The Fellowship of the Ring – J. R. R. Tolkien

lotr1Title : The Lord of the Rings #1 : The Fellowship of the Ring
Author : J. R. R. Tolkien (1954)
Translator : Gita Yuliani K.
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan ketujuh, Oktober 2007
Format : Paperback, 512 pages

(Review ini mengandung spoiler ringan)

Tiga Cincin untuk raja-raja Peri di bawah langit,
Tujuh untuk raja-raja Kurcaci di balairung batu mereka,
Sembilan untuk Insan Manusia yang ditakdirkan mati,
Satu untuk Penguasa Kegelapan di takhtanya yang kelam
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.
Satu Cincin ‘tuk menguasai mereka semua, Satu Cincin ‘tuk menemukan mereka,
Satu Cincin ‘tuk membawa mereka semua dan dalam kegelapan mengikat mereka
Di Negeri Mordor di mana Bayang-bayang merajalela.

Pada 22 September yang akan datang, Bilbo Baggins akan merayakan ulang tahunnya yang kesebelas puluh satu, bertepatan dengan ulang tahun ketiga puluh tiga keponakannya, Frodo Baggins. Bilbo mengangkat Frodo sebagai ahli warisnya 12 tahun yang lalu, membawanya untuk tinggal bersamanya di Bag End. Dan kini di usianya yang sudah mencapai 111, Bilbo memutuskan untuk meninggalkan segalanya, termasuk barang berharga yang didapatkannya pada perjalanannya bersama para Kurcaci, lebih dari 50 tahun yang lalu. Sebuah cincin.

Sepeninggal Bilbo, Gandalf menjelaskan pada Frodo perihal cincin itu, cincin yang diduga merupakan Cincin Utama, yang hendak diambil kembali oleh kekuatan jahat. Cincin itu bisa membuat pemakainya tak terlihat, tetapi dengan dipergunakannya Cincin itu, kekuatan jahat akan semakin mendekat. Sebuah kisah lama tentang perjalanan Cincin dari Sauron, Isildur, dan Gollum pun diceritakan. Cincin yang menimbulkan ketamakan itu hanya bisa dimusnahkan di Celah Ajal, di kedalaman Orodruin, dan hanya Frodo yang bisa melakukan tugas itu.

Ditemani oleh tiga kawan Hobbitnya yang setia—Samwise Gamgee, Peregrin Took alias Pippin, dan Meriadoc Brandybuck alias Merry—Frodo keluar dari Shire diam-diam, menghindari kejaran para Penunggang Hitam, melewati Old Forest, bergabung dengan Strider—seorang Penjaga Hutan—di Bree, hingga tiba di Negeri pada Peri, Rivendell. Dalam Rapat Dewan di Rumah Elrond, terbentuklah persekutuan yang akan menemani Frodo membawa Cincin sampai ke Mordor, yang terdiri dari empat Hobbit (Frodo sendiri, Sam, Pippin, dan Merry), dua Manusia (Aragorn dan Boromir), seorang Peri (Legolas), seorang Kurcaci (Gimli), dan Gandalf sang Penyihir. Kesembilan anggota rombongan tersebut pun berangkat, melewati Pegunungan Berkabut, melalui Tambang Moria yang penuh kegelapan, singgah di Lothlórien yang indah, kemudian perselisihan terjadi akibat Kutukan Isildur.

Buku pertama dari trilogi ini memang terkesan menitikberatkan pada setting dan ‘pembangunan’ dunia. Separuh bagian pertama menggambarkan perjalanan para Hobbit hingga ke Rivendell, kemudian bagian kedua barulah dimulai perjalanan kesembilan Pembawa Cincin. Dalam perjalanan mereka, penulis menggambarkan dengan sangat detail, mulai dari pemandangan yang tampak dari utara, selatan, barat, timur, suara-suara yang terdengar, suasana yang timbul, sifat-sifat makhluk penghuninya, dan sesekali sejarah terbentuknya tempat tersebut, atau peristiwa bersejarah yang pernah terjadi di situ. Dengan begitu, dunia yang dibangunnya terasa benar-benar solid dan nyata. Meski demikian, tak berarti penulis mengabaikan unsur-unsur lain. Karakterisasi dalam buku ini juga dibangun cukup kuat. Terutama para Hobbit, yang sejak awal sudah memperlihatkan kesetiaan dan keberaniannya.

Di antara kaum Bijak, hanya aku seorang yang mau mempelajari adat-istiadat dan pengetahuan tentang hobbit: suatu cabang pengetahuan yang tak dikenal, tapi penuh kejutan. Mereka bisa selembek mentega, tapi kadang-kadang sekokoh akar pohon tua. (Gandalf, p.67)

Kau bisa mempercayai kami untuk mendampingimu dalam semua kesulitan—sampai akhir yang pahit. Dan kau bisa mempercayai kami untuk menyimpan rahasiamu yang mana pun—lebih rapat daripada kau sendiri bisa menyimpannya. (Merry, p.137)

Aku belajar banyak tentang Sam Gamgee dalam perjalanan ini. Mula-mula dia bersekongkol, sekarang dia melawak. Nanti dia akan menjadi tukang sihir… atau pejuang! (Frodo, p.259)

Hubungan antar bangsa di Dunia Tengah juga sedikit banyak diperlihatkan di sini. Siapa yang saling bermusuhan, siapa yang tidak mau bekerja sama satu sama lain, siapa mengagumi siapa, siapa takut pada siapa, dan sebagainya. Salah satu saat yang paling manis adalah saat Sam pertama kali bertemu dan berinteraksi dengan para Peri. Sejak lama Sam mengagumi para Peri yang hanya didengarnya dari dongeng dan lagu. Beberapa kali bertemu mereka dan singgah di negeri mereka dalam perjalanannya bersama Frodo, menularkan perasaan hangat dan puas pada saya saat membacanya. Sebaliknya kaum Kurcaci yang sejak lama berselisih dengan bangsa Peri, menimbulkan kisah uniknya kala Legolas sang Peri dan Gimli sang Kurcaci terpaksa harus berada dalam satu perjalanan.

Namun demikian, anehnya mereka tetap merupakan kaum yang tangguh, walau terbiasa hidup nyaman dalam kedamaian. Mereka sulit untuk ditakut-takuti atau dibunuh; dan mereka begitu menyukai barang-barang bagus, walau jika terpaksa mereka bisa hidup tanpa semua itu; mereka juga bisa bertahan menghadapi kesedihan, musuh, atau cuaca, dengan cara yang membuat terperangah orang-orang yang tidak mengenal mereka dengan baik, yang hanya melihat perut serta wajah mereka yang sehat dan cukup makan. (p.15, Tentang Para Hobbit)

Frodo, sebagai kunci dalam perjalanan ini menunjukkan keberanian dan ketangguhan yang luar biasa. Tak terhitung bahaya maut yang dilewatinya, tekadnya untuk menempuh perjalanan demi menghancurkan Cincin itu tetap kuat, dengan atau tanpa teman dan pelindung. Bahkan beberapa kali dia bimbang karena ingin menjauhkan kawan-kawannya dari bahaya yang ditimbulkan oleh Cincin tersebut.

Luka itu akhirnya menguasaimu. Kalau lewat beberapa jam lagi, kami sudah tak bisa membantumu. Tapi dalam dirimu ada kekuatan, hobbit yang budiman! (Gandalf, p.272)

Selain karakter-karakter utama Para Pembawa Cincin, ada karakter-karakter unik yang digambarkan sebagai sosok yang ‘serba tahu dan serba bisa’ seperti Tom Bombadil, beberapa Peri, Penyihir, dan Manusia yang banyak membantu, juga Lady Arwen, putri Elrond dari Rivendell, yang meski hanya ditampilkan sekilas, tetapi sudah terlihat akan menyajikan sebuah kisah (terutama bagi yang sudah pernah mengetahui kisah selanjutnya). Di antara para Peri yang abadi dan tangguh, salah satu yang paling berkesan adalah Lady Galadriel di Lothlórien. Galadriel memiliki kemampuan yang unik untuk memasuki pikiran dan hasrat lawan bicaranya, dia juga memiliki akses ke kedalaman jiwa orang lain. Di Lothlórien, dia bahkan tampak lebih dominan ketimbang suaminya, Lord Celeborn, termasuk penampilan fisiknya.

Tanda tanya yang ditinggalkan buku pertama adalah ke mana perjalanan Para Pembawa Cincin ini, selepas dari Lothlórien, harus berlanjut. Sejak awal Boromir telah mengatakan hanya ikut dalam perjalanan sampai ke Gondor. Setelah itu, dia akan bergabung dengan pasukan di Minas Tirith untuk melawan kekuatan jahat Morgul. Apalagi dengan diketemukannya Cincin Utama dan Pedang Patah, sesuai dengan petunjuk yang didapatnya. Kemudian karena hal-hal tak terduga sepanjang perjalanan, terutama kejadian mengerikan di Moria, berbagai kehilangan dan kerusakan, rombongan ini mulai gamang menentukan arah. Akankah mereka meneruskan perjalanan ke Mordor, atau memperbarui rencana dan mengumpulkan kekuatan dengan singgah ke Gondor.

Nah, biarlah kebodohan menjadi jubah kita, selubung di depan mata Musuh! Karena dia sangat pintar, dan dia menimbang semua hal hingga sekecil-kecilnya, dalam timbangan kejahatannya. Tapi satu-satunya ukuran yang dia kenal adalah hasrat, hasrat untuk kekuasaan; dan begitulah dia menilai semua orang. Dalam hatinya takkan pernah terlintas pikiran bahwa ada orang yang akan menolak, bahwa kita ingin memiliki Cincin itu untuk menghancurkannya. (Gandalf, p.333)

The Lord of the Rings memang oleh penulisnya tidak dimaksudkan untuk menjadi trilogi, tetapi penerbit awalnya memecahnya menjadi tiga buku, dengan dua bagian di tiap bukunya. Mungkin karena itulah buku pertama ini terasa agak ‘nanggung’ petualangannya. 4.5/5 bintang untuk pengenalan Dunia Tengah yang mengagumkan.

Review #24 of Classics Club Project

Review #22 for 2014 TBRR Pile Reading Challenge (Classic)

Review #35 for Lucky No.14 Reading Challenge category Chunky Brick

7 responses to “The Fellowship of the Ring – J. R. R. Tolkien

  1. Pingback: 2014 TBRR Pile Wrap Up | Bacaan B.Zee

  2. Pingback: Book Kaleidoscope 2014 – Day 5: Top Five Most Favorite Books | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Lucky No. 14 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Scene on Three (69) | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Third Year Update of The Classics Club Project | Bacaan B.Zee

  6. Pingback: The Two Towers – J. R. R. Tolkien | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s