Short Stories – Émile Zola

Title : The Miller’s Daughter, Captain Burle, Death of Olivier Becaille
Author : Émile Zola
Publisher : Project Gutenberg
Edition : November 10, 2012 [EBook #1069]
Format : ebook

Setelah membaca tiga novelnya, saya mendapat dua kesan kuat tentang karya Zola: kekuatan deskripsi dan kisah yang mencengangkan di antara manusia-manusia dengan sifat-sifat dasarnya yang ditampakkan ‘apa adanya’. Apakah hal ini berlaku untuk cerita pendeknya?

The Miller’s Daughter berkisah tentang kincir air serta pemiliknya, Pere Merlier. Cerita bermula saat Francoise Merlier bertunangan dengan Dominique Penquer, dan merencanakan pernikahan di Saint Louise’s Day. Pada masa itu, kabar mengenai serangan pasukan Prussia sudah semakin santer terdengar, hingga pagi hari sebelum Saint Louise’s Day, dikabarkan akan ada serangan ke Rocreuse, desa mereka. Pasukan Prancis sudah siap dan, sialnya, mereka memilih kincir air Merlier sebagai benteng. Merlier tidak bisa menolak permintaan itu meski hatinya berat. Pernikahan putrinya tidak akan berlangsung.

Dalam cerpen ini, kekuatan deskripsi Zola masih terasa. Selain gambaran mengenai lokasi kisah ini terjadi, gambaran mengenai peperangan yang terjadi juga lumayan detail untuk sebuah cerita pendek.

When Pere Merlier was advised to change it he shook his head, saying that a new wheel would be lazier and would not so well understand the work, and he mended the old one with whatever he could put his hands on: cask staves, rusty iron, zinc and lead. The wheel appeared gayer than ever for it, with its profile grown odd, all plumed with grass and moss. When the water beat upon it with its silvery flood it was covered with pearls; its strange carcass wore a sparkling attire of necklaces of mother-of-pearl.

Namun cerpen ini sangat ‘ringan’ untuk ukuran Zola. Meski alurnya menegangkan, terutama tentang bagaimana nasib pasangan tersebut di tengah-tengah peperangan, tidak ada kejutan khasnya dalam mengeksplorasi sifat dasar manusia. Kisah ini pun berakhir sebagai kisah cinta yang manis.

Captain Burle tinggal bersama ibunya, Mme Burle, dan putranya, Charles, di sebuah kota kecil bernama Vauchamp. Suatu malam, Major Laguitte, rekan Captain Burle datang ke apartemen Burle dan menemukan bahwa yang dicarinya tidak ada. Dia terpaksa menceritakan pada Mme Burle tentang kecurangan yang dilakukan putranya, yang bertugas mengurus keuangan, atas pembayaran tukang daging, yang menyebabkannya berutang 2000 francs, jumlah yang sangat besar untuk keluarga sederhana mereka. Burle menghabiskan uang itu untuk minum-minum dan berjudi, hingga malam itu juga, Laguitte menyeretnya keluar dan memaksanya berjanji untuk tak kembali lagi.

Beberapa bulan berlalu, Burle sudah tak pernah keluar malam, dan keuangan tampak berjalan baik. Hingga suatu hari, Laguitte memperhatikan bahwa selama ini, ada selisih kecil dalam laporan keuangan Burle tiap harinya. Dia pun kembali mengecek Burle di malam hari, dan ternyata kawannya itu sudah kembali ke kebiasaan lamanya. Kemarahan membuatnya menantang Burle untuk berduel, dan sang Major melakukan sesuatu yang fatal.

Paul Cézanne, Paul Alexis reading to Émile Zola, 1869–1870, São Paulo Museum of Art (source)

Cerpen kedua ini lebih kental konflik, menampakkan bagaimana jika manusia dikontrol oleh nafsunya, hingga melupakan keluarga dan dedikasi. Captain Burle adalah sosok manusia yang telah dikalahkan oleh nafsu, dan tampaknya tak ada yang bisa mengubahnya. Meski akhir dari kisah ini cukup mengharukan, tak ada hal-hal fantastis ataupun luar biasa yang mengguncangkan keseluruhan kisah ini.

Death of Olivier Becaille adalah favorit saya di antara tiga cerpen ini. Dengan kalimat pembuka yang langsung menuju sasaran:

It was on a Saturday, at six in the morning, that I died after a three days’ illness. My wife was searching a trunk for some linen, and when she rose and turned she saw me rigid, with open eyes and silent pulses.

Cerita ini mengisahkan bagaimana Olivier, yang masih bisa mendengar dan merasakan (juga sedikit melihat satu titik sebelum matanya ditutup), harus menghadapi proses pemakamannya sendiri. Tak hanya kekhawatiran dikubur hidup-hidup, Olivier juga harus mendengarkan tanda-tanda istrinya yang dihibur oleh pria lain, yang dibayangkannya mengambil kesempatan dari kesedihan dan ketidakberdayaan istrinya saat itu. Pria itu, yang juga menguruskan pemakaman Olivier, tampak seolah ingin mempercepat proses pemakamannya, hal yang membuat Olivier semakin merana.

Kemudian bagian menegangkannya adalah saat Olivier akhirnya berhasil ‘bangun’ kembali. Zola menggambarkan dengan rinci saat dia berusaha membuka peti matinya sendiri, menggali tanah yang menimbunnya, dan berusaha kembali ke atas tanah sebelum dia benar-benar meninggal lagi karena kehabisan oksigen. Berhasilkah dia? Berapa lama sudah dia dikuburkan? Apakah dia bisa kembali hidup normal setelahnya?

Was this strange state of torpor, this immobility of the flesh, really death, although the functions of the intellect were not arrested? Was my soul only lingering for a brief space before it soared away forever?

Kisah ini menarik karena temanya yang unik. Olivier tampaknya menderita kelainan aneh, yang mungkin bermula dari sakit masa kecilnya—meski belum pernah seekstrem kematian—yang belum bisa dideteksi oleh medis pada masa itu. Tapi jauh di balik itu, Zola tampaknya menggelitik pembacanya dengan kematian, dan bagaimana peran kita di dunia ini saat kita hidup dan meninggal dunia.

I am an ordinary man who has toiled and eaten like anybody else. Death no longer frightens me, but it does not seem to care for me now that I have no motive in living, and I sometimes fear that I have been forgotten upon earth.

5 responses to “Short Stories – Émile Zola

  1. Yang nomer 3 tuh syeremmm…

  2. Pingback: Third Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Zoladdiction 2015 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s