Out of the Dust – Karen Hesse

out of the dustTitle : Out of the Dust
Author : Karen Hesse (1997)
Publisher : Scholastic Inc.
Edition : 7th printing, Apple Signature Edition
Format : Paperback, 228 pages

I don’t want to die,
I just want to go,
away,
out of the dust.
(p.149)

Billie Jo Kelby lahir pada Agustus 1920. Ayahnya sangat menginginkan anak laki-laki hingga memperlakukan anak perempuannya itu sebagaimana anak laki-laki. Tetapi Billie Jo masih memiliki persamaan dengan ibunya, dia suka memainkan piano, meski ibunya tak suka jika dia mengorbankan sekolahnya demi musik. Billie Jo mengisahkan hidupnya di usianya yang keempat belas, bagaimana ayahnya setia menanti hujan demi ladang gandumnya, bulan demi bulan yang kering dan berdebu. Saat itu ibunya sedang hamil lagi, berusaha sepenuhnya mengatasi kondisi keluarganya, di Oklahoma yang terancam kelaparan.

Hujan yang dirindukan tak juga hadir, hanya debu dan badai debu, membuat ladang-ladang semakin memburuk, tanaman-tanaman enggan hidup, dan rumah-rumah menjadi suram. Di masa-masa genting ini, sebuah kecelakaan fatal terjadi di rumah Kelby. Ayahnya meletakkan minyak tanah di dekat kompor, ibunya yang mengira itu air tak sengaja membakarnya, kemudian Billie yang berusaha membereskan kekacauan justru membuatnya lebih kacau, tanpa disengaja.

“Billie Jo threw the pail,”
they said. “An accident,”
they said.
Under their words a finger pointed.

They didn’t talk
about my father leaving kerosene by the stove.

(p.71)

Kecelakaan itu membuat luka menganga di keluarga itu, luka yang tak kunjung membaik, lahir dan batin. Kedua tangan Billie terluka sehingga dia sama sekali tak bisa bermain piano. Hatinya juga terluka karena sikap ayahnya yang berubah murung dan dingin. Billie Jo yang sebelumnya adalah gadis remaja dengan kehidupan remajanya—sekolah, mendapatkan uang ekstra dari bermain piano, jatuh cinta pada anak laki-laki, bermimpi, dan lain sebagainya—kini harus lari dari segala kenangan yang menyakitkan saat keluarganya masih baik-baik saja, meski serba kekurangan. Cita-citanya yang paling utama adalah keluar dari lingkungan rumahnya yang berdebu, kapan pun dia bisa, bagaimana pun caranya.

“We weren’t always happy,” I tell Louise.
“But we were happy enough
until the accident.
When I rode the train west,
I went looking for something,
but I didn’t see anything wonderful.
I didn’t see anything better than what I already had.
Home.”
(p.217)

Jika melihat beberapa kutipan buku ini yang saya cantumkan di atas, terlihat bahwa buku ini bukan terdiri dari paragraf-paragraf sebagaimana novel pada umumnya. Buku ini berisi bait-bait kisah Billie Jo yang diceritakan melalui suaranya sendiri. Dengan cara begini, buku ini terkesan agak puitis, sekaligus mudah dan cepat dicerna.

Dengan sedikit kata-kata, penulis berhasil menghasilkan efek emosional yang dahsyat. Setiap beberapa halaman, ada saja yang membuat saya harus berhenti membaca, karena aura depresi yang sangat pekat. Setting waktu kisah ini memang pada masa-masa depresi (Depression Era) yang mengikuti Perang Dunia II. Badai debu yang terjadi pada buku ini (tahun 1934) juga merupakan satu rangkaian Dust Bowl dari badai yang terjadi berturut-turut di Amerika Serikat saat itu.

Aura depresi semakin memekat pasca kecelakaan di keluarga Kelby. Di sini, selain depresi karena kondisi alam dan negara, konflik batin para anggota keluarga, terutama Billie Jo, semakin ditampakkan. Anak dan ayah yang berjuang keras untuk berdamai dengan keadaan, dengan diri mereka sendiri, dan untuk saling memaafkan.

He stares at me,
maybe he is looking for Ma.
He won’t find her.
I look like him,
I stand like him,
I walk across the kitchen floor
with that long-legged walk
of his.
I can’t make myself over the way Ma did.

And yet, if I could look in the mirror and see her in
my face,
If I could somehow know that Ma
and baby Franklin
lived on in me . . .

But it can’t be
I’m my father’s daughter.

(p.113-114)

Jika ditilik secara ukuran buku, Out of the Dust ini bisa saja dibaca dalam sekali duduk. Namun melihat isinya, rasanya mustahil ada orang yang bisa tega menyantap kisah suram ini sekaligus tanpa istirahat. Pengalaman saya membandingkan reaksi bacaan terhadap teman sesama blogger, saya memiliki ambang penerimaan yang sangat tinggi terhadap kisah-kisah gelap. Untuk yang satu ini, saya akui, saya tidak kuat. Tingkat kegelapan dan depresinya sungguh sangat tinggi sekali, meski—kabar gembiranya—kisah ini tetap berakhir bahagia.


I am because of the dust.
And what I am is good enough.
Even for me.
(p.222)

4/5 bintang untuk kisah yang meremukkan hati.

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #31 for Lucky No.14 Reading Challenge category Cover Lust (I admit it’s a strange taste, but yes, the dark nuance of the cover made me curious)

Review #20 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Historical Fiction)

November #1 : Newbery Book List

 

2 responses to “Out of the Dust – Karen Hesse

  1. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s