Good Omens – Neil Gaiman & Terry Pratchett

7999784Title : Good Omens : The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch
Author : Neil Gaiman & Terry Pratchett (1990)
Translator : Lulu Wijaya
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : April 2010
Format : Paperback, 520 pages

“Kuberitahukan ini kepada engkau, dan kuperintahkan engkau dengan kata-kataku. Akan ada Empat pengendara kuda, dan Empat juga akan berkuda, dan Tiga akan berkuda dengan langit di antara mereka, dan Satu akan berkuda dalam kobaran api; dan takkan ada yang bisa menghentikan mereka: baik ikan, hujan, tombak, Iblis, maupun Malaikat. Dan engkau pun akan berada di sana, Anathema.” (p.51)

Buku ‘The Nice and Accurate Prophecies of Agnes Nutter, Witch” adalah buku ramalan paling tepat dan akurat, tetapi sayangnya tidak laku dijual pada masanya. Kini, buku tersebut hanya tersisa satu eksempar di tangan Anathema Device, cucu buyut Agnes. Semua yang diramalkan Agnes pasti terjadi, hingga Anathema menjadikannya sebagai buku panduan hidupnya. Catatan dalam buku itu berakhir Sabtu depan, saat terjadinya Kiamat.

Sebelas tahun yang lalu, Aziraphale dan Crowley, dua malaikat yang diturunkan ke bumi, yang masing-masing mewakili Surga dan Neraka, ditugaskan untuk mengawasi bayi Antikristus yang akan menjadi kunci terjadinya Armageddon. Setelah berabad-abad tinggal di bumi, keduanya menjadi sangat betah dan nyaman dengan keadaan dunia ini, di dalam hati, mereka tak menginginkan terjadinya Armageddon. Untuk apa? Pikir mereka, jika sudah dipastikan bahwa Kebaikan yang akan menang, mengapa harus mengorbankan manusia yang tak tahu apa-apa? Aziraphale dan Crowley pun memiliki rencana yang mereka simpan sendiri untuk mengupayakan masa dunia yang lebih panjang. Namun, di luar dugaan, kekacauan terjadi sehingga mereka kehilangan jejak bayi Antikristus yang asli.

Satu-satunya harapan Aziraphale adalah buku ramalan Agnes Nutter, jika dia menemukannya, dia akan tahu prediksi hari Kiamat secara tepat untuk menghentikannya tepat pada waktunya. Sementara itu, Shadwell, seorang Pemburu Penyihir dilibatkan untuk mencari cucu buyut Agnes—yang diduga menyimpan satu-satunya buku yang tersisa. Shadwell sendiri sebelumnya sudah menugaskan muridnya, Newton Pulsifer, ke Tadfield karena fenomena aneh yang terjadi di daerah tersebut. Tak heran, karena di Tadfield ada Anathema, dan Antikristus yang dididik seperti manusia biasa.

Apakah yang akan terjadi jika Antikristus tak dipersiapkan sejak awal untuk hari besar ini? Apakah Aziraphale dan Crowley dapat mengubah sesuatu sebelum waktu yang diramalkan? Apakah mereka bisa lolos dari masalah dengan atasan mereka setelah semuanya berakhir?

Konflik utama dalam buku ini, tentang hari Kiamat, memang sebaiknya tidak dipikirkan secara serius. Karena jika dipikirkan secara serius, pasti banyak terdapat kontradiksi di sana-sini. Yang saya tangkap dari tema yang diangkat Gaiman dan Pratchett ini lebih kepada kritik terhadap umat manusia. Kedua penulis ini tidak mengkritik Tuhan, Malaikat, Iblis, atau makhluk supranatural apa pun, tetapi manusia.

Oh, dia berusaha keras untuk membuat hidup mereka sengsara, karena memang itu tugasnya, tapi kejahatan apa pun yang bisa direncanakannya selalu kalah dengan kejahatan yang bisa direncanakan manusia sendiri. Sepertinya manusia punya bakat khusus untuk menyengsarakan hidup mereka sendiri. (p.54)

Dengan menyoroti dua karakter yang menjadi perwujudan ‘kebaikan’ dan ‘keburukan’ dalam wujud manusia, Aziraphale dan Crowley tampaknya sudah banyak ‘menyerap’ sifat manusia dalam berbagai variasinya. Jika Aziraphale dan Crowley sudah ‘tercetak’ untuk menjadi baik dan buruk, lain halnya dengan manusia yang bisa memilih untuk menjadi baik atau buruk, pun meski keduanya tak memiliki batas yang tegas.

Manusia tidak bisa benar-benar baik, begitu katanya, kalau mereka juga tidak memiliki peluang untuk menjadi benar-benar jahat. (p.55)

Buku ini, menurut saya, memiliki makna filosofi yang agak berat. Dalam kesimpulan akhir pun, kita masih dibuat berpikir tentang sebab-akibat, tentang pilihan, tentang apa yang kita pandang benar dan salah. Seringkali, ego dari dua kelompok untuk menunjukkan keunggulan masing-masing melibatkan orang-orang lain yang tidak bersalah, pun tidak secara langsung peduli terhadap urusan tersebut. Tentang waktu yang relatif, tentang segala sesuatu yang begitu panjang sekaligus begitu singkat. Tentang hidup dan segala misterinya.

Antikristus yang asli, Adam Young, beserta tiga kawannya yang menamakan diri sebagai Mereka, secara tidak langsung juga membawa pesan filosofis yang khas anak-anak. Imajinasi dan ekspektasi anak-anak yang polos adalah kritik terbaik untuk orang dewasa. Orang-orang dewasa yang seringkali melupakan hal-hal sederhana yang bermakna, mungkin tak menyangka bahwa anak-anak yang sering bermasalah seperti Mereka, akan membawa misi yang tak terbayangkan pada hari Sabtu depan.

“Tidak. Kurasa aku mulai mengerti sekarang. Menurutku, hal yang paling bijaksana adalah orang-orang harus tahu bahwa kalau mereka membunuh ikan paus, yang mereka dapat adalah ikan paus mati.” (p.478)

Di luar itu semua, imajinasi para penulis ini patut diacungi jempol. Dengan mengadaptasi karakter-karakter dan kejadian-kejadian dalam kitab suci, mereka menciptakan karakter dan konflik dalam sentuhan manusiawi. Beberapa detail unik seperti iblis yang mengumpat dengan kata-kata pujian, humor dan sarkasme yang khas, serta ketepatan dalam membuat analogi, membuat buku ini sangat bisa dinikmati.

4/5 bintang untuk ramalan Agnes Nutter Sabtu besok.

 

Akhir tahun 2014 lalu, sandiwara radio Good Omens yang diadaptasikan oleh Dirk Maggs disiarkan di BBC4. Terdiri atas 6 episode, masing-masing sekitar 30 menit, kecuali episode 6 yang diperpanjang menjadi 1 jam, sandiwara ini secara mengejutkan merepresentasikan bukunya dengan sangat baik. Adaptasi ini memuat konflik utama, humor dan sarkasme yang penting, serta detail-detail terbaik dalam buku, tanpa terkesan dipanjang-panjangkan ataupun terburu-buru. Bahkan pada salah satu bagian, saya mendapatkan pemahaman yang lebih baik setelah mendengarkan adaptasinya, oleh karena alurnya yang relatif lebih lurus ketimbang di buku. Salah satu bagian yang berkesan adalah pada episode 1 saat Gaiman dan Pratchett menjadi cameo. Selain itu, semua karakter menurut saya berhasil diinterpretasikan dengan baik oleh para pemerannya, termasuk peran anak-anaknya. Suara latarnya juga pas, membangun suasana dengan baik, tanpa mengganggu dialog-dialognya, bahkan saya yang bukan native English speaker.

Review #2 for Lucky No.15 Reading Challenge category Chunky Brick

7 responses to “Good Omens – Neil Gaiman & Terry Pratchett

  1. Aku dulu kurangin bintangnya karena endingnya cukup kentang😀
    Seingatku dulu ada diskusi buat jadiin TV seriesnya. Semoga abis drama radio ini bisa lanjut ke TV…pengen liat siapa yang pantes jadi Crowley😄

  2. Ketinggalan drama radionya >,< ada link lainnya gak ya? hihihi.. penasaran nih

  3. Pingback: Scene on Three (72) | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: 2015 Reading Challenges: Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s