Kindle Paperwhite [E-Reader Review]

2013-12-22 09.24.12Sebenarnya sudah setahun saya membeli Amazon Kindle Paperwhite, tetapi saya memang hendak memakainya untuk beberapa lama sebelum membuat review ini. Apalagi frekuensi membaca ebook saya tak sebanyak membaca buku cetak. Bagi saya pribadi (dan banyak pembaca lain) buku cetak masih tak tergantikan, tetapi ebook tak dipungkiri mempermudah akses ke buku-buku langka dan/atau mahal. Sejak mengenal Project Gutenberg, saya langsung jatuh cinta dan bergantung pada produsen ebook pertama dan terbesar itu. Masalahnya adalah, saya jarang bisa menyelesaikan novel panjang di layar ‘bersinar’. Pengalaman saya membaca di laptop ataupun smartphone: mata cepat lelah karena cahayanya (meredupkan tidak menjadi solusi untuk saya), baterai cepat habis, terdistraksi oleh aplikasi lain (dan internet!). Jadi saya memutuskan bahwa tablet yang bisa segalanya mungkin tidak tepat untuk kebutuhan saya. Saya berniat membeli ereader dengan teknologi e-ink yang katanya sama seperti membaca di atas kertas.

Oleh karena saya tidak punya pengalaman dengan ereader, saya merasa harus membelinya di toko, bukannya memesan online. Sedangkan kendalanya, di Indonesia, toko yang menyediakan ereader hanya ada di Jakarta, itu pun tidak banyak. Momen IRF 2013 ternyata adalah saat saya bisa sekaligus bertualang mencari ereader di tokonya sendiri. Ternyata saya tidak salah mengambil keputusan dengan jauh-jauh mendatangi tokonya (di area pertokoan Mangga Dua), setelah mendarat sendiri di tokonya, saya mendapatkan pelayanan yang ramah mengenai bagaimana memilih ereader yang sesuai dengan kebutuhan saya.

Berdasarkan pengarahan dari sang penjual, saya mendapatkan gambaran bahwa:

  1. Kindle hanya bisa membaca ebook format mobi, pdf, dan txt, itu pun tidak ada opsi auto adjust untuk format pdf (Nook dan Kobo lebih bersahabat untuk format pdf). Jadi jika font yang muncul terlalu kecil, saat diperbesar maka kita harus menggeser-geser layar saat membacanya. Bagi saya, karena saya leluasa memilih format ebook, terlebih dengan adanya converter gratis, maka tidak masalah jika harus mengganti format ebook-ebook saya dengan mobi.
  2. Teknologi layar e-ink ternyata ada generasinya. Di antara ereader yang sedang ada stok di toko itu, teknologi e-ink yang paling mutakhir, yang lebih tajam tulisannya dan lebih ‘bersih’ layarnya ada pada Kindle Paperwhite. Selain itu, respon sentuhnya juga bagus (karena prosesornya yang ‘lebih’), jadi perpindahan halamannya relatif lebih cepat ketimbang merk lain yang ada di sana saat itu. Ditambah lagi, yang paling mutakhir saat itu, ada built-in light yang memungkinkan Kindle dibaca dalam gelap.
  3. Ebook untuk Kindle hanya bisa dibeli di Amazon, itu pun terbatas oleh restriksi geografis. Saat itu saya memang tidak pernah berpikiran untuk membeli ebook. Yang pertama karena saya memang menghindari memiliki kartu kredit, yang kedua saya cenderung membaca ebook yang sudah public domain, jadi bisa diunduh secara gratis.
  4. Satu hal yang menjadi pertimbangan terbesar saya adalah daya tahan baterai. Baterai Kindle bisa bertahan lebih dari dua minggu, sedangkan merk lain yang saya incar (kata penjualnya, saya sendiri belakangan tidak yakin) hanya bertahan paling tidak seminggu.
  5. Kindle tidak memiliki memori eksternal, sedangkan memori internalnya hanya 2 GB. Dengan segala pertimbangan di atas, akhirnya saya tidak keberatan jika storage ebook tetap di komputer. Jadi jika memori Kindle sudah penuh, tinggal dipindahkan saja ke komputer.

Meski awalnya target budget saya di bawah 1,5 juta, dan kemudian saya mendapatkannya sedikit di bawah 2 juta, saat itu memang rasanya Kindle Paperwhite yang cocok untuk kebutuhan saya (note: barang second, kondisi 90%). Setelah itu, saya mendapatkan beberapa pesan dari sang penjual:

  1. Meski Kindle Paperwhite memiliki browser dan dapat terkoneksi melalui wifi, lebih baik mengunduh ebook melalui komputer dan memindahkan ke Kindle menggunakan kabel data. Waktu itu, sang penjual tidak mengatakan alasannya secara jelas, tetapi setelah menggunakannya sendiri, saya jadi bisa menarik kesimpulan. Kindle, setelah terintegrasi dengan akun Amazon kita, akan tersinkronasi secara otomatis setiap kita menghubungkannya dengan internet. Artinya, Amazon selalu memantau ebook apa saja yang ada di Kindle, seberapa jauh yang sudah kita baca, segala bookmark dan rak-rak yang kita buat juga bisa terlihat. Jadi, meski mengunduh ebook legal di Project Gutenberg, Amazon juga akan mengetahuinya, dan saya tidak mengambil risiko untuk mengetahui apa yang terjadi jika Amazon mendeteksi hal itu.

Kesimpulan itu saya ambil setelah melalui berbagai kejadian. Mula-mula, karena kebetulan memiliki gift card dari Amazon, saya pernah mencoba untuk membeli ebook di sana. Saya mengintegrasikan akun Amazon saya ke Kindle, mengganti alamat dengan region US, dan bisa bertransaksi dengan bebas melalui Kindle yang terhubung wifi. Saya sempat mendapatkan notifikasi mengenai “apakah saya sedang bepergian” karena Amazon mendeteksi lokasi saya di Asia Pasifik. Belakangan saya pikir, mungkin saya mendapatkan pertanyaan itu karena Kindle yang saya miliki pernah digunakan orang lain yang (asumsi saya) berdomisili di US. Jadi saya aman dari restriksi geografis.

Kemudian saya membaca keluhan salah satu pengguna Kindle yang kehilangan ebooknya karena alasan yang tidak jelas, padahal dia sudah membelinya di Amazon. Kesimpulannya, Amazon hanya semacam menyewakan buku saja, ebook tidak pernah menjadi milik kita meski istilahnya ‘membeli’. Karena beberapa keluhan pelanggan Amazon mengenai ini, saya sekarang cenderung lebih hati-hati, dan sebisa mungkin menghindari menghubungkan Kindle dengan internet, meski berkali-kali dianjurkan untuk online setiap kali saya mengubah rak-rak dalam Kindle. Jadi belakangan ini, untuk membeli ebook melalui Amazon tetap saya lakukan di komputer, baru kemudian saya pindahkan ke Kindle secara offline.

  1. Semua teknologi layar e-ink sangat peka terhadap tekanan. Jadi jika sedikit jatuh, tertekan oleh isi tas yang bermacam-macam, besar kemungkinan layar ereader rusak sama sekali dan harus diganti. Jadi benar-benar harus berhati-hati saat membawa dan mempergunakannya.

Read 1Sejauh ini, saya masih merasa nyaman menggunakan Kindle Paperwhite. Saya bisa menyelesaikan novel panjang selain Harry Potter, yang sebelumnya selalu mandek jika saya baca di komputer atau smarphone. Jumlah ebook yang saya baca setahun ini juga relatif lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dengan kata lain, ada beberapa buku klasik yang bisa saya baca tanpa harus menunggu mendapatkan buku fisiknya.

Pertama kali saya membaca menggunakan Kindle (kebetulan) saat listrik padam di malam hari dan saya sedang mati gaya. Memelototi smartphone membuat mata saya sakit dan berair karena kekontrasan sinarnya, akhirnya saya sekalian uji coba Kindle baru, dan ternyata enak sekali meski dibaca dalam gelap. Saya menghabiskan lebih banyak halaman dengan mata masih terasa nyaman ketimbang membaca di device lain. Ukuran dan jenis huruf bisa disesuaikan dengan kebutuhan dan kenyamanan, begitu pun jumlah cahaya yang dibutuhkan, mulai dari sangat gelap sampai sangat terang.

Saya juga termasuk cukup jarang men-charge Kindle. Dalam satu tahun ini, mungkin tak sampai sepuluh kali. Setidaknya empat buku pendek dan enam buku panjang yang sudah saya baca, ditambah dua kali menjadi pendamping saya dalam menerjemahkan suatu cerpen. Aktivitas yang bisa dipastikan membutuhkan daya baterai lebih dari sepuluh kali lipat jika saya menggunakan tablet, apalagi smartphone.

Sebagaimana ereader pada umumnya, Kindle juga dilengkapi dengan kamus Oxford offline, British maupun American, yang bisa diset sesuai default yang diinginkan, bahkan jika sedang online bisa terhubung ke Wikipedia. Ada Vocabulary Builder juga, yang memuat data kata-kata yang kita cari di kamus selagi membaca. Jadi kita bisa tahu kata-kata asing apa yang kita temukan, sekaligus sejauh mana perkembangan kosa kata kita.

Fitur bookmarks-nya juga ter-back up dalam file tersendiri. Jadi ceritanya pernah ada insiden tak disengaja, saat saya hendak memindahkan highlights di Kindle ke dalam laptop (entah karena cara saya salah atau memang tidak bisa), yang terjadi justru ebook di Kindle terbarui dengan ebook di laptop yang masih bersih tanpa bookmarks. File ebook yang sudah saya baca menghilang. Akhirnya saya mengutak-atik Kindle dan menemukan bahwa ada file My Clippings yang berisi rekaman kegiatan baca saya, mulai dari highlights, bookmarks, dan notes. Kita juga bisa mengetahui posisi membaca kita dalam suatu bab ataupun keseluruhan buku, yang tertulis dalam prosentase dari keseluruhan dan berapa halaman sebelum bab selanjutnya, atau sebelum buku selesai (tercantum dalam menit, tetapi umumnya terhitung satu halaman per menit).read 3

Sebagai pencinta buku anak, kekurangan Kindle adalah layarnya yang tak berwarna, saya jadi tak bisa membaca buku anak bergambar. Jadi untuk buku anak bergambar (yang untungnya sebagian besar relatif pendek), saya tetap menggunakan laptop atau smartphone. Belakangan saya juga agak tertarik dengan audiobook, yang masih belum terakomodasi oleh Kindle Paperwhite, tetapi mungkin ada pada Kindle generasi terbaru.

Saya tidak tahu bagaimana Kindle generasi yang lain, yang jelas Kindle Paperwhite memang sangat ‘merekam’ aktivitas baca. Jika sedang online, Kindle bisa langsung digunakan untuk merating buku di Amazon, memberi atau meminta rekomendasi dari pelanggan Amazon yang lain, melihat progress baca pengguna lain, dan lain sebagainya. Intinya benar-benar membangun komunitas, sebenarnya asyik juga mengetahui siapa saja yang sedang membaca buku yang sama dan mengetahui pendapatnya, tapi mungkin lain kali saja🙂

Detail dari Amazon.

Tempat saya membeli

Tempat saya membeli

8 responses to “Kindle Paperwhite [E-Reader Review]

  1. Nice review mba bzee.. jadi tahu apa kelebihan dan kekuarangan kindle.

  2. aku juga akhir2 ini jadi sering browsing ttg e-reader. incaranku bukan kindle sih, mahal dan kayak yg mba zee sebutkan tadi: ribet kalo harus pake alamat di amrik sono😀

  3. Zee, kalo rusak service-nya gimana?

    • Dari Amazon sendiri ngasi service gratis, bahkan kalo perlu replace juga bisa. Tapi kalo kasusku, aku tetep lewat tempat aku beli di Mangdu itu, nanti diuruskan sana.

  4. Wah, ada built in lightnya… Keren! Etapi, kalo segala kegiatan baca kita di ebook dipantau Amazon, ya seremlah. Lha aku ebooknya nyedot dari mana2. Ketahuan ilegal, terus piye?😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s