Billions & Billions – Carl Sagan

61665Title : Billions & Billions: Thoughts on Life and Death at the Brink of the Millenium
Author : Carl Sagan (1997) (with Ann Druyan)
Publisher : Ballantine Books
Edition : First Ballantine Books Edition, June 1998, 4th printing
Format : Paperback, 296 pages

If you understand exponentials, the key to many of the secrets of the Universe is in your hand. (p.25)

Berapakah milyaran dan milyaran itu? Beberapa milyar? Banyak milyar? Apakah lebih banyak dari trilyunan? Saat seseorang melekatkan frasa ‘billions and billions’ padanya, penulis merasa harus meluruskan bahwa milyaran dan milyaran itu jauh lebih kecil jika dibandingkan 1063, misalnya. Kita hidup dikelilingi oleh jumlah, oleh angka. Jika dulunya manusia hanya ada 2, berkembang menjadi puluhan, ribuan, hingga kini mencapai 7 milyar. Jarak yang kita kenal hanya beberapa kilometer, dengan perkembangan sains kini kita bisa memprediksi jarak trilyunan tahun cahaya. Waktu penciptaan alam semesta, jumlah galaksi dan bintang-bintang, sangat banyak, tetapi kita bisa menghitungnya.

Ilmu pengetahuan manusia berkembang, kita semakin mengenal banyak hal, mengetahui banyak hal, dan menciptakan banyak hal. Namun ternyata, lebih banyak lagi hal yang tidak kita ketahui. Kita tidak tahu sebelumnya, bahwa penemuan-penemuan yang mempermudah hidup kita akan berdampak buruk bagi lingkungan. Pun ketika mengetahuinya, kita tidak serta-merta bisa meninggalkannya, karena satu dan banyak alasan. Kita tidak tahu bagaimana menyikapi kemajuan teknologi dengan bijak, sehingga terjadi pemanasan global akibat efek rumah kaca semakin parah, lahir perang nuklir yang menyebabkan pengeluaran yang tak perlu untuk hal-hal yang seharusnya bisa dihidari jika kita bisa lebih bijak.

Maybe the products of science are simply too powerful, too dangerous for us. Maybe we’re not grown-up enough to be given them. (p.87)

Melalui buku terakhirnya, penulis mengajak kita berpikir tentang bumi kita, dan alam semesta ini. Saat buku ini ditulis di akhir abad ke-20, banyak isu tentang lingkungan lokal dan global masih hangat untuk dibahas. Bahkan kini, setelah dua dekade, isu-isu yang diangkat penulis masih sangat relevan. Penulis menggelitik kita dengan luasnya alam semesta yang, sangat tidak menutup kemungkinan, menyembunyikan kehidupan yang mirip dengan bumi yang kita tinggali. Penulis menyadarkan bahwa terlepas dari warna kulit, bangsa, wilayah geografis, dan apa pun yang mengotak-ngotakkan kita, kita adalah ras manusia yang sama, yang menempati bumi kecil kita yang sama. Pencemaran dan pengrusakan lingkungan di satu negara, pasti akan menimbulkan efek di negara lain, di seluruh dunia. Seandainya suatu saat ada makhluk asing dari galaksi lain hendak mengintervensi bumi kita, mungkin kita baru menyadari hal itu.

No one nation or generation or industry got us into this mess, and no one nation or generation or industry can by itself get us out. If we are to prevent this climate danger from working its worst, we will simply all have to work together, for a long time. (p.139)

CO2 molecules, being brainless, are unable to understand the profound idea of national sovereignty. They’re just blown by the wind. If they’re produced in one place, they can wind up in any other place. The planet is a unit. Whatever the ideological and cultural differences, the nations of the world must work together; otherwise there will be no solution to greenhouse warning and the other global environmental problems. We are all in this greenhouse together. (p.161)

Penulis menjabarkan pemikiran-pemikirannya dengan sangat runtut. Kita dituntun menuju satu per satu fakta yang awalnya tampak sulit ditelusuri benang merahnya, tetapi lambat laun, gambaran besarnya tampak jelas. Saya sangat menikmati gaya bahasa penulis yang mudah diikuti, ilmiah tapi sederhana, rinci tapi tidak rumit, detail tapi tidak membosankan. Membaca buku ini ibarat dihempaskan pada kenyataan pahit dan getir, dilemparkan menuju lubang ego dan kelalaian manusia, sekaligus menghangatkan hati dan memanjakan pikiran atas kehausan akan ilmu pengetahuan dan hati nurani.

Buku yang ditulis di penghabisan umur sang penulis ini juga memuat hari-hari terakhir hidupnya. Penulis menceritakan perjuangannya melawan penyakitnya dengan bantuan sains, bagaimana pandangan pribadinya tentang kehidupan dan kematian, serta apa yang sedang dilakukan sains pada masa itu; mempersiapkan misi menyambut adanya makhluk asing di luar bumi. Meski penulis tak sempat benar-benar menutup buku ini, istrinya–Ann Druyan, melengkapi buku ini dengan mengharukan, menggambarkan perjuangan serta pencapaian salah satu astronom besar di masa itu.

4.5/5 bintang untuk trilyunan kepedulian pada bumi yang satu.

…in less than one century, our most fearful weapon has become a billion times more deadly. But we have not become a billion times wiser…. (p.233)

Review #4 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something Borrowed

11 responses to “Billions & Billions – Carl Sagan

  1. Oh ini ya bukunya Bzee😀
    Ada disebut-sebut tentang percobaan pertama bom atom juga ga di sini?

    • Iya, di sini nyebutnya ga detail ke bom atomnya, tp lebih ke evolusi senjata buatan manusia. Dibahas teori fisi yg jd prinsip awal bom atom, dan fusi (pas buku ini ditulis sih masih tahap pengembangan) yg potensinya berlipat2 kali lebih besar dr fisi.

  2. Maybe the products of science are simply too powerful, too dangerous for us. Maybe we’re not grown-up enough to be given them. (p.87)

    ^ quote di atas Indonesia banget, waktu mulai terbuka sama globalisasi..🙂

  3. Tapi katanya kita tertinggal 100th dari Amerika ya. Btw, ini non fiksi mba?

    • Iya, padahal Amerika pun masih bermasalah, terutama yg dibahas di buku ini dr segi petinggi politik & industri yg masih denial dgn isu lingkungan. Iya, ky, ini nonfiksi

  4. Pingback: Semesta yang Padat, Semesta yang Lengang | Bzee's Inner Space

  5. Pingback: Sampai Kapan Bumi Kita Kuat Menanggungnya | Bzee's Inner Space

  6. Pingback: Menghindari Risiko Demi Masa Depan | Bzee's Inner Space

  7. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  8. Pingback: 2015 Reading Challenges: Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s