Bridge to Terabithia – Katherine Paterson

terabithiaTitle : Bridge to Terabithia (Jembatan Terabithia)
Author : Katherine Paterson (1977)
Illustrator : Donna Diamond
Translator : Sapardi Djoko Damono
Publisher : Elex Media Komputindo
Edition : Cetakan pertama, 2001
Format : Paperback, 181 pages

Jesse Aarons adalah anak laki-laki satu-satunya dari lima bersaudara. Di liburan musim panasnya, dia berlatih untuk menjadi pelari nomor satu, untuk mendapatkan penerimaan dan penghargaan dari teman-teman dan keluarganya. Namun saat sekolah dimulai dan lomba lari diadakan, dia dikalahkan oleh seorang anak baru, anak perempuan bernama Leslie Burke. Pertemanan mereka terjadi begitu saja, mereka memutuskan untuk menciptakan tempat rahasia untuk mereka berdua. Sebuah kerajaan yang dinamakan Terabithia.

“Kita butuh tempat, hanya untuk kita. Tempat itu harus sangat rahasia dan kita tidak boleh mengatakannya pada siapa pun di dunia ini. Mungkin sebuah negeri yang sangat rahasia, dan kau dan aku akan menjadi penguasanya.” (p.56)

Meski berteman dengan seorang anak perempuan tak membuat posisi Jess lebih mudah, Leslie membuatnya nyaman dan bahagia. Mereka saling berbagi dan mendukung. Hingga suatu saat, keadaan tiba-tiba berubah, dan Jess sekali lagi harus mengalami posisi yang sulit, kali ini sebagai seorang yang ditinggalkan.

Leslie telah memperdayainya. Ia telah membuatnya meninggalkan dirinya yang lama dan masuk ke dunianya. Dan sebelum ia benar-benar kerasan tetapi terlambat untuk kembali, Leslie telah meninggalkannya terdampar di sana—seperti astronot yang sedang berjalan-jalan di bulan. Sendirian. (p.161)

Persahabatan dan kehilangan, serta tema-tema gelap yang sejenisnya, adalah tema umum dalam sastra anak mulai pertengahan abad ke-20. Usia sepuluh tahun adalah usia yang rawan dengan perubahan. Di usia 10 tahun, anak mulai mengalami perubahan-perubahan dalam dirinya, pun bagi Jess, ada tuntutan yang harus dihadapinya sebagai anak laki-laki satu-satunya. Anak laki-laki tidak boleh cengeng, anak laki-laki harus berani, anak laki-laki harus kuat, atau yang semacamnya.

Pembelajaran bisa datang dari mana saja. Bagi Jess, dia datang dalam wujud seorang Leslie. Leslie menjadikannya Raja Terabithia, sedikit banyak memberi peran seorang pria dewasa dalam diri Jess, membangkitkan keberanian dan tanggung jawabnya. Karakter Leslie yang dewasa dan berwawasan luas benar-benar membawa perubahan bagi Jess. Leslie mengajak Jess mendobrak sesuatu yang perlu diubah, tidak takut menjadi berbeda jika memang itu baik. Melalui Leslie, Jess mendapatkan kepercayaan diri untuk mengasah hobi dan bakat yang dinilai tidak berarti oleh keluarga maupun lingkungannya. Melalui Leslie pula, pada akhirnya Jess semakin dekat dan saling mengerti dengan keluarganya.

Untuk ketakutan di masa mendatang—karena ia tidak membodohi dirinya bahwa segalanya sudah lewat—ya, kau harus menghadapi rasa takut itu dan tidak membiarkannya melumatkanmu. Betul kan, Leslie? (p.178)

4/5 bintang untuk kisah pendewasaan yang menyayat hati.

Maret : Adaptasi

Maret : Adaptasi

Pertama kali menonton film ini, bertahun-tahun lalu, saya tidak tahu bahwa ini diangkat dari buku. Dalam film, penonton diberikan visualisasi Terabithia—yang sebenarnya merupakan negeri khayalan—hingga tampak seolah-olah merupakan ‘dunia lain’ dan memberikan kesan salah (pada saya) sebagai kisah fantasi. Apalagi saat kehilangan Leslie, tampak Jess seolah-olah tidak dapat kembali ke Terabithia. Namun secara umum, menurut saya, filmnya berhasil memotret maksud dari bukunya dengan cukup baik.

Review #17 of Children’s Literature Reading Project

Review #12 for Lucky No.15 Reading Challenge category It’s Been There Forever

11 responses to “Bridge to Terabithia – Katherine Paterson

  1. Aku belum nonton filmnya. Dulu pas baca bukunya nggak ngerti-ngerti banget sih, tapi pas si itu meninggal… huhu

  2. aku beli buku ini sampe 15 kali, eh beli 15 buku ini maksudnya wkwkwk

  3. Aku malah nggak ngeh sama film nya. Dan baru tau juga kalau film nya ini ada buku nya .

  4. Pas nonton filmnya, sempet shock, lhoh, kok si itu mati? Ini cerita anak2 bukan yak? Huhuhu…. Sedih. Berapa tahun kemudian baru baca bukunya, efeknya tetep sedih…. :S

  5. aku belum baca tapi udah nonton filmnya dan nangis bangeeeeet…hikshiks…

  6. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s