The Silkworm – Robert Galbraith

silkwormTitle : The Silkworm (Ulat Sutra)
Author : Robert Galbraith (2014)
Translator : Siska Yuanita, M. Aan Mansyur (quotes)
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Cetakan pertama, 2014
Format : Paperback, 536 pages

Ha-ha-ha, kau terjerat jaring-jaringmu sendiri
seperti ulat sutra.
John Webster, The White Devil
(p.502)

Di tengah kejenuhannya dengan kasus-kasus ‘mahal’ tetapi membosankan, Cormoran Strike memutuskan untuk mengambil kasus Leonora Quine yang kemungkinan besar tak bisa membayarnya. Leonora memintanya menemukan suaminya, Owen Quine. Owen terbiasa menghilang untuk mencari sensasi—yang tampaknya tak pernah didapatkannya—tetapi belum pernah sampai selama ini. Bukan kasihan atau semangat yang membuat Cormoran menerima kasusnya, ada suatu alasan yang dia sendiri tak yakin, pada mulanya.

Kasus Quine berkembang ke arah yang tak disangka-sangka. Penulis yang tak terlalu terkenal ini baru saja melahirkan sebuah karya yang menyinggung banyak pihak. Bombyx Mori, yang berarti ulat sutra, menampilkan kisah orang-orang di sekitar Quine, dengan nama-nama samaran yang vulgar serta karakterisasi yang sangat mirip. Hampir semua orang yang dikenalnya menjadi sasaran pengungkapan aib mengerikan melalui simbol-simbol dan peristiwa yang menjijikkan. Kemudian, mayat Quine ditemukan. Cara kematiannya yang spesifik menyempitkan daftar tersangka, sekaligus menyulitkan pihak berwenang menemukan bukti. Siapakah yang sebegitu tersinggungnya dengan Quine, atau merasa posisinya dalam bahaya, jika karya Quine diterbitkan? Siapa yang tega melakukan sesuatu yang keji dan menjijikkan hanya karena goresan pena seorang penulis tak ternama? Siapakah di antara pembaca draft awal yang mungkin menjadi pembunuhnya?

Sama seperti buku pertamanya, kali ini Cormoran Strike masih bekerja dengan cara-caranya yang unik. Perpaduan antara gaya militer yang merupakan latar belakangnya, dan intuisi yang dimilikinya sebagai detektif investigasi selama bertahun-tahun. Intuisi inilah yang seringkali menjadi latar belakang segala tindakannya, yang berakar dari pengalaman dan imajinasi. Mulai dari alasannya menerima kasus Quine yang tidak menjanjikan—baik uang maupun popularitas, hingga kenyataan bahwa semakin jauh dia masuk ke dalam kasus ini, semakin menarik dan jelas fakta-fakta yang didapatkannya.

Dengan masuk ke dalam kasus Quine, secara otomatis Strike masuk ke dunia Quine. Pembaca pun dibawa untuk menelusuri hiruk-pikuk dunia penulisan dan penerbitan. Pertimbangan apa yang menjadikan sebuah buku diterbitkan, meskipun isinya ‘sampah’—menurut istilah karakter dalam buku ini—semacam karya Quine. Bagaimana orang-orang di masa sekarang memanfaatkan blog, menerbitkan ebook, dan sarana lain sebagai caranya untuk mengaktualisasikan dirinya sebagai penulis. Pun bagaimana banyak orang merasa bahwa perwujudan tertinggi dari eksistensinya adalah melalui sebuah buku.

Strike merasakan kelelahan yang tiba-tiba menguasainya. Demam macam apakah ini, kenapa orang ingin sekali unjuk diri dalam bentuk tertulis? (p.388)

Dengan memahami ini, Strike mulai membentuk hipotesis, satu demi satu, mencari motif, metode, dan kesempatan, termasuk bukti yang dalam kasus ini sangat sulit dicari. Strike mendengarkan semua orang, mengingat perkataan mereka—penting atau tidak penting, menganalisis manusia, sehingga seluruh tersangka maupun pihak yang terkait dengan buku ini dapat kita kenal dengan baik. Mulai dari penulis pemula kekasih gelap Owen, editornya yang baik hati tetapi menyimpan sesuatu, manajer penerbitan, agennya, sampai penulis ternama yang bermusuhan dengan Owen. Penulis mengajak pembaca mencari pembunuhnya bersama dengan Strike, meski tak sepenuhnya berhasil.

Jadi, apa yang harus dia lakukan berikutnya? Bila tidak ada jejak yang menjauh dari kejahatan, pikir Strike, dia harus memburu jejak yang menuju kejahatan itu. Bila buntut kematian Quine dengan gaib tidak menyajikan petunjuk apa pun, sudah tiba waktunya meneliti hari-hari terakhir hidup Quine. (p.330)

Selain kasus pembunuhannya sendiri, salah satu aspek yang tergambarkan secara kuat di sini adalah hubungan Strike dengan asistennya, Robin Ellacott. Robin yang selalu bermimpi untuk bekerja sebagai detektif sungguhan, harus berhadapan dengan tunangannya, Matthew, yang tak suka dengan pekerjaan maupun bos Robin. Strike memahami ketidaksukaan Matthew, tetapi harus dihadapkan pada Robin yang sangat berharap untuk dilibatkan lebih jauh, untuk diberi pelatihan, untuk memainkan peran lebih besar dalam pekerjaan Strike. Interaksi ini menurut saya bukan hanya sebagai bumbu terhadap kasus pembunuhan, tetapi merupakan sarana untuk masuk dan mengenal detektif kita lebih dalam.

Hal menarik lain dalam buku ini adalah kutipan dari berbagai buku pada tiap awal bab. Kutipan-kutipan ini bukan sekadar penghias atau asal tempel saja, tetapi seringkali menjadi kunci dari bab yang bersangkutan. Penulis juga bermain-main dengan bahasa Latin yang semakin menunjukkan kepiawaiannya berbahasa dan bermetafora. Dan tak lupa selipan humor ringan di sana-sini yang mengendurkan saraf kita yang tegang oleh misteri dan kejahatan yang sadis.

Buku kedua ini mungkin dimaksudkan agar bisa dibaca terpisah oleh yang belum membaca buku pertamanya. Banyak hal-hal penting di buku pertama yang diulang penjelasannya, terutama tentang Charlotte–mantan tunangan Strike, serta latar belakang keluarga sang detektif. Beberapa hal terasa tidak penting dan membosankan bagi yang sudah membaca buku pertama, tetapi menjadi pengantar yang mulus bagi yang belum membacanya.

Strike selalu heran bagaimana publik selalu menganggap kaum selebritas suci, bahkan bila surat kabar mencaci, memburu, dan merubung mereka. Tak peduli berapa banyak orang terkenal yang dihukum karena pemerkosaan atau pembunuhan, keyakinan itu tak berubah, bahkan cenderung fanatik: bukan dia. Tidak mungkin dia. Dia kan terkenal. (p.194)

5/5 bintang untuk perkembangan seru sang detektif dan asistennya.

7 responses to “The Silkworm – Robert Galbraith

  1. weh, udah baca aja nih. kayake kasus yg ini lebih menarik deh dari yg pertama >_<

  2. Yang berkesan dari novel ini selain keseruannya adalah kesadisannya,.

  3. Pingback: 2015 Reading Challenges: Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Book Kaleidoscope 2015 | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Career of Evil – Robert Galbraith | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s