Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa

HUT-BBISebelum berbicara mengenai children’s classics literature, atau sastra klasik anak, ada baiknya kita menilik definisinya terlebih dahulu. Ada berbagai macam definisi klasik, tetapi yang paling lengkap menurut saya sudah dirangkumkan oleh Fanda Classiclit berikut:

Klasik adalah buku-buku yang maknanya mengena di hati pembacanya, dan pengaruhnya tetap bertahan serta terus bergema hingga jauh setelah buku itu terbit atau penulisnya hidup. Klasik adalah buku-buku yang terus dibaca hingga bergenerasi-generasi, karena apa yang ada di dalamnya bersifat universal meski jaman telah berganti. Klasik juga berisi hal-hal yang mengajarkan nilai-nilai yang layak menjadi panutan atau teladan. (source)

Sedangkan definisi children’s literature sendiri juga cukup bervariasi, salah satunya adalah:

Children’s literature is a good-quality trade books for children from birth to adolescence, covering topics of relevance and interest to children of those ages, through prose and poetry, fiction and nonfiction.1

banner 13 days cl-yaPada intinya, saya simpulkan bahwa children’s classic literature (CCL) mencakup buku-buku anak, apapun bentuknya, yang terus dibaca dari generasi ke generasi.

Awal mulanya, CCL adalah tradisi lisan, disampaikan oleh orang tua ke anak-anak dari mulut ke mulut. Bentuk ini umumnya berwujud dongeng, fabel, mitos, dan sejenisnya. Di antara dongeng/fabel yang tertua ada Aesop’s Fable yang ditulis sekitar 600 SM, juga Panchatantra dari India yang lebih tua lagi, pada 800 SM. Penerbitan kumpulan dongeng ini dimulai sejak Charles Perrault dengan Tales of Mother Goose pada 1697, diikuti oleh Grimm, Joseph Jacobs, Andrew Lang, Andersen, dan lain-lain. Oleh karena dimulai dari tradisi lisan, maka tidak sedikit ditemukan kemiripan dalam dongeng-dongeng tersebut.

Di Indonesia sendiri sebenarnya banyak sekali dongeng anak yang masih populer, sehingga dapat dimasukkan dalam kategori klasik. Sebut saja dongeng Kancil, Bawang Merah Bawang Putih, juga cerita rakyat semacam Tangkuban Perahu dan Sangkuriang. Sayangnya, belum ada yang benar-benar mengumpulkan dongeng-dongeng tersebut sehingga, meskipun tidak punah, tidak ada yang mengikat dongeng tersebut untuk bertahan sebagaimana yang diceritakan oleh orang-orang tua kita dulu. Hanya beberapa saja yang masih diperhatikan dan bisa bertahan, salah satunya dari sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer, Cerita Calon Arang.

Sebelum abad ke-18, belum ada buku yang diterbitkan yang murni ditujukan untuk anak-anak. Kebanyakan CCL adalah buku yang ditulis untuk orang dewasa, tetapi dinikmati secara luas oleh anak-anak. CCL jenis ini diawali oleh Robinson Crusoe (Daniel Defoe, 1719), dan Gulliver’s Travel (Jonathan Swift, 1726). Hingga pada tahun 1744, John Newbery menerbitkan A Little Pretty Pocket-Book, yang ditandai sebagai buku anak yang pertama, yang memadukan puisi, cerita bergambar, dan permainan. Nama John Newbery pun hingga kini diabadikan menjadi salah satu penghargaan untuk literatur anak di Amerika Serikat (akan dibahas juga di Books to Share).

Sejak Newbery, literatur anak terus mengalami perkembangan, dan mencapai masa keemasannya sekitar pertengahan abad ke-19 hingga awal abad ke-20 (Golden Age). Di tahun-tahun itu, CCL dengan berbagai variasinya diterbitkan. Puisi sebenarnya sudah dikenal sejak lama dalam bentuk nursery rhymes, seperti Perrault dengan Mother Goose nya. Namun pada masa Golden Age, bermunculan jenis-jenis puisi yang berbeda, seperti A Book of Nonsense (Edward Lear, 1846) yang disebut sebagai father of nonsense poetry, juga kumpulan puisi deskriptif oleh Robert Louis Stevenson pada 1885, A Child’s Garden of Verses.

A mother reads to her children, depicted by Jessie Willcox Smith in a cover illustration of a volume of fairy tales written in the mid to late 19th century. (source)

Picture book, atau buku anak bergambar generasi awal dikenalkan melalui edisi ilustrasi Aesop’s Fables oleh William Caxton pada 1484. Namun yang dianggap sebagai picture book pertama untuk anak-anak adalah Orbis Pictus yang ditulis dan diilustrasikan oleh John Ames Comenius. Pada Golden Age, picture book semakin populer, terutama oleh nama-nama seperti Randolph Caldecott, Walter Crane, dan Kate Greenaway. Nama Caldecott hingga kini digunakan juga untuk penghargaan yang ditujukan bagi ilustrator buku bergambar anak. Picture storybook modern ditandai dengan terbitnya The Tale of Peter Rabbit yang ditulis dan diilustrasikan oleh Beatrix Potter (1902). Selanjutnya, buku anak bergambar masih mengalami inovasi di tangan-tangan Dr. Seuss, Maurice Sendak, Ezra Jack Keats, dll di pertengahan abad ke-20. Ada bahasan mengenai Dr. Seuss juga di Ketimbun Buku.

Alice’s Adventures in Wonderland (Lewis Carroll, 1865) disebut-sebut sebagai masterpiece untuk fantasi modern yang muncul pada Golden Age. Di Amerika Serikat, fantasi modern ditandai oleh The Wonderful Wizard of Oz (L. Frank Baum, 1900). Subgenre fantasi yang beragam sudah mulai bermunculan. Personified toy story, atau boneka/mainan yang bertindak seperti manusia, di antaranya diawali The Adventures of Pinocchio di Italia (Carlo Collodi, 1881) dan Winnie the Pooh di Inggris (A. A. Milne, 1926). Animal fantasy mulai dari The Wind in the Willows (Kenneth Grahame, 1908) sampai Charlotte’s Web (E. B. White, 1952). Petualangan ada The Hobbit (J. R. R. Tolkien, 1937) dan The Lion, the Witch and the Wardrobe (C. S. Lewis, 1950). Hingga science fiction yang dipelopori oleh Tom Swift and His Aircraft (Victor Appleton, 1910), setelah sebelumnya karya-karya Jules Verne, yang sebenarnya ditulis untuk dewasa, populer di kalangan pembaca anak.

Genre historical fiction atau fiksi sejarah untuk anak mungkin tidak banyak pada masa-masa awal. Salah satu pelopor untuk genre ini ada Otto of the Silver Hand (Howard Pyle, 1888) yang bersetting di abad Pertengahan. Karyanya yang lebih populer adalah The Merry Adventures of Robin Hood (1883). Fiksi sejarah klasik yang hingga saat ini masih populer adalah seri Little House (Laura Ingalls Wilder, 1932-1943).

Sejak Robinson Crusoe, banyak kisah petualangan survival mengikuti, yang paling populer adalah Swiss Family Robinson (Johann Wyss, 1812). Genre petualangan populer yang lain ada Treasure Island (Robert Louis Stevenson, 1883), juga The Adventures of Tom Sawyer (Mark Twain, 1876). Genre realistic fiction dengan berbagai karakter dan tema diperkaya oleh kisah keluarga seperti Little Women (Louisa May Alcott, 1868), Heidi (Johanna Spyri, 1880), Anne of Green Gables (Lucy Maud Montgomery, 1908), The Secret Garden (Frances Hodgson Burnett, 1910), dll. Dua yang saya sebut terakhir, oleh karena protagonisnya yang yatim piatu, dianggap sebagai pendahulu kisah-kisah anak bermasalah. Tom Brown’s School Days (Thomas Hughes, 1857) dikatakan sebagai penggerak kisah-kisah yang berlatar di sekolah. Realistic animal stories juga muncul pada Golden Age, sebut saja Black Beauty (Anna Sewell, 1877), Beautiful Joe (Margaret M. Saunders, 1894), The Jungle Books (Rudyard Kipling, 1894), dan The Yearling (Marjorie Kinnan Rawlings, 1938). Kebanyakan buku dalam genre realistis ini termasuk, atau bernapaskan, bildungsroman (coming of age).

Kisah-kisah anak memasuki era baru sejak Harriet the Spy (Louise Fitzhugh, 1964) mengangkat nuansa yang lebih tidak menyenangkan. Disusul dengan penggambaran seks yang eksplisit pada Are You There, God? It’s Me, Margaret (Judy Blume, 1970). Sejak saat itu, tema-tema kontroversial seperti kematian, perceraian, obat-obatan terlarang, dan kecacatan mulai jamak pada literatur anak. Kesan ‘ringan’ dan menyenangkan pada buku-buku anak mulai digantikan dengan tema-tema gelap di era tahun 1970-80an hingga sekarang. Buku-buku jenis ini tentu mengalami tantangan pada awalnya, sebut saja Roald Dahl yang dibahas di My Book Corner.

Itulah sekilas sejarah panjang mengenai CCL. Berbicara mengenai klasik, tidak harus selalu tua. Namun ternyata seiring perkembangan zaman, karya-karya klasik bisa mengalami pergeseran pembaca. Jadi jangan heran bila ada beberapa karya penulis klasik semacam Charles Dickens, Alexandre Dumas, dan penulis buku dewasa lain yang dikategorikan sebagai children’s literature. Sebagian besar pergeseran tersebut dikarenakan memang sifat tulisannya yang universal, atau bisa jadi karena banyak karya tersebut yang kemudian direproduksi menjadi karya-karya yang lebih sederhana dan dilengkapi dengan ilustrasi. Meski demikian, beberapa penulis klasik dewasa juga menulis karya yang dikhususkan untuk anak, seperti The Happy Prince oleh Oscar Wilde (1888), dan The Magic Fishbone oleh Charles Dickens (1868).

Nyi Rara Kidul (source)

Selain penyederhanaan konten, beberapa dongeng klasik (yang saya sebutkan sejak awal memiliki berbagai versi), juga direproduksi menjadi kisah yang lebih ceria, terutama sejak Walt Disney. Dan akhirnya, meski terus direproduksi, terus berubah, terus berkembang, karya-karya klasik tidak akan usang dimakan waktu, karena nilai-nilai dan kandungan moral di dalamnya tak pernah berubah. Zaman boleh berganti, tetapi sejarah pasti berulang.

Biblliography:

  1. Tomlinson, Carl M. & Lynch-Brown Carol, Essentials of Children’s Literature. Fourth Edition. Allyn and Bacon. 2002
  2. Children’s Literature. http://en.wikipedia.org/wiki/Children%27s_literature
  3. List of children’s classic books. http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_children’s_classic_books
  4. Children’s Literature Classics. http://childliterature.net/childlit/

Jangan lupa mengikuti Giveaway Hop, dan blog tour dengan bahasan yang lain.

time table blog tour

7 responses to “Children’s Classics Literature: Berbagai Genre, Berbagai Masa

  1. Waduh pembahasan Kak Bzee lengkap banget, aku jadi minder sama pembahasanku sendiri :”> *salah fokus

    Aku jadi inget waktu kecil aku dikasih baca Heidi yang versi sederhana gitu, terus suka banget. Anak lain pengin jadi Cinderella, aku pengin jadi Heidi. Kayaknya seru sih, soalnya, main di bukit😄

    • Kayanya postinganmu bisa lebih melengkapi postingan ini deh, ditunggu lho Chei.
      Hihi, iya yaa, sebagai anak kota pasti iri sama Heidi yg tiap hari liat rumput, bunga, pohon, sama matahari.

  2. Setujuuuu sama Chei.. Amazing banget bahasan CLLnyaaa…

    Oya, jaman kecil, perasaan aku malah lebih kenal cerita2 HC. Andersen model Robinson Crusoe, Gulliver’s Travel, dibandingkan Cinderella. Lebih suka Heidi juga dibanding cerita2 putri2an gitu… 😃

    • Thanks, mba Lil, bahasan Dahl & DiCamillo juga keren. Aku waktu kecil jg udah kenal bbrp klasik dewasa yg ‘dichildrenkan’, makanya sekarang penasaran aslinya😀

  3. Pingback: CLYA’s Winners! | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Scene on Three (94) | Bacaan B.Zee

  5. Pingback: Ragam Terbitan Buku Klasik | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s