Sharp Objects – Gillian Flynn

17924737Title : Sharp Objects
Author : Gillian Flynn (2006)

Sometimes it is all too loud.

Camille Preaker, jurnalis Daily Post Chicago, dikirim oleh editornya untuk meliput kasus pembunuhan di sebuah kota kecil, Wind Gap, di Missouri. Camille dipilih karena dia dibesarkan di lingkungan itu, dan kasus itu bukan kasus biasa. Seorang anak perempuan sembilan tahun dicekik hingga tewas, dan dibuang dalam keadaan gigi sudah tercabut semua. Kini seorang anak perempuan lagi dilaporkan hilang, dan terancam mengalami nasib yang sama. Berita eksklusif yang menghebohkan di sebuah kota kecil adalah lahan yang bagus untuk media.

Kedatangan Camille di Wind Gap adalah sebuah tantangan baginya. Wind Gap menyimpan trauma masa lalunya, kenangan yang ingin dilupakannya, rasa sakit kehilangan adik, ibu yang tak pernah akur, ayah tiri yang acuh, serta saudari tiri yang bermasalah. Pencarian berita yang dilakukannya mau tak mau membawanya kembali pada kehidupan masa lalunya. Dia harus menemui keluarganya—terutama ibunya, dia harus bicara dengan seisi kota—orang-orang yang mengenal masa kecilnya, dan dia harus berhadapan dengan rasa sakit dan masalah orang-orang lain, yang sedikit banyak menguak rasa sakitnya sendiri. Perlahan, rasa sakit dari sayatan yang dilakukannya di masa mudanya, yang meninggalkan bekas luka di sekujur tubuhnya, yang telah dikuburkan bersama sesi-sesi terapi, muncul kembali.

Sometimes I think illness sits inside every woman, waiting for the right moment to bloom.

Awalnya saya mengira akan menghadapi sebuah misteri pembunuhan dalam buku ini, tetapi ternyata buku ini lebih menampilkan konflik sebuah keluarga. Sebuah keluarga yang menyimpan luka selama beberapa dekade, dan diturunkan dari generasi ke generasi. Adora, ibu Camille, memiliki masalah dengan ibunya sendiri, hingga saat dia memiliki Camille, dia tak bisa memberikan kasih sayang selayaknya yang dibutuhkan seorang anak. Camille yang menjaga jarak dengan ibunya, sejatinya juga merindukan kasih sayang orang tuanya. Dia tak pernah bertemu ayahnya, sedangkan Adora lebih menyayangi adiknya. Sebuah hubungan yang rumit pun timbul, adakah hubungan yang telah tegang selama bertahun-tahun bisa diperbaiki? Apakah luka baru yang kini timbul dapat menghapuskan bekas luka-luka lama?

Buku ini benar-benar menggambarkan kerapuhan dan gangguan psikologis para karakternya melalui kejadian demi kejadian, serta pilihan-pilihan yang dilakukan oleh para karakternya. Kita dibuat berjengit saat menengok nostalgia Camille dengan benda-benda tajam di kulitnya, ngeri dengan kesadisan sang pembunuh dengan korbannya, tersentak dengan kenakalan para remaja Wind Gap, muak dengan manuver-manuver yang dilakukan orang-orang demi mencapai tujuannya, dan saya marah pada penulis karena merasa ditipu. Di pertengahan buku, penulis mengarahkan dengan jelas mengenai pembunuhnya, tanpa dikonfirmasi oleh kecurigaan Camille maupun polisi. Saya dibiarkan merasa yakin tentang pembunuhnya, bahkan diberi bukti-bukti yang menguatkan, sementara karakternya sibuk mencarikan alibi. Kemudian, pada satu bab terakhir, semua asumsi dan analisis saya dibelokkan dan dibalikkan.

Saya tidak bisa mengatakan saya menikmati alurnya. Di satu sisi, saya yakin permasalahan yang sesungguhnya tak sesederhana yang terus ditonjolkan oleh sang penulis. Selama membaca, saya mencari-cari celah, mencari-cari tanda-tanda untuk mematahkan (atau menguatkan) dugaan saya, tetapi tidak ada, saya dipaksa maju dengan keyakinan yang saya tahu bakal dipatahkan entah kapan dan di mana. Di luar itu, penulis telah berhasil membuat ketegangan, kegelapan, dan kengerian yang pekat di setiap halaman bukunya. Penulis tak tanggung-tanggung saat mendeskripsikan sesuatu yang sadis ataupun mengerikan.

Dalam buku ini, aroma kematian ditampakkan dalam wujudnya yang paling gelap. Anak perempuan dibunuh dengan sadis. Kematian seorang anak bertahun-tahun sebelumnya masih menimbulkan trauma yang menghancurkan kehidupan keluarganya. Kematian membayangi kehidupan seisi kota. Kematian juga menyamarkan sesuatu yang buruk yang pernah terjadi sebelumnya.

When you die, you become perfect.

Bersiaplah untuk melihat kehidupan penuh drama gelap di Wind Gap, tempat sifat manusia ditunjukkan dengan vulgar dan ‘telanjang’.

3/5 bintang untuk setiap kata dalam sayatan.

…being conflicted means you can live a shallow life without copping to being a shallow person.

Review #32 for Lucky No.14 Reading Challenge category Blame it on Bloggers (kak Mia & Alvina)

2 responses to “Sharp Objects – Gillian Flynn

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 2 : Top Five Most Memorable Quotes | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s