The Dream – Émile Zola

Title : The Dream (Le Rêve)
Author : Émile Zola (1888)
Translator: Eliza E. Chase
Publisher : Project Gutenberg
Edition : April 27, 2006 [EBook #9499], Last Updated: November 10, 2012
Format : ebook

Everything is only a dream.

Angelique ditemukan oleh pasangan Hubert dan Hubertine pada usia 9 tahun, dalam keadaan kedinginan dan kelaparan. Hubert berasal dari keluarga penyulam untuk keperluan gereja dari generasi ke generasi. Kasihan melihat gadis yatim piatu itu, pasangan Hubert memutuskan untuk menjadikannya pekerja magang dan memberinya tempat di rumah yang berbatasan langsung dengan katedral itu. Angelique terbukti menjadi sangat berguna bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan tersebut, terlepas dari beberapa kelakuannya yang sulit dijelaskan. Dia tumbuh menjadi remaja yang terampil, pekerja keras, juga seorang pemimpi.

Angelique was a firm believer in miracles. In her ignorance she lived surrounded by wonders. The rising of the stars, or the opening of a violet; each fact was a surprise to her. It would have appeared to her simply ridiculous to have imagined the world so mechanical as to be governed by fixed laws.

Salah satu mimpinya yang mengganggu Hubertine adalah bahwa suatu saat dia akan menikah dengan seorang pangeran, yang akan membawanya ke istananya, meningkatkan derajatnya, dan memberinya harta yang berkelimpahan. Mimpi-mimpi Angelique ini dibangun dari buku yang menjadi favoritnya sejak kecil, The Golden Legend, yang ditemukannya di perpustakaan Hubert. Buku itu bercerita tentang para martir, orang-orang suci, dan sejarah serta legenda tentang mereka. Angelique sangat terinspirasi oleh mereka, dan menjadikan orang-orang suci itu panutan dalam menjalani hidup. Dia bahkan semacam bisa merasakan kehadiran mereka sebagai penuntun jalannya.

Namun, Hubertine tidak menyukai mimpi dan imajinasi yang disimpan oleh gadis yang sudah dianggap sebagai putrinya sendiri itu. Dia menganggapnya sebagai sebuah bentuk pemberontakan terhadap apa yang sudah diberikan oleh Tuhan, dan menjauhkannya dari kerasnya realitas kehidupan. Meski begitu, mimpi sudah menjadi bagian dari kehidupan Angelique, sesuatu yang tak akan bisa dihapuskannya, karena jauh di dalam lubuk hatinya, dia yakin orang-orang suci yang menuntunnya itu mengatakan hal yang sama.

The “Golden Legend” had taught her this: Was not it true that the miracle is really the common law, and follows the natural course of events? It exists, is active, works with an extreme facility on every occasion, multiplies itself, spreads itself out, overflows even uselessly, as if for the pleasure of contradicting the self-evident rules of Nature.

Mimpi Angelique seolah menjadi nyata saat pada usia 16 tahun, dia bertemu dengan seorang pelukis kaca yang sedang menggarap renovasi untuk katedral. Hatinya merasakan sebuah getaran yang berbeda saat melihat Felicien, pemuda berusia 20 tahun itu. Keduanya saling jatuh cinta, tetapi ternyata cinta saja tidak cukup. Status sosial dan latar belakang keluarga menghalangi mereka untuk bersatu.

“But alas! my dear child, happiness is only found in obedience and in humility. For one little hour of passion, or of pride, we sometimes are obliged to suffer all our lives. If you wish to be contented on this earth, be submissive, be ready to renounce and give up everything.”

Berbeda dari karya Zola yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini diwarnai oleh hal-hal supranatural—yang merupakan perwujudan dari keyakinan, kisah romansa yang meski sulit tetap manis, dongeng, dan mimpi. Karakter Angelique yang pada mulanya samar-samar, berkembang menjadi nyaris sempurna. Kehidupan dan lingkungan yang ditinggalinya nyaris ideal karena didasari pada tradisi agama. Konflik yang dibangun juga tak menunjukkan kegelapan jiwa manusia, tetapi lebih kepada pengabdian dan penyerahan sepenuhnya kepada Tuhan, apa pun konsekuensinya, termasuk penderitaan dan kematian.

Konflik yang diangkat hanya seputar Angelique dengan mimpinya. Segala sesuatunya seperti berjalan sesuai dengan yang diharapkannya, bahkan tentang Felicien. Saya tidak begitu menikmati konflik batin para karakternya, segala hal tentang kegalauan cinta dan dinamika klisenya tidak menarik saya. Namun demikian, Zola masih menyuguhkan kekuatan deskripsinya dalam buku ini. Penggambarannya mengenai arsitektur kota, pemandangan musim semi, bahkan sampai pada teknik penyulaman pada masa itu sangat apik dan membuatnya mudah dibayangkan.

Akhir ceritanya sebenarnya mudah saja ditebak. Penulis tidak menutup-nutupi fakta apa yang akan terjadi sejak pembukaan bab terakhir. Namun, ternyata yang digambarkannya jauh lebih dahsyat dari tebakan saya. Penulis tidak membuat scene yang meletup-letup atau kejadian yang membuat emosi meledak-ledak. Mungkin bagi sebagian orang yang romantis akan menganggap scene terakhir itu indah, tetapi bagi saya, yang jauh lebih indah adalah kesederhanaan pengungkapan dan pemilihan kata-katanya yang memberikan efek tersendiri untuk sebuah scene setragis itu (walaupun akhirnya bahagia juga).

Was she herself only an illusion, and would she suddenly disappear some day and vanish into nothingness?

Hubungan saya dengan mimpi

April : Hubungan dengan Pembaca

April : Hubungan dengan Pembaca

Saya pribadi percaya dengan kekuatan mimpi, baik itu karena kekuatan yang akan ditimbulkan alam bawah sadar kita untuk mencapainya, pun termasuk Kekuatan Agung yang menentukan kejadiannya. Saya merasa terhubung dengan karakter Angelique dari sisi ini. Namun, di sisi lain, saya merasa jauh dari mengerti mengenai pengorbanan perasaan yang dilakukannya. Di luar masalah keimanan, saya tak bisa membuat diri saya menderita karena cinta seperti yang dilakukan oleh Angelique. Mungkin, karena memang belum ada sosok Felicien yang layak untuk diperjuangkan sebesar itu. Bagi saya pribadi, mimpi perlu diperjuangkan, dan bukan semata didapatkan dari sikap submisif dan penyerahan diri semata. Penyerahan diri baru dilakukan setelah segala usaha maksimal dilakukan dan juga melalui pengharapan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan.

Pada bagian klimaks, ada sebuah pertentangan batin yang saya rasa sangat terhubung dengan pemimpi; godaan untuk mencapai mimpi dengan cara yang salah, atau melakukan sesuatu yang benar meski harus kehilangan satu kesempatan. Di titik ini, ada momen yang digambarkan Zola sebagai sebuah kontak metafisik, tetapi dapat juga saya artikan sebagai suara hati nurani—untuk lebih universalnya. Terkadang, kita mungkin sering mencari pembenaran atas tindakan kita dengan mencari kesalahan orang lain. Bagaimanapun, mungkin ada cara lain yang lebih baik, setidaknya itulah yang dialami oleh Angelique.

“The faults of others will not excuse our own.”

Jadi sebenarnya buku ini agak menimbulkan perasaan terbelah. Di satu sisi, saya sangat menyukai tema besarnya, yaitu mimpi. Di sisi lain, saya tidak merasa terhubung dengan hal-hal pembangun kisah ini. 3/5 bintang untuk dongeng a la Zola.

zoladdiction-2015-button

2 responses to “The Dream – Émile Zola

  1. Pingback: Zoladdiction 2015 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s