The Ringmaster’s Daughter – Jostein Gaarder

3131683Title : The Ringmaster’s Daughter (Putri Sirkus dan Lelaki Penjual Dongeng)
Author : Jostein Gaarder (2001)
Translator : A. Rahartati Bambang
Editor : Andityas Prabantoro
Publisher : Penerbit Mizan
Edition : Cetakan I, Februari 2006
Format : Paperback, 394 pages

Saya tidak pernah menemui kesulitan dalam membedakan antara imajinasi dan kenyataan. Masalahnya adalah membedakan antara kenangan mengenai khayalan atau kenangan mengenai kenyataan. Itu benar-benar masalah lain. (p.25)

Petter kecil dianggap bermasalah karena jarang membaur dengan anak-anak seusianya. Dia lebih sering menonton mereka, kemudian membayangkan seandainya begini dan begitu, merancang kisah-kisah dalam kepalanya. Petter yang cerdas pun memanfaatkan kepandaiannya dengan membisniskan pengerjaan PR teman sekelasnya. Petter juga memiliki selera yang berbeda, seperti musik klasik dan film yang biasa dinikmatinya bersama ibunya.

Saya senang melihat orang lain beraksi. Saya senang melihat mereka mengungkapkan diri mereka. (p.70)

Orang tua Petter bercerai, dia tinggal bersama ibunya, dan otomatis lebih dekat padanya. Hingga saat ibunya meninggal, saat usia Petter masih baru dewasa, dia tinggal sendirian di apartemennya. Petter tidak pernah menjalin hubungan serius dengan wanita, kecuali satu orang, Maria. Akan tetapi, Maria pun akhirnya memutuskan pergi, dengan membawa sebagian dari diri Petter.

Imajinasi Petter adalah hartanya yang paling berharga. Saat kesulitan uang, dia memutuskan untuk menjual ide-ide ceritanya kepada para novelis yang kehabisan ide. Gagasan dan imajinasinya sangat brilian, bahkan dia merasa ‘sesak’ dengan jalan pikirannya yang seolah tak berhenti memikirkan gagasan demi gagasan. Bisnis penjualan ide ini berjalan lancar, selama puluhan tahun. Bisnis yang diaturnya dengan rapi, tetapi manusia mana pun ternyata memiliki batas.

Mempertimbangkan kata itu penting jika kita mencari nafkah dalam sebuah lingkungan sosial. Kepercayaan adalah sesuatu yang harus dibangun secara terus-menerus. (p.261)

Buku ini ditulis dengan sudut pandang orang pertama, seolah Petter mengajak pembaca untuk menyelami pemikirannya yang berbeda dari kebanyakan orang. Di saat orang-orang sibuk mengaktualisasikan diri menulis novel, menjadi terkenal, memancing sorotan, dia memilih untuk berada di balik layar. Baginya, menjual ide sama halnya dengan menjual bahan mentah, hasil akhirnya akan bergantung pada para penulis yang mengolah ide tersebut. Asalkan dia mendapatkan bayaran untuknya melanjutkan hidup, dia tidak akan mengusik rahasia para pelanggannya. Dalam bisnis inilah dia menganyam jaringnya, berada di pusat bagaikan laba-laba menjaring mangsanya.

Saya akui, ide-ide Petter memang luar biasa. Gaya dan temanya sangat bervariasi, hingga saya sangat ingin membacanya dalam versi lengkap (jika ada). Biasanya, penulis akan menyebutkan secara umum ide-ide tulisan Petter, tetapi ada juga yang dituliskan secara lebih terperinci dalam ringkasan cerita. Salah satu yang paling berkesan bagi saya adalah kisah mengenai Penyakit Tanpa Jiwa (Konstanta Jiwa, p.198-207) saat penduduk bumi mencapai 12 milyar. Gaya seperti ini agak mengingatkan saya pada karya Italo Calvino ini, yang juga memiliki cerita di dalam cerita.

Saya tidak tahu dengan versi aslinya, di versi terjemahan bahasa Indonesia yang saya baca, saya agak merasa kurang nyaman dengan penggunaan logat Betawi (sudah saya cek ulang di KBBI), seperti ‘…orang-orang pada saling berbicara.’ (p.245) dan beberapa kali saya menemukan kata ‘cape’. Saya juga memerlukan sedikit pembiasaan dengan kata ‘saya’ dalam narasi, bukannya ‘aku’ seperti umumnya novel terjemahan.

Meski digambarkan dengan pendirian dan idealisme yang sangat kuat, saya merasakan kerapuhan tersembunyi dalam diri Petter. Kerapuhan ini akan terbuka di akhir kisah, yang menjelaskan keunikan Petter selama ini. Titik itu berhubungan dengan Maria, yang bisa dikatakan sebagai cinta pertama (dan terakhir?) Petter, juga sebuah kisah tentang Putri Sirkus bernama Panina Manina. Putri Sirkus yang menjadi judul bagi buku ini memang memiliki peran penting dalam keseluruhan kisah. Tampaknya, kisah Panina Manina adalah salah satu kisah yang akan diceritakan Petter kepada orang-orang yang menurutnya istimewa, tanpa disadarinya.

Secara keseluruhan, saya suka dengan segala hal tersembunyi yang disampaikan penulis melalui kisah-kisah Petter. Makna dan pesan-pesan tersebut mengajak kita untuk berpikir di luar cara berpikir Petter, dan menemukan sesuatu yang tidak ditemukannya. Melalui kisah Panina Manina, melalui Lelaki Semeter yang selalu mengikuti Petter, dan melalui masa lalunya sendiri.

3/5 bintang untuk sang penjual dongeng.

Review #11 for Lucky No.15 Reading Challenge category Favorite Color (purple)

5 responses to “The Ringmaster’s Daughter – Jostein Gaarder

  1. tezarariyulianto

    typo kak di data buku. yang bener translator #kabur

  2. Aku sudah hampir lupa sama ceritanya, yang aku ingat dulu aku suka sekali dan makin bersemangat mengoleksi buku-buku Jostein Gaarder😀

  3. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s