang renyah dan enak dibaca. Buku ini menarik saya karena temanya yang berbeda dari yang biasa beliau tuliskan, ditambah covernya yang menggelitik pecinta buku anak seperti saya (meski ternyata buku ini bukan buku anak-anak). Dan ternyata saya tidak dikecewakan. Rasa tulisan kak Poppy tidak seperti penulis-penulis lokal lain yang pernah saya baca, dan saya menyukainya. Ada aura kegelapan yang tidak biasa ditampilkan, atau ditampilkan dengan cara yang tidak sama.

Dalam Jendela, kita seolah dipersiapkan untuk masuk dalam dunia yang ‘berbeda’, bahwa kisah berikutnya akan lebih aneh dari ini. Pelarian menyuguhkan petualangan yang penuh twist yang—menurut saya—sangat berpotensi menjadi novel yang menarik. Pondok Paling Ujung sangat terasa aura misterinya, dan meninggalkan kengerian yang simpatik. Bulan Merah awalnya sempat saya pikir mengadopsi legenda werewolf, tapi ternyata jauh lebih ngeri dan lebih dekat dengan kenyataan kita. Dewa Kematian adalah salah satu favorit saya, tak cukup membaca sekali untuk membuat segalanya masuk akal (atau kurang lebih masuk akal). Pintu Kembali mengingatkan saya dengan dunia ajaib Gaiman di Mirror Mask—salah satu favorit saya juga. Kisah Lelaki Tua dan Tikus sangat di luar dugaan, idenya brilian dan diakhiri dengan sangat apik, saya jadi ingin bekerja sama dengan Pak Tua. Sang Penyihir membuat saya merasa kembali ke masa-masa perburuan penyihir di abad pertengahan—lebih karena pemilihan namanya—tetapi kisah ini sangat relevan dengan masa apa pun, dan terutama—yang saya suka dari kisah ini—penampakan betapa jahatnya kekuatan prasangka dan ego manusia. Terakhir, Orang-Orang Tanah menutup kisah ini dengan kengerian mutlak yang membuat saya tidak mampu berkata-kata lagi.

5/5 bintang terbulatkan berkat seorang gadis kecil dan orang tanahnya.

Review #12 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #19 for Lucky No.14 Reading Challenge category Cover Lust

3 responses to “Orang-Orang Tanah – Poppy D. Chusfani

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 2 : Top Five Most Memorable Quotes | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s