If on a winter’s night a traveler – Italo Calvino

17133617Title : If on a winter’s night a traveler (Se una note d’inverno un viaggiatore)
Author : Italo Calvino (1979)
Translator : William Weaver

Watch out: it is surely a method of involving you gradually, capturing you in the story before you realize it—a trap.

Suatu hari, kau pergi ke toko buku, melewati rak demi rak yang sudah kauklasifikasikan seperti ini. Entah mengapa hari itu kau menginginkan sesuatu yang baru, dan pilihanmu tertuju pada sebuah buku berjudul If on a winter’s night a traveler karya Italo Calvino, penulis yang sama sekali baru untukmu. Sesampaimu di rumah, kau mempersiapkan diri untuk membacanya, supaya tak ada yang menginterupsi proses bacamu. Kau sudah siap.

If on a winter’s night a traveler bercerita dengan sudut pandang orang pertama, seolah berbicara dengan pembacanya, sang narator berulang kali memperingatkanmu tentang penulis dan caranya menulis. Narator itu sendiri menceritakan tentang persinggahannya di sebuah stasiun kereta api dengan asap tebal yang menutup pandangannya. Dia harus melakukan sebuah transaksi, tetapi orang yang dicarinya tak tampak. Stasiun sudah sepi, dia memutuskan untuk singgah di sebuah bar, untuk kemudian disuruh kembali, tanpa menyelesaikan transaksi itu.

Mengapa? Kau membalik halaman untuk menemukan jawaban, tetapi malah menemukan halaman yang terduplikasi. Tidak! Bukumu cacat, kau harus segera kembali ke toko buku untuk menukarkannya, kau sudah sangat penasaran. Ternyata kau bukan satu-satunya, semua copy buku itu cacat. Penjualnya mengatakan bahwa sepertinya pencetakan buku itu tercampur dengan buku Outside the town of Malbork karya Tazio Bazakbal. Dia memberimu buku itu sebagai gantinya. Ternyata kau tidak sendirian, ada seorang Pembaca Lain yang mengalami hal yang sama. Seorang wanita yang menarikmu, kau mencuri kesempatan untuk mendekatinya, meminta nomor teleponnya, agar dapat berdiskusi tentang buku yang kalian baca itu sewaktu-waktu.

Kau pulang, melanjutkan bacaan yang terputus, tetapi Outside the town of Malbork adalah cerita yang sama sekali berbeda. Kau tetap membacanya, sebuah novel terjemahan dari Polandia, katanya, dengan begitu banyak nama asing. Kemudian terjadi lagi, kau menemukan halaman kosong—tidak, ceritanya baru berubah seru. Kau pun menghubungi Ludmilla—si Pembaca Lain—untuk mendiskusikan ini. Wanita itu mengajakmu ke sebuah universitas untuk mencari teks asli buku ini yang kabarnya bukan berasal dari Polandia.

Kemudian, sebelum kau sadari, kau sudah terseret ke dalam perjalanan yang tampaknya tak akan berakhir. Dari sebuah novel tanggung ke novel tanggung lagi. Kau menemui profesor yang mendalami sastra yang sudah punah, kau menemui editor di penerbit yang bersangkutan, kau mencari penulis yang diduga kuat memiliki kisah itu, kau mencari penerjemah yang tampaknya merupakan awal dari masalah ini—manakah naskah yang asli, manakah yang sebenarnya ditulis oleh penulis yang kaucari.

“What does the name of an author on the jacket matter? Let us move forward in thought to three thousand years from now. Who knows which books from our period will be saved, and who knows which authors’ names will be remembered? Some books will remain famous but will be considered anonymous works, as for us the epic of Gilgamesh; other authors’ names will still be well known, but none of their works will survive, as was the case with Socrates; or perhaps all the surviving books will be attributed to a single, mysterious author, like Homer.”

Kira-kira seperti itulah gambaran kasar dari buku ini. Menggunakan kata ganti orang kedua pada bab yang menceritakan tentang si Pembaca novel, penulis seolah hendak menyeret pembaca menjadi pemeran utama dalam buku ini. Penulis dengan arogannya menceritakan bagaimana hubungan si Pembaca dengan buku yang dibacanya sedemikian akuratnya sehingga pembaca mana pun pasti merasakan keterikatan padanya. Tak sampai di situ saja, pada pertengahan buku, penulis menyeret si Pembaca Lain, Ludmilla, yang tadinya menggunakan kata ganti orang ketiga menjadi orang kedua. Ya, ada dua orang kedua, dua karakter utama yang digambarkannya, seolah menjebak pembaca jenis apa pun ke dalam deskripsinya (oleh karena karateristik sang Pembaca dan Pembaca Lain agak berbeda).

Sebagaimana terlihat dalam sinopsis yang saya buat di atas, penulis seperti hendak menanamkan ide bahwa tidak ada yang pasti dalam industri penerbitan buku. Sebuah buku belum tentu ditulis oleh orang yang namanya tertera dalam sampul buku, seorang penerjemah belum tentu benar-benar menerjemahkan karya yang judulnya dia tuliskan—apalagi jika sedikit orang menguasai bahasa asli buku tersebut, dan sebagian pembaca sengaja tidak mau memasuki wilayah itu karena tidak ingin kehilangan kenikmatan membaca dengan caranya masing-masing.

“There’s a boundary line: on one side are those who make books, on the other those who read them. I want to remain one of those who read them, so I take care always to remain on my side of the line. Otherwise, the unsullied pleasure of reading ends, or at least is transformed into something else, which is not what I want.”

Bukan hanya ‘label’ buku yang bisa dimanipulasi, sebuah pemikiran yang tertulis pun bisa bermakna berbeda dari yang dimaksudkan. Itulah mungkin salah satu alasan beberapa buku diberedel dan dilarang. Pun kemungkinan sebuah buku bisa menyelipkan pemikiran yang hanya tersirat saja.

with a written language it is always possible to reconstruct a dictionary and a grammar, isolate sentences, transcribe them or paraphrase them in another language,

Let’s be frank: every regime, even the most authoritarian, survives in a situation of unstable equilibrium, whereby it needs to justify constantly the existence of its repressive apparatus, therefore of something to repress.

Namun di atas itu semua, ada seorang penulis yang menjadi tokoh dalam buku ini, yang meski menyadari adanya kepalsuan dan manipulasi yang tak terhindarkan, mengharapkan pembaca yang benar-benar ‘membaca’. Bukan sekadar menganalisis sebuah buku dari kata-kata semata, tetapi menikmati membaca sebagai suatu kebutuhan untuk membaca itu sendiri.

“I expect readers to read in my books something I didn’t know, but I can expect it only from those who expect to read something they didn’t know.”

As long as I know there exists in the world someone who does tricks only for the love of the trick, as long as I know there is a woman who loves reading for reading’s sake, I can convince myself that the world continues….

I would like to be able to write a book that is only an incipit, that maintains for its whole duration the potentiality of the beginning, the expectation still not focused on an object. But how could such a book be constructed?

Ide buku ini menarik, dan diombang-ambingkan dalam kisah menarik yang satu ke kisah menarik yang lain juga menarik. Kita dibuat seakan membaca cuplikan beberapa novel dalam satu novel, meski tak akan pernah mengetahui akhirnya. Namun sungguh, meski secuplik, tak rugi membaca kisah-kisah tersebut. Rasanya akan terlalu panjang jika saya menjabarkan mutiara-mutiara yang saya temukan dalam buku ini, yang jelas, selain menyampaikan apa yang akan saya kutip di bawah ini, cuplikan-cuplikan kisah tersebut nyatanya menunjukkan betapa penulis hendak menyampaikan hal-hal ini melalui tulisannya.

“If a book truly interests me, I cannot follow it for more than a few lines before my mind, having seized on a thought that the text suggests to it, or a feeling, or a question, or an image, goes off on a tangent and springs from thought to thought, from image to image, in an itinerary of reasonings and fantasies that I feel the need to pursue to the end, moving away from the book until I have lost sight of it. The stimulus of reading is indispensable to me, and of meaty reading, even if, of every book, I manage to read no more than a few pages. But those few pages already enclose for me whole universes, which I can never exhaust.”

“I, too, feel the need to reread the books I have already read,” a third reader says, “but at every rereading I seem to be reading a new book, for the first time. Is it I who keep changing and seeing new things of which I was not previously aware? Or is reading a construction that assumes form, assembling a great number of variables, and therefore something that cannot be repeated twice according to the same pattern?”

“Do you believe that every story must have a beginning and an end? In ancient times a story could end only in two ways: having passed all the tests, the hero and the heroine married, or else they died. The ultimate meaning to which all stories refer has two faces: the continuity of life, the inevitability of death.”

Pada akhirnya, membaca adalah kegiatan yang sangat personal. Masing-masing orang memiliki caranya sendiri, mendefinisikannya sendiri, merasakan prosesnya sendiri, dan akan menginterpretasikannya sendiri. Begitu pula buku ini, review saya ini hanya secuil dari apa yang bisa diterjemahkan dari halaman-halamannya yang tak banyak. Buku ini ditulis dengan unik, dan memiliki cara yang unik untuk menyampaikan maksudnya, yang harus digali dengan unik pula.

Reading is solitude.

Sejujurnya, sejauh membaca bab demi bab buku ini, sulit menebak akan dibawa ke mana kita pada akhirnya. Saya sempat tidak yakin akan mendapatkan ending yang memuaskan. Tetapi ternyata saya bisa menganugerahkan 4/5 bintang untuk buku yang sukses ‘mengusili’ pembacanya ini, dengan sepenuh hati.

What makes lovemaking and reading resemble each other most is that within both of them times and spaces open, different from measurable time and space.

8 responses to “If on a winter’s night a traveler – Italo Calvino

  1. kalo aku baca buku ini, besoknya pasti jadi ga mau makan *LOL*

  2. udah punya bukunya tapi belum sempat baca. nanti baca deh.. jadi penasaran.. (mana yang nulis orang Italia pula)

  3. Pingback: Wishful Wednesday (48) | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: The Ringmaster’s Daughter – Jostein Gaarder | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s