The Murder at the Vicarage – Agatha Christie

15990314Title : The Murder at the Vicarage (Pembunuhan di Wisma Pendeta)
Author : Agatha Christie (1930)
Translator : Drs. Budijanto T. Pramono
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan keenam, Agustus 2012
Format : Paperback, 368 pages

Sering aku heran mengapa seluruh dunia cenderung mengambil kesimpulan secara umum. Kesimpulan-kesimpulan begitu jarang sekali atau tak pernah benar, dan biasanya sangat tidak cermat. (p.268)

Baru saja Pendeta Clement mengatakan bahwa kematian Kolonel Protheroe merupakan berkah bagi umat manusia, baru diketahui bahwa Mrs. Protheroe berselingkuh dengan seniman setempat dan hendak lari, baru saja ada ancaman untuk sang Kolonel, serta tak pernah menjadi rahasia bahwa tidak ada yang menyukai sang Kolonel, kemudian dia ditemukan meninggal dunia di wisma pendeta. Terlalu banyak tersangka tetapi terlalu sedikit bukti, terlalu banyak keterangan, dan terlalu banyak prasangka. Kematian Protheroe sebenarnya tak terlalu menjadi persoalan, tetapi segalanya menjadi serius karena orang-orang yang seharusnya tak bersalah berpotensi menjadi korban fitnah dan praduga. Oleh karenanya, pembunuhan tetaplah pembunuhan, yang bersalah harus ditemukan.

Melalui narasi sang pendeta, kita diajak berkenalan dengan salah satu detektif wanita rekaan penulis, Jane Marple. Wanita tua ini tampaknya mengetahui segala sesuatu, mulai dari apa yang terjadi, kapan waktunya, hingga gosip terhangat di desa. Jika ada suatu kejadian penting, entah mengapa Miss Marple mendapat dorongan untuk berkunjung. Saat ada sesuatu terjadi di dekat rumahnya, entah bagaimana Miss Marple bisa berada di posisi yang tepat, di dekat jendela atau di kebunnya. Sebenarnya itu salah satu misteri juga, tetapi kembali ke pembunuhan Protheroe, dari sekian banyak kesaksian dan keterangan, satu-satunya yang meyakinkan hanyalah informasi dari Miss Marple yang sangat tepat dan deduksinya yang masuk akal.

Itu namanya intuisi—sesuatu yang terlalu dibesar-besarkan orang. Intuisi itu seperti membaca sebuah kata tanpa perlu mengejanya. Seorang anak tak dapat melakukannya, karena pengalamannya sangat kurang. Tapi orang dewasa tahu kata itu karena dia telah sering melihatnya sebelumnya. (p.122)

Kehidupan di desa sekecil St. Mary Mead memungkinkan setiap orang untuk saling mengenal. Satu dua hal aneh bisa menjadi pergunjingan, satu dua gerakan mencurigakan bisa menjadi prasangka, dan dengan adanya kasus kriminal, semua orang menjadi saling curiga dan khawatir. Dimulailah drama yang membumbui penyelidikan ini, mulai dari beberapa pengakuan yang dramatis, wanita tua yang histeris karena ancaman melalui telepon, hingga rahasia-rahasia kecil yang tak sengaja terbongkar.

Sejujurnya, terlalu banyak detail dalam buku ini yang membuat bosan. Pada beberapa bagian, narasi Clement terasa datar-datar saja. Drama di St. Mary Mead cukup memberi bumbu, meskipun tidak terlalu merata. Namun sentuhan cerdas penulis tetap terasa dalam caranya mengarahkan pembaca—bahkan sang pendeta, ke petunjuk yang salah. Selain itu, saya juga menikmati kekayaan karakter manusia yang ditampilkan dalam buku ini; istri pendeta yang berjiwa muda, keponakannya yang meledak-ledak, dokter yang humanis dengan caranya, inspektur yang sulit bekerja sama, kawan yang penggugup, arkeolog dan sekretarisnya yang menjadi sasaran empuk penggosip, dan lain sebagainya.

Pada kenyataannya, kebanyakan orang itu aneh, jika Anda mengenalnya dengan baik. Dan orang-orang normal kadang-kadang melakukan hal-hal yang mengherankan, dan orang-orang abnormal kadang-kadang malahan bertindak waras dan lumrah. Ternyata, satu-satunya jalan adalah membandingkan orang yang satu dengan orang lain yang kita kenal atau yang kita temui. Anda akan heran jika tahu bahwa sebenarnya manusia itu hanya terbagi menjadi tipe-tipe yang sangat sedikit jumlahnya. (p.315-316)

3/5 untuk pembunuhan, manusia, dan segala dramanya.

Review #11 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Mystery #2)

Review #18 for Lucky No.14 Reading Challenge category Once Upon a Time

4 responses to “The Murder at the Vicarage – Agatha Christie

  1. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Third Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s