Bilang Begini, Maksudnya Begitu – Sapardi Djoko Damono

BBMB SDDJudul : Bilang Begini, Maksudnya Begitu
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Penyelia naskah : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Format : Paperback, vi + 138 halaman

Konon puisi adalah mahkota bahasa. Maksudnya, cara pemanfaatan bahasa yang setinggi-tingginya dicapai dalam puisi. Rasanya saya lebih suka mengatakan dengan lebih lugas bahwa puisi adalah hasil yang dicapai jika seseorang mampu bermain-main dengan bahasanya. (hal.133)

Puisi seringkali menjadi momok dalam apresiasi karya sastra bagi mereka yang belum memahaminya. Saya termasuk salah satu orang yang terintimidasi jika harus mengapresiasi puisi. Bagi saya, puisi adalah pelampiasan yang sangat pribadi, sebuah tingkatan yang lebih tinggi daripada prosa karena penggunaan bahasanya yang lebih efisien dan sarat akan ungkapan dan majas. Beberapa tahun belakangan, saya agak berani dalam mengapresiasi puisi, sebatas pengetahuan saya. Namun, setelah membaca buku ini, saya menjadi lebih berani karena buku ini dengan ringkas mengenalkan secara mendalam hakikat dari puisi yang sesungguhnya.

Penulis, melalui contoh-contoh puisi—baik karya asli maupun terjemahan, menunjukkan jenis-jenis alat kebahasaan yang dipergunakan oleh puisi untuk mencapai tujuannya. Apakah puisi sebagai sastra tulis yang bermain-main dengan visual, yaitu bagaimana cara penulisannya menjadikannya khas, ataukah puisi sebagai bunyi, karena bermula dari tradisi lisan, yang memanfaatkan aliterasi (rentetan bunyi huruf mati) dan asonansi (rentetan bunyi huruf hidup) sehingga mudah diingat. Bagaimana seseorang memaknai puisi sesuai dengan latar belakang dan pengetahuannya, yang diakibatkan karena pemilihan kata sang penyair yang ‘bilang begini, maksudnya begitu’. Puisi juga bisa berwujud transparan, yang hanya memiliki satu makna, bisa juga bersifat prismatik, yang bisa menguraikan ‘warna’ sehingga bisa ditafsirkan bermacam-macam.

Melalui pemahaman yang dibangun oleh penulis ini, apresiasi puisi menjadi lebih mudah karena kita tak harus terlampau kaku dalam mencari maknanya. Pemahaman yang berbeda tidaklah salah, tetapi justru memperkaya puisi itu sendiri. Hal lain yang seringkali menjebak pembaca puisi adalah amanat. Beberapa penyair memang menjadikan puisi sebagai alat edukasi dan dakwah. Penyair bisa berbicara ‘langsung’, atau menyembunyikan maknanya guna memberi kesempatan bagi pembaca untuk merenungkannya, sehingga tidak merasa seperti diceramahi. Akan tetapi, tak semua puisi harus kita cari-cari amanatnya.

Jadi, karena tanpa amanat, apakah dengan demikian pantun-pantun itu tidak berharga? Tentu saja berharga, sebab sebenarnya membaca puisi itu tidak selalu harus berburu amanat. (hal.88)

Dan sebenarnya, yang menarik dalam sajak itu adalah tontonan tersebut, bukan sekadar amanatnya. Dari tontonan itulah kita, pembaca, bisa mencarikan amanat yang disiratkannya. Pada umumnya demikianlah proses membaca puisi. Jika kita membaca puisi semata-mata karena amanatnya, atau dengan kata lain kita menjadi pemburu amanat, sebagian besar sajak yang pernah ditulis jelas akan mengecilkan hati kita karena tidak kunjung mendapatkan amanat yang jelas. (hal.90)

Puisi dapat saja hanya berupa tontonan—sebagaimana istilah penulis, tentang realitas kehidupan, tentang perasaan, maupun tentang pandangan hidup penyair atau masyarakat pada umumnya. Karenanya, puisi dapat menjadi cerminan kehidupan sang penyair. Meski begitu, dalam apresiasi puisi, latar belakang penyair bukan sesuatu yang mutlak untuk diketahui. Dengan membebaskan diri dari pengetahuan, bisa saja kita menemukan makna ‘prismatik’ dari sebuah puisi.

Kalau kebetulan kita mengetahui bahwa nama-nama itu ada kaitannya dengan kehidupan yang sebenarnya, tafsir kita bisa saja menjadi lebih mendekati ‘kenyataan’, tetapi bisa juga malah membatasi tafsir kita sebab puisi pada hakikatnya tidak berbicara tentang ‘kenyataan’ karena merupakan ciptaan yang lahir dari imajinasi penyair. Jika mampu melepaskan diri dari pengetahuan tentang nama yang kebetulan tercantum dalam puisi, kita tentu bisa lebih membebaskan imajinasi dan mencapai tafsir yang lebih dalam. (hal.115)

Buku ini juga menyinggung penggunaan dongeng yang dimodernkan sebagai salah satu cara memperkaya puisi itu sendiri, maupun sarana melestarikan tradisi.

Kalau kita katakan sekarang bahwa si penyair telah memanfaatkan wayang sedemikian rupa agar sesuai dengan situasi komunikasi modern yang telah menuntutnya untuk di sana-sini mengubahnya, dongeng yang diubahnya itu sebenarnya juga merupakan usaha pujangga-pujangga sebelumnya untuk melakukan hal serupa. Demikianlah maka dongeng, dalam masyarakat mana pun, menjadi tradisi karena senantiasa mengalami proses serupa itu. Tradisi adalah proses, bukan sesuatu yang berhenti dan menjadi fosil. (hal.124-125)

Kesemua itu tak lepas dari ciri karya sastra sebagai sesuatu yang ‘indah’. Maka seorang penyair harus tahu bagaimana mengolah bahasanya sendiri supaya menjadi sebuah karya puisi yang indah, terlepas dari sifatnya yang lugas atau prismatik, beramanat atau tidak. Dan sebagai pembaca, tentunya kita tidak perlu terintimidasi oleh puisi yang berbunga-bunga dan sulit dipahami, karena kita selalu bisa menilai dan menghargai sebuah puisi dari sisi mana pun yang kita mengerti.

Puisi sedapat mungkin menghindari klise, menjauh dari bahasa yang sudah lecek karena sudah begitu sering dipakai. Itulah hakikat puisi. (hal.135)

Buku ringkas ini sangat berguna bagi siapa pun yang ingin atau perlu mengapresiasi puisi. Pembahasannya relatif mudah dipahami, meski awam terhadap ilmu sastra. Buku ini dapat juga menjadi semacam panduan bagi para penyair pemula yang ingin mengembangkan teknik penulisan puisinya. 4/5 bintang untuk pengayaan ilmu sastra.

Review #15 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

6 responses to “Bilang Begini, Maksudnya Begitu – Sapardi Djoko Damono

  1. aduh, aku makin kepingin punya buku ini >.<
    nice review ka bzee ^^d

  2. Jiyaaahahahaha…. jadi sekarang daku ga perlu lagi dong bilang “saya tuh dodol masalah puisi”. hehehe, ya ga?? #pembelaan

    • Iyaa, sebenernya suka2 juga mau menafsirkan gimana kan.. justru menurutku, puisi yg bisa multitafsir itu keren *pembenaran, lol

  3. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: 2015 Reading Challenges: Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s