How I Live Now – Meg Rosoff

how i live nowTitle : How I Live Now
Author : Meg Rosoff (2004)

Which one would you choose, the rock or the hard place?

Ibu Daisy meninggal setelah melahirkannya, kenyataan yang membuat hidupnya selama lima belas tahun dibayang-bayangi oleh ketidaknyamanan antara dirinya dengan ayah maupun ibu tirinya, salah satunya. Saat memutuskan untuk mengunjungi saudari ibunya, bibi Penn, di London, takdir membawanya pada empat saudara sepupu yang akan mengubah caranya memandang kehidupan. Ada Osbert, yang tertua, Isaac dan Edmond yang kembar, serta perempuan satu-satunya, Piper.

Keempat kakak-beradik ini terbiasa hidup mandiri karena ibu mereka harus bekerja sebagai tulang punggung keluarga. Daisy yang selama lima belas tahun di Amerika tak pernah berkutat dengan kebun maupun ternak, kini belajar bersama para sepupunya. Tanpa diduga, perang berkecamuk, membuat bibi Penn yang sedang bertugas di luar negeri tertahan di bandara setempat. Kini, kelima anak itu harus bertahan hidup, tanpa orang tua, tanpa petugas pengantar makanan, tanpa bahan jadi yang bisa dibeli.

You don’t always get a chance to choose the kind of news you get.

Setting waktu kisah ini kurang begitu spesifik, yang jelas ini terjadi di masa modern, saat orang-orang biasa berkomunikasi dengan telepon kabel, ponsel dan email. Perang yang dimaksudkan juga tidak jelas antara siapa dengan siapa, pun seberapa luas area yang dipengaruhinya. Buku ini menyoroti Daisy beserta keempat saudara sepupunya dalam lingkup lokal. Sudut pandang penceritaan menggunakan sudut pandang orang pertama, melalui sudut pandang Daisy.

Konflik utama buku ini, seperti telah saya singgung di atas, adalah bagaimana cara mereka bertahan hidup. Daisy bersama keempat sepupunya di rumah sendirian, Daisy bersama Piper yang harus pergi tanpa tahu kondisi saudaranya yang lain, Daisy yang harus menjadi tumpuan Piper yang baru berusia sembilan tahun, kehilangan, kelaparan, kesakitan, kematian.

If you haven’t been in a war and are wondering how long it takes to get used to losing everything you think you need or love, I can tell you the answer is No time at all.

Konflik lain yang mungkin agak kontroversial adalah hubungan Daisy dengan Edmond. Keduanya saling menemukan rasa nyaman melalui hubungan yang bisa dikatakan sebagai romansa, untuk standar remaja belasan tahun. Meski tidak mendominasi cerita, tetapi rasa yang ditimbulkan sangat kuat. Edmond menjadi sumber kekuatan Daisy, sumber pelariannya saat membutuhkan rasa aman dan nyaman, dan pembaca dapat merasakannya dalam banyak bagian dalam buku ini.

I didn’t know if the food was poisoned. I didn’t know whether we’d get an infection and die. I didn’t know if a bomb would fall on us. I didn’t know whether Osbert would expose us to spores from some deadly disease picked up during his secret meetings. I didn’t know if we would be taken prisoner, tortured, murdered, raped, forced to confess or inform on our friends.
The only thing I knew for certain was that all around me was more life than I’d ever experienced in all the years I’d been on earth and as long as no one shut me in the barn away from Edmond at night I was safe.

Ekspektasi saya terhadap buku ini

Banner_OpiniBareng2015-300x187

Januari : Ekspektasi

Awalnya, saya tidak mengantisipasi kisah semacam ini. Ini adalah buku Meg Rosoff yang pertama saya baca, karena beberapa kali saya mendengar namanya diasosiasikan dengan karya yang bagus. Saya tidak memeriksa ulang genre dari buku ini saat membacanya, sehingga saya butuh beberapa waktu untuk menyadari bahwa ini adalah suatu perang yang belum terjadi, atau tidak pernah terjadi, atau, sebuah simbol. Kedua kalinya ekspektasi saya salah adalah karena saya mengira bahwa ini adalah kisah remaja ‘biasa’, sebuah kisah kehidupan atau kisah keluarga. Karena itulah saya merasa agak bosan saat di tengah-tengah kisah plot terasa sangat lambat.

Namun, penilaian saya akan jauh berbeda jika saya mengubah ekspektasi saya. Jika saya menyadari sejak awal bahwa buku ini menitikberatkan pada konflik interpersonal alih-alih konflik antarpersonal, mungkin saya akan lebih menikmatinya.

Every war has turning points, and every person too.

Ini adalah kisah tentang Daisy; hidupnya, pemikirannya, cara pandangnya, dan perubahannya. Dapat dikatakan bahwa perasaan sayang antar anggota keluarga secara utuh baru dirasakan Daisy di London. Rasa sayang yang membawa kehangatan, sekaligus penderitaan. Ini adalah kisah tentang Daisy yang dalam periode relatif singkat harus merasakan sekian banyak emosi, yang harus menghadapinya—pada akhirnya—seorang diri.

I was dying, of course, but then we all are. Every day, in perfect increments, I was dying of loss.

Saat melihat melalui sudut pandang yang berbeda, saya merasakan bahwa penceritaan Rosoff sangat menyentuh. Dialog dan narasinya sederhana, indah, sekaligus bermakna. Melalui kisah yang relatif singkat, penulis memotretkan banyak momen yang berkesan dan sangat kuat. Adegan-adegan kecil yang berefek besar, perasaan sederhana yang bermakna mendalam, itulah kekuatan dari buku ini.

Now we walk, and he talks to me sometimes, tells me the names of the plants we come across in the field. They’re hard to remember and there are too many of them, and the only ones I manage to keep in my head are the ones that saved my life.
Corylus avellana. Hazelnuts. Rubus fruticosus. Blackberries. Agaricus campestris. Field mushrooms. Rorippa nasturtium-aquaticum. Watercress. Allium ursinum. Wild garlic. Malus domestica. Apples.

Setelah ini, saya berniat membaca buku Meg Rosoff yang lain, dengan ekspektasi yang berbeda, atau tanpa ekspektasi apa-apa. Mungkin saya akan menemukan lebih banyak hal. 3.5/5 bintang untuk dua sisi perang.

Every war has its silver lining.

Review #1 for Lucky No.15 Reading Challenge category Who Are You Again?

4 responses to “How I Live Now – Meg Rosoff

  1. Pingback: Scene on Three (71) | Bacaan B.Zee

  2. Mungkin memang baiknya membaca tanpa ekspektasi apa-apa ya, Mbak ^_^ Omong-omong, salut banget sama Mbak Zee. Bacaannya luas. Saya harus belajar banyak dari Mbak Zee🙂

    • Iya, kalo ga sesuai ekspektasi biasanya penilaiannya jadi bias. Sbnrnya bacaanku tertentu aja sih, tp masih aja banyak subkategorinya😄

  3. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s