Short Stories – Oscar Wilde

Author : Oscar Wilde
Publisher : Signet Classic, New American Library
Edition : 16th printing, ©1983
Fomat : Paperback, p. 235-302

Contents:
1. The Happy Prince, from The Happy Prince, and Other Tales (1888)
2. The Birthday of the Infanta, from The House of Pomegranates (1891)
3. Lord Arthur Savile’s Crime, from Lord Arthur Saville’s Crime and Other Stories (1909)

Edisi The Picture of Dorian Gray yang saya baca memuat tiga cerpen Wilde yang diambil dari tiga kumpulan yang berbeda. Saya pasti berencana membaca kumpulan-kumpulan tersebut, jadi katakanlah ini sekadar pengantar untuk memperoleh sedikit gambaran mengenai beberapa cerpen Wilde, sebelum saya membaca keseluruhannya.

Illustration for the first edition by Walter Crane

The Happy Prince mungkin merupakan salah satu cerpen anak-anak Wilde yang paling terkenal. Mengisahkan tentang sebuah patung ‘Pangeran Bahagia’, yang melihat kenyataan bahwa dunianya tak seindah yang dulu dilihatnya saat dia masih hidup dan bahagia. Di suatu saat menjelang musim dingin, seekor burung walet yang sedang beristirahat di bawah sang patung menemukan bahwa Pangeran Bahagia sedang bersedih, kini saat dia bisa melihat orang-orang kelaparan, kesakitan, menderita dan kekurangan. Pangeran Bahagia meminta sang walet menunda migrasinya dan membantunya membagikan emas dan permata yang melekat di tubuhnya kepada mereka yang membutuhkan.

Then the swallow flew back to the Happy Prince and told him what he had done. “It is curious,” he remarked, “but I feel quite warm now, although it is so cold.”
“That is because you have done a good action,” said the Prince. And the little swallow began to think, and then he fell asleep. Thinking always made him sleepy.
(p.239)

Kisah ini sederhana, tapi dalam. Kisah ini menggelitik nurani kita tentang apa makna bahagia yang sejati, apa yang menjadi tolok ukurnya, serta sudut pandang yang berbeda mengenai kebahagiaan. Salah satu pernyataan filosofis dalam kisah ini adalah perbedaan reaksi orang-orang saat melihat perubahan sang Pangeran, dari patung yang cantik dan (terlihat) bahagia menjadi sesosok patung kusam karena tak utuh lagi. Dari komentar beberapa orang tersebut, terlihat bagaimana terkadang kita hanya melihat seseorang hanya dari penampilan luarnya, berdasar materi belaka. Namun jauh di dalam, ada sesuatu yang tak bisa dikalahkan, sebuah ketulusan yang disimbolkan dengan jantung sang Pangeran yang tak bisa dileburkan.

The Birthday of the Infanta menceritakan kemeriahan perayaan ulang tahun ke-12 sang Putri Raja Spanyol tersebut. Sang Raja sendiri tak ikut dalam pesta tersebut. Sejak kematian istrinya, dia tak mengenal kebahagiaan, selalu murung dan meratapi sang Ratu yang masih diawetkan, saking besarnya cinta sang Raja. Di antara hiburan di ulang tahun sang Infanta, dia paling terhibur dengan seorang cebol yang dengan sikap konyol dan kekurangan tubuhnya menjadi bahan tertawaan semua orang. Namun sesungguhnya, si cebol tersebut tidak tahu apa yang mereka tertawakan. Dia merasa sang Infanta menyukainya, hingga tanpa sengaja dia menemukan cermin dan menyadari apa sesungguhnya yang membuat orang-orang tampak senang jika melihatnya.

But somehow the birds liked him. They had seen him often in the forest, dancing about like an elf after the eddying leaves, or crouched up in the hollow of some old oak-tree, sharing his nuts with the squirrels. They did not mind his being ugly, a bit. (p.255)

Sayangnya, kebanyakan hanya melihat penampilan luar saja. Mereka tak merasa penting untuk mengetahui bagaimana perasaan dan sikap si cebol, di balik segala kekurangan fisiknya. Dalam cerita ini, penulis sempat menceritakan panjang lebar mengenai latar belakang sang Raja, saya rasa mungkin itu berhubungan dengan sikap sang Infanta. Kurangnya kasih sayang orang tua, terutama kelemahlembutan seorang ibu, membuat sang Infanta kurang peka dan kurang empati terhadap sekitarnya. Penutup dari kisah ini cukup mengena, terutama kalimat terakhir Infanta : “For the future let those who come to play with me have no hearts,” (p.263). Kalimat yang merangkum kesimpulan dengan menggetarkan.

Lord Arthur Savile’s Crime adalah sebuah kekonyolan menurut saya. Saat Lady Windermere mengundang orang-orang ke rumahnya, dia mendemonstrasikan kemampuan Mr. Podgers, seorang pembaca garis tangan, meramal para tamunya. Lord Arthur Savile, seorang pemuda yang penuh semangat tak ketinggalan ingin diramal olehnya. Namun saat melihat garis tangan Lord Arthur, wajah Mr. Podgers berubah tegang. Dia membaca kejahatan, tetapi menyimpannya dan hanya menyampaikannya saat berdua saja dengan Lord Arthur. Lord Arthur pun menghabiskan bulan demi bulan untuk merealisasikan kejahatan yang diramalkan tersebut, agar dia bisa menjalani kehidupan dengan normal setelahnya, tanpa dibayang-bayangi hal yang belum dilakukannya.

Sooner or later we are all called upon to decide on the same issue—of us all, the same question is asked. To Lord Arthur it came early in life—before his nature had been spoiled by the calculating cynicism of middle age, or his heart corroded by the shallow fashionable egotism of our day, and he felt no hesitation about doing his duty. (p.280)

Saya tidak bisa melihat karakter Lord Arthur selain konyol dan sulit dimengerti jalan pikirannya. Mungkin karena saya tak pernah percaya pada ramalan, sementara Lord Arthur sangat menganggap serius ramalan tersebut, hingga nekat melakukan apa saja. Meski kisahnya lumayan panjang, cerpen ini memiliki akhir yang terbuka. Pembaca dapat mengambil kesimpulan apa saja, karena segala yang terjadi telah terjadi. Pembaca bisa saja menganggap bahwa akhir kisah itu adalah akibat dari perbuatan Lord Arthur yang mengejar ramalan tersebut, atau bisa juga menganggap bahwa yang telah dilakukannya sia-sia belaka.

4 responses to “Short Stories – Oscar Wilde

  1. Tiap baca cerpen Oscar Wilde, yang saya pikirkan selalu, “Serius ini buat anak-anak?”

    Cerpen Oscar Wilde sangat sarkastis sampai rasanya nusuk ke hati nurani, kalau menurut saya sih. Nggak bikin nangis, tapi bikin stress.

    Sampai sekarang favorit tetap “Nightingale and the Rose”.

    • Memang anak2 akan menangkap cerita dgn cara yg beda dgn kita, kadang suka jg mikir apa yg mereka pikirkan setelah baca ini. Wah, belum baca cerpen yg itu.

  2. Pingback: Third Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s