Enchanted Glass – Diana Wynne Jones

enchanted glassTitle : Enchanted Glass
Author : Diana Wynne Jones (2010)
Publisher : GreenWillow Books (Imprint of HarperCollins Publishers)
Edition : First paperback edition, 2011
Format : Paperback, 292 pages

Andrew Brandon Hope mendapatkan kabar kematian kakeknya dari pihak ibu, Jocelyn Brandon, sesaat setelah ditemui oleh hantu kakeknya yang menunjukkan sebuah berkas dengan segel hitam. Andrew mewarisi harta dan tanah Melstone House, serta tanggung jawab kakeknya, yang adalah seorang penyihir, untuk menjaga seluas wilayah tertentu (field-of-care), tempat Jocelyn ‘membimbing’ orang-orang di dalam lingkaran tersebut. Sayangnya, berkas bersegel hitam itu belum bisa ditemukan di Melstone, sementara Andrew masih buta dengan masalah persihiran.

Aidan Cain, anak laki-laki berumur dua belas tahun, baru saja ditinggalkan oleh neneknya. Kini dia sebatang kara, tetapi neneknya yang seorang penyihir berpesan agar dia pergi kepada Jocelyn Brandon jika mengalami kesulitan. Maka Aidan, yang semasa dirawat di rumah yatim piatu dikejar-kejar oleh makhluk jahat, memutuskan untuk pergi ke Melstone, dan mendapati bahwa yang dicarinya juga telah meninggal dunia. Andrew memutuskan untuk tetap menampung Aidan, karena di field-of-care Brandon dia aman.

Andrew dan Aidan pun mengalami petualangan menegangkan dalam usaha mereka menetapkan field-of-care Brandon dengan cara menelusurinya. Keduanya—terutama Aidan yang lebih peka—bisa merasakan perbedaan ‘rasa’ yang ditimbulkan di daerah yang terlindungi oleh sihir Brandon, dengan daerah luar yang rasanya ‘tidak aman’. Dalam penelusuran tersebut, mereka menemukan bahwa ada yang telah melanggar batas tersebut. Andrew pun berusaha mempertahankan wilayah kakeknya dari pihak-pihak jahat yang ingin mengambil alih, sekaligus melindungi Aidan dari pengejar yang ingin membunuhnya.

Ini adalah kali kedua saya membaca karya penulis ini, dan keduanya sama-sama menggunakan karakter utama dewasa (dalam buku ini Andrew Hope) meski kisahnya ditujukan untuk anak-anak. Andrew yang sejak awal dikatakan hanya peduli pada dunianya sendiri, perlahan dituntut untuk bertanggung jawab pada Aidan, pada field-of-care kakeknya, pada keajaiban-keajaiban di rumahnya sendiri. Melalui Aidan, Andrew bisa mengenal kemampuannya mempengaruhi orang dan eksistensi melalui kacamatanya, kemampuan yang juga dimiliki oleh Aidan. Melalui Aidan pula, Andrew mengetahui rahasia panel kaca warna-warni yang pernah dikatakan oleh kakeknya memiliki kekuatan sihir, tetapi tak pernah dijelaskan lebih lanjut. Hubungan timbal-balik keduanya inilah yang berperan penting dalam perkembangan keduanya.

Fakta menarik mengenai Andrew Hope adalah, bahwa sebenarnya kakeknya telah jauh-jauh hari menanamkan pengetahuan sihir padanya di masa kecilnya. Namun, ibu Andrew yang tak mempercayai sihir, serta lingkungan ‘normal’ Andrew—di luar Melstone yang hanya didatanginya saat liburan—menekan pengetahuan itu hingga terlupakan olehnya semasa dewasa. Kini, saat Andrew memegang Melstone, perlahan ingatan itu timbul kembali, ingatan yang akan menentukan apakah dia bisa menyelamatkan Aidan dan Melstone dari kekuatan jahat yang perlahan masuk dan menguasai. Saya menikmati saat-saat ingatan Andrew muncul perlahan, dipicu oleh hal-hal kecil yang berkaitan dengan masa kecilnya. Tak sepenuhnya sihir, tapi tetap terasa magis.

Satu hal yang agak menjadi tanda tanya bagi saya adalah hubungan asmara yang dialami oleh Andrew. Buku ini dilabeli untuk anak mulai usia 10 tahun, tetapi di dalamnya terkandung kekaguman Andrew kepada wanita secara fisik. Bagian itu tidak disampaikan dengan detail, jadi mungkin saja memang masih bisa diterima, apalagi standar ‘dewasa’ anak-anak di luar negeri berbeda dengan di Indonesia, karena faktor budaya yang berbeda. Juga ada sedikit kejutan di akhir mengenai asal-usul Aidan yang merupakan materi dewasa (atau minimal remaja) tapi bisa disampaikan dengan sangat halus.

Unsur-unsur fantasi dalam buku ini menurut saya ringan, tidak terlalu pekat, tetapi sekaligus kompleks dan kuat. Dunia yang dibangun penulis tidak sepenuhnya fantasi, wilayah sihir dan nonsihir tidak dibatasi dengan jelas, dan memang buku ini tidak berfokus pada setting. Selain wilayah sihir, benda-benda ajaib, sihir tak terlihat yang mekanismenya tak terlalu detail, ada juga makhluk-makhluk ajaib seperti weredogs (iya, bukan werewolves), counterparts—makhluk yang merupakan perwujudan dari manusia lain di wilayah tersebut, juga—salah satu favorit saya untuk alasan personal—bagaimana konflik para karakter kita berhubungan dengan legenda Raja Peri Oberon dan para istrinya, termasuk Ratu Titania, dan tak ketinggalan pelayannya, Puck. Penulis menyatukannya dengan apik, apalagi secara pribadi, saya suka modifikasi legenda dan mitos dalam kisah fantasi yang lebih modern. Hal itu membuat saya merasa lebih familiar dengan kisah tersebut, lebih mudah untuk masuk, dan menjadi bagian dari sebuah semesta fantasi raksasa.

4.5/5 bintang untuk kisah sihir perkotaan.

… he knew that magic was one of the great forces of the universe that had come into being right at the beginning, along with gravity and the force that held atoms together, as strong as or stronger than any force there. (p.255)

Review #12 of Children’s Literature Reading Project

Review #3 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

Januari : Buku SS

Januari : Buku SS

Terima kasih untuk santaku yang baik, saya suka buku ini, dan kini waktunya untuk menebak identitasmu. Petunjuk darimu sudah saya posting di sini. Saya langsung mengartikan ‘yang berjarak tidak kurang 48,4 mil darimu’ itu sebagai ‘orang dekat’, entah kenapa. Padahal justru itu menjauhkan dugaan, karena tidak kurang berarti pas, atau lebih. Petunjuk kedua adalah ‘yang dapat mendengar cicitan yang sering kau ungkapkan dengan jelas. namun sebaliknya tidak’, artinya santaku yang baik sudah follow twitterku, tetapi saya belum follow santaku yang baik. Malam itu juga saya langsung menelusuri daftar follower twitter dan membuat catatan dalam hati. Petunjuk yang tidak bisa saya pecahkan hingga saat ini adalah ‘mungkin saya adalah bunga es di lereng semeru’, saya punya beberapa dugaan, tetapi tidak ada yang pas.

Santaku yang baik, beberapa hari setelah mencoba mengutak-atik riddlemu, aku memutuskan untuk menggunakan cara di luar ‘prosedur yang semestinya’, yang harus kulakukan segera sebelum datanya dihapus. Saya melacak no.resi paket cantik darimu. Memang sih saya tidak mendapatkan resinya, tetapi (untungnya), tulisan di paket dengan spidol masih jelas dan terbaca (tidak seperti paket tahun lalu yang sudah tidak terlacak), dan menemukan bahwa santaku yang baik berada di suatu tempat di Semarang. Menilik paketnya yang cantik dan megah, saya tidak yakin bahwa santaku yang baik menitipkannya, jadi kemungkinan besar paket itu dikirim sendiri. Sebenarnya, ada satu kecurigaan dari teman yang sudah memfollow santaku yang baik itu tentang pembelian paket di salah satu online book store, dan memang, meski saya memberi link ke online book store yang berbeda, saya tahu buku ini tidak dibeli dari sana karena biasanya online store itu membungkus ulang bukunya dengan plastik.

Jadi, santaku yang baik, maaf ya kalau konspirasi alam semesta membuatku menebak dirimu adalah Hanum Puspa, bukan sepenuhnya berdasarkan riddle. Saya menunggu konfirmasi darimu. Sekali lagi, terima kasih banyak.

SecretSanta2014

36 responses to “Enchanted Glass – Diana Wynne Jones

  1. Mungkin bunga di gunung es, zee. *sungguh tebakan yg gak makna*

  2. Sebelumnya udh kenal kah bzee sama santamu? kadang suka kesulitan kalo gk kenal yaa hehehehe *curcol*

    • Ga kenal banget sih, tapi tahu eksistensinya, lha wong ternyata dia masuk grup WA Joglo tapi ga pernah nongol, hihii *merasa dimata2i saat curcol di grup*

  3. Mbak, target pembacanya masih anak-anak ato YA?

    • Secara resminya sih anak ya, middle grade tepatnya, di atas 10 tahun. Tapi kalo sudah masuk Indonesia aku ga tahu standarnya mungkin beda

  4. yaampun kavernya cantik banget… selera! *asli terpana*

  5. Semoga benar ya mbak bzee..

  6. tezarariyulianto

    semarang bukan di semeru lho #mengacaukanharapan #ditendangkesemeru

  7. Kalo buku anak2 genre fantasy begini mungkin aku bisa suka. Tapi kalo fantasy masuk kategori YA, yang melibatkan troll, no thanks…😀

    Eh, jadi si Hanum? Mana dia? Belum ngaku ya? suruh ngaku saja di joglo..kalo ngga #sokpreman…😀

  8. Halo mbak Bzee… *muncul dengan ekspresi polos* *tengok kanan-kiri dulu* *lari-lari ngejauh dari mbak Lila sebelum kena tonjok* >///////<") *malah ragu sendiri sama riddle buatan sendiri* Mianhe, mianhe, mianhe mbak Bzee sudah bikin mbak bingung. Mwah! ♥

  9. Ciyeeeh mana inih si bunga es? *nungguin konfirmasinya x)

  10. Penjelasannya yang beratus-ratus kalimat hilang begitu saja. Ini seram, mbak… ><") Mianhe kalau bikin bingung ♥

  11. Covernya bagus, masuk daftar belanjaan!

  12. Sampai akhir pun memang bzee memecahkannya dengan otak prima xD

  13. cerita fantasi + cover keren + 4,5 bintang dari Bzee = masukin wishlist😀

  14. covernya bagus ya. Dulu baca Howl Moving Castle gara-gara terjemahannya jelak, feelnya gagal masuk.

  15. Santanya udah ngaku tapi Santa… bunga es di lereng Semeru itu apaan artinya? *nyamar jadi Bzee buat nanya lagi ke Santa*

  16. Hahzek Mbak Zee pake azas praduga😀

  17. Eh kurang B. Mbak Bzee😀

  18. Waduh kasian Hanum, kayaknya setelah beratus2 kalimat panjangnya yg hilang, dia mutung.. *dikeplak mba bzee

    Trus, gmn dong hanum? Ayo ketik ulang *tetep maksa*

  19. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s