Mata yang Enak Dipandang – Ahmad Tohari

mataJudul : Mata yang Enak Dipandang
Penulis : Ahmad Tohari
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi pertama, 2013
Format : Paperback, 216 halaman

Buku ini berisi kumpulan cerpen penulis yang diterbitkan di media massa antara tahun 1983-1997. Oleh karenanya, nuansa yang ditampilkan pun tak jauh-jauh dari masa itu. Namun, secara spesifik, setting besar yang ditampilkan Ahmad Tohari adalah kaum marginal, orang-orang yang terpinggirkan—pengemis, pengamen, pria tua yang sebatang kara. Termasuk di dalamnya juga ada masyarakat pedesaan yang masih memegang teguh tradisi, entah tradisi yang memang sudah lama ditinggalkan, tradisi yang menjadi polemik dalam masyarakat modern, dan—bahkan yang lebih sederhana—pertentangan batin seseorang yang hidup dalam tradisi.

Yang menarik dari buku ini adalah kekayaan tema dan sudut pandang yang jarang kita lihat—atau perhatikan—dalam kehidupan sehari-hari. Ahmad Tohari berhasil menghibur kita dengan pemikirannya yang unik mengenai penipu melalui kisah Penipu yang Keempat. Memang tak jarang kita berperan seperti tokoh dalam cerpen itu, tetapi pernahkan kita terpikir untuk menertawakan keadaan itu ketimbang memaki atau mengutuknya?

Kisah sesederhana Mata yang Enak Dipandang, Daruan, Sayur Bleketupuk, atau Harta Gantungan yang mengangkat sisi lain dari kemiskinan, menunjukkan bahwa kisah hidup manusia itu unik. Di balik ketidakmampuan ada pengorbanan untuk sedikit merasakan kemewahan, entah dengan cara yang baik atau buruk. Bila Jebris Ada di Rumah Kami adalah salah satu favorit saya, kisah yang menunjukkan bahwa untuk menjadi bagian masyarakat yang ‘bersih’, kita tidak bisa hanya menuntut saja, tetapi harus ikut ambil bagian dalam itu, mendukungnya melalui tindakan nyata.

Warung Penajem dan Salam dari Penyangga Langit mengisahkan kepercayaan yang kontroversial dari dua kutub yang sangat berbeda. Sementara kisah Paman Doblo Merobek Layang-Layang dan Kang Sarpin Minta Dikebiri sama-sama mengisahkahkan perubahan yang dialami oleh seseorang dari kutub yang berkebalikan juga. Adanya kisah semacam ini dalam satu buku—meski masa penulisannya berbeda—menunjukkan betapa kayanya satu tema bisa diusung dalam sudut pandang yang berkebalikan.

Akhirnya Karsim Menyeberang Jalan juga adalah favorit saya karena kesederhanaan temanya, serta kepolosan tujuan yang membuat saya trenyuh. Kisah ini juga menunjukkan ego masyarakat kota, yang tanpa disadarinya—mungkin karena terlalu abai—bisa merampas hak orang lain. Kisah ini agak berbau supranatural, meski tak sekental Pemandangan Perut yang juga mengandung kritik sosial yang cukup pedas. Rusmi Ingin Pulang mengangkat prasangka, kisah Dawir, Turah, dan Totol menunjukkan sisi lain yang mungkin lebih sering kita generalisasikan pada kaum marginal, sedangkan Bulan Kuning Sudah Tenggelam adalah potret sebuah keluarga tradisional yang harus berhadapan dengan perubahan anggota keluarganya.

Lima belas kisah pendek dengan tema bervariasi dan berbagai simbol yang bisa ditelaah secara berbeda. Rasanya buku ini layak dibaca untuk mengingatkan betapa beragamnya cara hidup dan pola berpikir manusia. Bahkan suatu masyarakat yang kita anggap seragam ternyata memiliki banyak pertentangan di dalamnya. Sesuatu yang sebenarnya kita ketahui, tetapi seringkali kita lupakan.

4/5 bintang untuk kompleksitas dalam kesederhanaan.

“Mata orang yang suka memberi tidak galak. Mata orang yang suka memberi, kata teman-teman yang melek, enak dipandang. Ya, kukira betul; mata orang yang suka memberi memang enak dipandang.” (hal.14)

Review #13 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge

Review #20 for Lucky No.14 Reading Challenge category (Not So) Fresh From the Oven

Agustus #1 : Tema Lokal

Agustus #1 : Tema Lokal

16 responses to “Mata yang Enak Dipandang – Ahmad Tohari

  1. Waktu ada buku gratis untuk direview di FB BBI, aku milih ini tapi telat😦
    Sepertinya menarik ya karena karya Ahmad Tohari biasanya bagus

  2. Bukunya ini udah jadi wishlistku..Sejauh ini suka sama tulisannya Ahmad Tohari. ^^

  3. buku ini sudah kubeli sebenarnya..pas mau dicari untuk posbar ini nggak tau keselip dimana.
    ahmad tohari emang top deh..seingatku dulu ada ada artikel biografi singkatnya, pengen juga sih dibagikan ke milis

  4. Aku juga suka karangan2nya si Bapak ini. Kemarin sempat mau ripiu Bukit Cibalak buat posbar, tapi kelamaan nunggu waktunya, akhirnya tengah2 bulan udah muncul duluan. Skrg masih nimbun yang Bekisar Merah, kpan ya bisa kebacanya😄

  5. Buku yg selalu eye catching di Gramedia. Bisa jadi whislist🙂
    @banghelvry Profil dan wawancara Ahmad Tohari ada di kompas minggu beberapa mnggu lalu.

  6. Pingback: Scene on Three (52) | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s