The Grand Design – Stephen Hawking & Leonard Mlodinow

10241625Title : The Grand Design (Rancang Agung)
Author : Stephen W. Hawking & Leonard Mlodinow (2010)
Translator : Zia Anshor
Publisher : Gramedia Pustaka Utama
Edition : Edisi pertama 2010, Cetakan ketiga, Juni 2011
Format : Paperback, 203 pages

Bagaimana kita bisa memahami dunia tempat kita mendapati diri kita ada? Bagaimana tingkah laku alam semesta? Apa hakikat kenyataan? Dari mana segalanya berasal? Apakah alam semesta memerlukan pencipta?

Secara tradisional, semua yang tadi adalah pertanyaan filosofi, tapi filosofi sudah mati. Filosofi sudah tidak mengimbangi kemajuan terkini dalam sains, terutama fisika. Para ilmuwan telah menjadi pemegang obor penemuan dalam perjalanan pencarian pengetahuan. Tujuan buku ini adalah memberi jawaban yang didukung penemuan terbaru dan kemajuan teoritis.
(p.5)

Dalam buku ini, penulis menjabarkan beberapa pendekatan yang digunakan untuk memahami alam semesta. Mulanya, manusia selalu mengaitkan segala hal yang tak terjangkau logika dengan sosok Maha Besar; Tuhan, dewa, atau makhluk supranatural lain sesuai dengan budaya dan legenda. Namun, buku ini menunjukkan bahwa sains memiliki jawaban logis atas segala fenomena alam.

Ada pendekatan realisme bergantung model, yang memberi ruang bagi teori apa saja, asalkan bisa menjelaskan dengan tepat realitas yang ada saat ini. Model ini memiliki kelebihan dan kekurangannya sendiri. Realisme bergantung model bisa menimbulkan dualisme seperti apakah cahaya itu gelombang atau partikel; sifat fisik yang jauh berbeda, tetapi keduanya sama-sama dimiliki oleh cahaya.

…realisme bergantung model (model-dependent realism). Dasarnya adalah gagasan bahwa otak kita menafsirkan masukan dari organ indra dengan membuat model dunia. …. Jika dua teori atau model fisika sama-sama bisa memprediksi peristiwa yang sama dengan akurat, maka salah satunya tak bisa dikatakan lebih nyata daripada yang lain; justru kita bebas menggunakan model mana saja yang paling praktis. (p.7)

Menurut realisme bergantung-model, tak ada gunanya menanyakan apakah suatu model itu nyata atau tidak, yang penting adalah cocok atau tidak model itu dengan pengamatan. (p.47)

Dalam skala yang lebih kecil, atom atau zarah, ada aturan fisika yang berbeda, yang disebut fisika kuantum. Fisika klasik, yang didasarkan pada kumpulan atom yang bisa kita amati, tidak bisa menjelaskan fenomena ini. Maka lahirlah teori baru untuk menyempurnakannya, bahwa dalam keadaan sendiri, ternyata atom ‘bertingkah laku’ berbeda.

Model kuantum untuk alam mencakup kaidah-kaidah yang tak hanya berkontradiksi dengan pengalaman sehari-hari, tapi juga konsep realitas intuitif kita. Mereka yang menganggap kaidah-kaidah itu aneh atau sukar dipercaya punya banyak teman, di antaranya ahli-ahli fisika hebat seperti Einstein dan bahkan Feynman…. Tapi fisika kuantum cocok dengan pengamatan. Fisika kuantum tak pernah tak lulus ujian, dan sudah lebih sering diuji daripada teori apapun dalam sains. (p.77-78)

Fisika kuantum memberitahu kita bahwa selengkap apapun pengamatan kita atas masa kini, masa lalu (yang tak diamati), seperti masa depan, tidak pasti dan hanya ada sebagai kisaran kemungkinan. Alam semesta, menurut fisika kuantum, tak punya satu masa lalu atau sejarah. (p.87)

Alam semesta yang teratur dan konsisten dengan hukumnya adalah kunci dari keberadaannya. Jika tak ada hukum tetap yang bisa dijadikan pegangan, maka runtuhlah segalanya. Alam semesta terbentuk dan bertahan melalui satu set hukum alam. Set hukum alam ini adalah salah satu pembahasan yang menarik dalam buku ini. Penulis membuka peluang adanya berbagai set hukum yang berbeda-beda; set hukum alam yang ada di semesta kita ini adalah set hukum yang bisa bertahan melalui masa, yang telah teruji bisa mempertahankan kehidupan dan segalanya. Jika ada set hukum alam lain yang bisa mempertahankan kehidupan, mungkin wujud semestanya akan jauh berbeda. Tak ada yang tak mungkin, kita hanya tak bisa membayangkannya karena kita tak pernah melihatnya, tak pernah membayangkan model dan realitasnya.

Ubah aturan alam semesta kita sedikit saja, dan kondisi di mana kita bisa ada pun sirna! (p.170)

Alam semesta yang luas ini, yang terbentuk melalui ledakan besar milyaran tahun yang lalu, apakah satu-satunya? Apakah di luar sana ada semesta lain dengan hukum alam yang berbeda? Buku ini mungkin bisa memberi jawaban, atau menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru. Yang jelas, buku ini membuka wawasan saya akan fisika dan alam semesta. Buku ringkas ini cukup bisa diikuti oleh orang awam, mungkin ada beberapa detail yang membingungkan, serta tetap memerlukan sedikit pengetahuan tentang fisika, karena ada beberapa teori yang tidak dijabarkan sejak awal. Namun pada dasarnya, berbagai teori tersebut sudah diberikan dalam pelajaran fisika di sekolah menengah.

Dalam buku ini, penulis mengabaikan kenyataan bahwa alam semesta ini diciptakan. Menurut saya, pendekatan semacam ini baik untuk membuat kita terus belajar dan mencari. Jika kita hanya berpegang pada mukjizat dan kuasa supranatural, kita tak akan menemukan penyebab gerhana bulan, rasi bintang yang menunjukkan jalan, atau teori-teori kuantum yang membawa kita pada pengetahuan-pengetahuan baru. Adanya penjelasan ilmiah sama sekali tidak mengecilkan Tuhan bagi kita yang mempercayaiNya, justru mengagungkanNya yang bisa menciptakan hukum alam hingga sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya. Sebaliknya, bagi yang tak percaya, penjelasan macam apa pun tetap saja sulit mengubahnya.

Akhirnya, pengetahuan adalah bagaimana cara kita menyikapinya, mengapa kita membutuhkannya. Sama seperti alam semesta yang digambarkan di buku ini. Apakah semesta memang seperti itu, atau kita yang membuatnya seperti itu karena apa yang kita lihat hari ini.

Kita menciptakan sejarah lewat pengamatan, bukan sejarah yang menciptakan kita. (p.149)

4/5 bintang untuk kemungkinan teori segalanya.

7 responses to “The Grand Design – Stephen Hawking & Leonard Mlodinow

  1. Hnn, jadi penasaran sama buku ini.

  2. Pingback: Semesta yang Padat, Semesta yang Lengang | Bzee's Inner Space

  3. tezarariyulianto

    kalo aku yang baca mungkin gak mudeng blas

  4. ini ada filmnya. cba cek ” god not dead ” tapi itu film dari sisi kristen. dan ada muslim yg jadi murtad.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s