Selamat Hari Buku Nasional

haribukunasional

Pic source (edited)

Hari ini, tepat pada tanggal 17 Mei diperingati sebagai Hari Buku Nasional. Jadi ceritanya, Divisi Event BBI memberi tantangan untuk menunjukkan seberapa kecintaan kami pada karya lokal. Dan saya…*menghela napas*

Sebenarnya ini sudah menjadi isu pribadi saya sejak dua tahun lalu. Saya sadar bahwa saya sangat sedikit membaca buku lokal, karena memang sejak kecil, saya lebih mengenal karya-karya internasional ketimbang karya para penulis dalam negeri. Oleh karena itu, sebagai wujud dukungan dan kecintaan saya terhadap penulis negeri sendiri, saya mulai membaca-baca buku Indonesia.

Oleh karena saya tidak ingin kecewa, saya memulai dengan para penulis klasik, atau penulis kontemporer yang sudah memiliki nama, baik itu meminjam, mendapat buntelan, ataupun membeli sendiri. Hasilnya, mungkin bisa ditilik dari review-review saya di blog ini. Saya menemukan penulis yang saya ingin membaca buku-bukunya lagi, seperti Pramoedya Ananta Toer, Nh. Dini, Ahmad Tohari, Maggie Tiojakin, Poppy D. Chusfani, bahkan saya sudah punya seorang penulis lokal yang buku barunya akan langsung saya beli (a.k.a. author autobuy), yaitu Sapardi Djoko Damono. Membaca karya-karya mereka tidak kalah dengan membaca karya-karya penulis internasional, tetapi hanya sebatas itu. Saya belum bisa mengapresiasi para penulis baru, terutama para penulis genre populer. Bukan karena saya memandang sebelah mata, tetapi karena pengalaman saya membaca karya-karya itu cukup membuat saya kapok.

Salah satu hal yang menjadi kelemahan mereka, yang saya anggap juga kelemahan para editor di penerbitan, adalah kurangnya riset. Padahal, saya sangat menjunjung tinggi riset pada literasi, karena itu sangat berharga pada orang yang tidak mengalami atau menjalani sendiri kisah atau setting dalam buku tersebut. Jadi, begitulah, saya masih sangat pilih-pilih terhadap buku lokal, bahkan bisa dibilang skeptis, jika sang penulis belum memiliki nama. ‘Memiliki nama’ pun bagi saya mungkin standarnya agak lebih tinggi daripada ‘memiliki nama’ untuk buku internasional.

Dan inilah koleksi saya sejauh ini. Minus “Pada Suatu Hari Nanti/Malam Wabah” yang entah saya letakkan di mana, “Bookaholic Club” yang baru saya ingat keberadaannya setelah menulis post ini, dan boxset “Xar & Vichattan” yang baru saya ingat keberadaannya sesaat sebelum membuat post ini:

12 3

Mungkin masih ada beberapa buku yang terlewat karena penataan rak saya belum rapi, tetapi saya rasa jumlahnya tetap kalah jauh jika dibandingkan dengan buku internasional saya. Meski begitu, dalam momen Hari Buku Nasional ini, saya berharap akan semakin banyak buku dan penulis yang bisa membuat saya–dan para penikmat baca di penjuru tanah air–merasa perlu untuk memasukkannya ke dalam rak koleksi kami, bukan semata sekali baca kemudian dilepaskan begitu saja.

Maju terus Dunia Perbukuan Indonesia!

9 responses to “Selamat Hari Buku Nasional

  1. Ah, aku juga gak gitu banyak kok, koleksi buku lokalnya. Kebanyakan terjemahan😄
    Kalau karya penulis baru aku agak malesnya kalau yang sudah kebanyakan unsur barat atau korea-nya. Doh, gimana gitu rasanya pas baca. Gak jauh beda sama terjemahan kan😛

    • Selama eksekusinya bagus, aku pribadi ga masalah sih kalo ‘rasanya’ terjemahan. Tapi kayanya banyak yg sekadar ‘tempelan’ ya

  2. YUDHI HERWIBOWO!

  3. Penulis kontemporer Indonesia terbaik itu menurut saya Eka Kurniawan. Coba baca ‘Cantik Itu Luka’, deh. Tapi kalo belum pernah baca dia, jangan mulai dari ‘Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas’. Agak mengecewakan (walaupun bisa aja saya yang gak ngerti bagusnya di mana).

    Tentang penulis muda Indonesia kualitasnya jelek, itu juga karena permintaan penerbit. Kata mereka, pembaca remaja kita banyak dan mereka senengnya yang kayak gitu. Kalo kita kasih naskah yang berbobot, paling penerbit akan ngundang kita ke kantor mereka, terus minta kita nulis yang cheesy dan yang berbobotnya disimpen dulu buat nanti kalo kita udah punya nama.😀

    • Yaa, emang sih kenyataannya seperti itu, tapi kayanya standar cheesynya perlu dinaikkan, jangan asal nulis jadi gitu maksudku.
      Iya nih, belum kesampaian baca Eka Kurniawan. Makasih rekomendasinya🙂

  4. Meski koleksiku kayaknya lebih banyak dari punyamu, Zee, tp sebagian juga masih tertimbun hahaha…

    Aku sih baca karya lokal model populer-istilah Zee – juga sebagian karena buntelan n suplemen saja setelah baca bacaan yg berat2. Buat dijadiin favorit n direkomendasikan ke orang lain, ngga juga, kecuali yg benar2 aku suka, macam Tiojakin, Gusweng dan AH 😊

    • Kalo aku baca yg populer dan eksekusinya bikin geleng2, ga jadi suplemen mbak, yg ada malah stress, hahaha.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s