American Gods – Neil Gaiman

4407Title : American Gods
Author : Neil Gaiman (2001)
Publisher : Review (imprint of Headline Book Publishing), 2005
Format : Paperback, 640 pages

‘My people went from here to America a long time ago. They went there, and then they returned to Iceland. They said it was a good place for men, but a bad place for gods. And without their gods they felt too…alone.’ (p.633)

Sejak ditemukannya benua Amerika, orang-orang dari Eropa berbondong-bondong berimigrasi ke sana. Lambat laun, orang-orang dari Afrika dan Asia, juga belahan lain dunia berimigrasi ke sana. Amerika menjadi lambang modernitas dan kemakmuran. Akan tetapi, jauh sebelum itu, imigran-imigran itu sesungguhnya ‘membawa’ serta dewa-dewa mereka. Mereka membawa kepercayaan dan keyakinan mereka, hingga lambat laun, terseret oleh arus hidup modern, dewa-dewa yang mereka bawa akhirnya tergeser dan terlupakan.

‘Gods die. And when they truly die they are unmourned and unremembered. Ideas are more difficult to kill than people, but they can be killed, in the end.’ (p.65)

Shadow tiga tahun tinggal di penjara karena sesuatu hal yang terpaksa dilakukannya. Di penjara, dia selalu berhati-hati untuk tidak mencari masalah, meski tubuh besarnya menjamin dirinya aman dari para penjahat di dalam penjara. Dia menanti hari kebebasannya setenang mungkin, menantikan hari-hari bahagia saat dia berkumpul kembali dengan Laura, istri yang dicintainya. Namun, menjelang hari kebebasannya, keadaannya menjadi di luar dugaan. Hidup Shadow tidak pernah sama lagi.

Dalam keterasingan dengan dunia yang ditinggalkannya, Shadow bertemu dengan Mr. Wednesday yang menawarkan pekerjaan untuknya. Wednesday yang misterius, yang selalu tahu ke mana Shadow bersembunyi dan selalu bisa menemukannya, yang berkeras untuk mempekerjakan Shadow sebagai asisten, sopir, sekaligus bodyguardnya. Shadow pun terikat perjanjian dengan Wednesday, memulai sebuah petualangan baru yang tak terbayangkan sebelumnya.

Shadow terseret dalam sebuah perang antara dewa-dewa kuno dengan dewa-dewa modern. Dia mendampingi Wednesday menyatukan dewa-dewa kuno yang terlupakan dan sudah terpecah belah. Entah bagaimana, perjanjian yang mengikat Shadow membuatnya loyal sepenuh hati pada Wednesday. Tanpa keterpaksaan, tanpa banyak mempertanyakan hal-hal ganjil yang harus dilakukan, dia melakukan tugasnya. Kemudian perlahan, misteri demi misteri kembali pada dirinya sendiri. Hal-hal yang dilakukannya dan yang terjadi padanya ternyata memiliki hubungan yang mengejutkan.

‘I feel,’ Shadow told her, ‘like I’m in a world with its own sense of logic. Its own rules. Like when you’re in a dream, and you know there are rules you mustn’t break, but you don’t know what they are or what they mean. I have no idea what we’re talking about, or what happened today, or pretty much anything since I got out of jail. I’m just going along with it, you know?’ (p.100)

Buku tebal ini sangat, sangat, luar biasa. Penulis memasukkan banyak unsur dalam buku ini, yang satu sama lain bisa menyatu dengan halus dan apik. Selain berbagai mitologi dan legenda yang menjadi unsur utama dalam karakterisasi, dewa-dewa imigran itu dibuat memiliki karakter manusiawi yang tak jarang menimbulkan simpati. Pun karakter-karakter manusianya, dengan berbagai konflik yang kaya dan beragam, tak sekadar menjadi pelengkap. Sebagai karakter utama, Shadow—sebagaimana karakter Gaiman pada umumnya—memiliki banyak sekali kekurangan. Namun, di luar dugaan, saya lebih mudah bersimpati padanya. Mungkin saya suka karena Shadow bukan seorang pengeluh. Sikapnya yang selalu menerima segala sesuatu terkadang mencengangkan, terlihat bodoh, tetapi menurut saya justru di situ kekuatannya.

Hubungan Shadow dengan Laura juga menjadi salah satu konflik yang kuat dalam buku ini. Laura yang sudah meninggal, karena sesuatu hal bangkit kembali menjadi mayat hidup. Shadow masih sangat mencintai istrinya meski Laura terbukti mencuranginya sewaktu dia masih di penjara, pun Laura juga tampak menyesali perbuatannya. Perasaan mereka tergambar kuat dalam buku ini, Laura yang begitu ingin hidup, dan Shadow yang bimbang antara ingin menghidupkan Laura kembali atau melepaskannya. Salah satu adegan paling emosional menurut saya adalah pertemuan keduanya di sebuah pemakaman, saat Laura untuk pertama kalinya mengkritisi sikap Shadow yang selalu menerima, mengatakan bahwa Shadow ‘tidak hidup’. Perdebatan inilah yang nantinya menjadi titik balik hubungan mereka.

Wednesday yang misterius juga berkembang seiring jalannya kisah. Semakin lama interaksi Shadow dengan Wednesday, kelemahan-kelemahan dan sifat manusiawi Wednesday semakin nampak. Dia yang pada mulanya terkesan dingin, lambat laun berhasil menumbuhkan simpati saya.

Shadow said softly, ‘You’re a god.’
Wednesday looked at him sharply. He seemed to be about to say something, and then he slumped back in his seat, and looked down at the menu and said ‘So?’
‘It’s a good thing to be a god,’ said Shadow.
‘Is it?’ ask Wednesday, and this time it was Shadow who looked away.
(p.386)

Dunia yang dibangun dalam buku ini berjalan paralel, ada Amerika dengan segala detail geografis yang sesungguhnya, dibumbui dengan berbagai tempat ajaib di tempat-tempat tersebut. Penulis dapat dengan ajaib membuat sebuah portal dari karosel raksasa, membuat karakternya berpindah ke ‘belakang panggung’ dengan sebuah belokan misterius, bahkan menggambarkan dunia setelah kematian menurut imajinasinya. Penulis menggambarkannya dengan segala detail yang membuat pembaca mampu masuk ke dalam dunia tersebut tanpa merasa tersesat. Salah satu tempat menarik dalam buku ini adalah kota Lakeside, yang dikatakan sebagai tempat paling aman dan tenang. Shadow menghabiskan beberapa waktu tenang di sana sebelum tugas memanggilnya kembali. Dan ternyata, siapa sangka bahwa tempat itu menyimpan rahasia yang mengerikan dan mencengangkan.

Buku ini begitu kaya, hal-hal besar yang mendalam, sampai hal-hal kecil yang membuat buku ini menarik. Hal sesederhana trik koin yang merupakan keahlian Shadow dapat memberikannya banyak pengalaman dalam interaksinya dengan orang maupun dewa lain. Di antara suasana yang gelap, terselip juga berbagai humor, ironi, ataupun selingan kisah cinta yang manis. Pada pergantian bab, terkadang diselipkan kilas balik kisah dewa-dewi di masa lampau yang tidak berhubungan langsung dengan alur besarnya. Kemudian kesemua hal-hal kompleks, beberapa hal sederhana, dan berbagai hal yang tak terpikirkan menyatu menjadi satu kisah yang luar biasa.

Jika boleh saya simpulkan, kisah ini adalah kisah Shadow. Bagaimana seorang mantan narapidana yang tak memiliki tujuan hidup bisa memperjuangkan sesuatu yang diinginkan—atau tidak diinginkan—olehnya. Bagaimana dia yang tadinya dianggap ‘tidak hidup’ pada akhirnya menemukan kehidupan yang sesungguhnya. Bagaimana dia yang hanya ingin hidup tenang, atau mati dengan tenang, menemukan makna dalam kehidupan dan kematian.

Shadow wanted to point out to Mad Sweeney that that was a kind of bitter philosophy, but he suspected it was the being dead that made you bitter. (p.241)

5/5 bintang untuk masterpiece dari sang master story-teller.

‘You people talk about the living and the dead as if they were two mutually exclusive categories. As if you cannot have a river that is also a road, or a song that is also a color.’ (p.523)

Review #28 for Lucky No.14 Reading Challenge category Chunky Brick

Review #19 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Book Award Winner) [Bram Stoker Award for Best Novel (2001), Hugo Award for Best Novel (2002), Nebula Award for Best Novel (2002), Locus Award for Best Fantasy Novel (2002), International Horror Guild Award Nominee for Best Novel (2001), World Fantasy Award Nominee for Best Novel (2002), SFX Award for Best Novel (2002), Geffen Award (2003), Mythopoeic Fantasy Award Nominee for Adult Literature (2002), Prix Bob Morane for roman traduit (2003)]

9 responses to “American Gods – Neil Gaiman

  1. Pingback: Scene on Three (62) | Bacaan B.Zee

  2. This is a book I could read over and over and over. I was completely blown away by its magnificence.

  3. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 1: Top Five Male Characters | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 2 : Top Five Most Memorable Quotes | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 5: Top Five Most Favorite Books | Bacaan B.Zee

  7. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: Scene on Three (96) : Giveaway Winner | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s