Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

soekramJudul : Trilogi Soekram
Penulis : Sapardi Djoko Damono
Editor : Mirna Yulistianti
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Edisi : Cetakan pertama, Maret 2015
Tebal : 273 halaman

Membaca sebuah kisah fiksi seringkali memberi pengalaman tersendiri bagi pembacanya. Mungkin si pembaca merasa akrab dengan salah satu karakter dalam kisah tersebut, bisa jadi pembaca merasakan keterikatan pada konflik yang dialami oleh si karakter, atau mungkin latar kisah itu membangkitkan kenangan tersendiri bagi si pembaca. Namun, apa jadinya jika karakter sebuah novel benar-benar hidup, benar-benar muncul di hadapan kita?

Itulah yang terjadi pada sahabat salah seorang penulis yang baru saja meninggal dunia. Penulis itu meninggalkan cerita yang belum selesai ditulis, sehingga Soekram—karakter utama cerita tersebut—meminta sahabat penulis itu untuk melanjutkan ceritanya. Kisah Soekram pun ditulis ulang. Pada bagian pertama, Soekram menjalani kisah cinta yang rumit dengan beberapa wanita, berhubungan dengan studi dan pekerjaannya, dengan latar belakang peristiwa Mei 1998. Ternyata buku itu tidak memuaskan Soekram sehingga dia kembali untuk meminta kisahnya dirombak lagi. Pada bagian selanjutnya, latar berpindah ke masa yang lebih lampau. Masih berhubungan dengan kisah cinta Soekram, tetapi kali ini ada bagian yang ditulisnya sendiri, sesuai dengan kehendak sang tokoh.

Bisa dikatakan, ada dua unsur besar dalam buku ini. Yang pertama adalah ketiga kisah Soekram yang dibagi menjadi tiga bagian; Pengarang Telah Mati, Pengarang Belum Mati, dan Pengarang Tak Pernah Mati. Ketiga kisah ini sebenarnya adalah novela yang pernah diterbitkan secara terpisah. Namun di buku ini, ketiga kisah itu dijalin dengan unsur kedua buku ini, yaitu konflik antara Soekram, sahabat penulis, dan penulis itu sendiri.

Karakter Soekram sendiri tampaknya adalah sebuah potret mengenai manusia dan hasrat-hasratnya. Soekram seperti mengumpulkan sifat-sifat dasar manusia, mulai dari keinginan dasar untuk bertahan hidup, hingga hasrat untuk mengaktualisasi diri.

Rupanya Soekram tahu bahwa jika file-file itu tidak dibuka, ia belum menjadi tokoh—tokoh fiksi baru menjadi ada jika dibaca, jika sudah masuk ke benak manusia. Jika semua yang pernah ditulis sahabatku itu lenyap begitu saja dan belum sempat dibaca, Soekram akan mengembara seperti roh yang gentayangan selamanya di alam ajaib—bukan alam nyata, bukan pula alam rekaan. (hal.60)

Dengan mengambil tiga masa sejarah perjuangan yang berbeda-beda, penulis menggelitik kita dengan menunjukkan sisi absurd dari ‘perjuangan’ Soekram. Soekram memang mengambil bagian dari perjuangan, bahkan di bagian ketiga napas patriotisme lebih terasa. Namun, seperti yang saya sebutkan sebelumnya, ada hasrat pribadi yang digambarkan lebih dominan. Dengan kritik yang tersirat di sana-sini, humor yang diselipkan, termasuk upaya penulis mereka ulang kisah yang sudah ada, membuat buku ini terasa segar dan berbeda.

“Orang akan bekerja lebih baik kalau ada ancaman, kalau ada sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya mereka terima, kalau menghendaki adanya perubahan.” (hal.215)

Gaya penulis yang ‘mengobrak-abrik’ kisah yang sudah ada—dalam kasus buku ini, kisah klasik Nusantara—dan mengubahnya menjadi sesuatu yang baru sudah pernah dilakukannya di kumpulan cerpennya Pada Suatu Hari Nanti/Malam Wabah. Sedangkan cara penulis memasukkan tokoh fiksi ke dalam dunia si pengarang mengingatkan saya pada salah satu drama favorit saya—yang juga sangat filosofis—Six Characters in Search of An Author karya Luigi Pirandello. Sebagai seorang penyair, sentuhan penulis masih terasa dari pemilihan kata-kata dan beberapa kalimat indah yang terdapat di buku ini.

Tiga jam sesudah itu pesawatnya seperti sebuah kerikil yang dilontarkan ketapel yang ditarik oleh sepasang tangan yang sangat perkasa, menembus awan, melayang-layang di udara. (hal.12)

Bumi berguling seperti biasanya, mengelilingi matahari menjadi kelana di alam raya—siapa yang bisa menghalanginya? Siapa yang bisa menghalangi matahari menjaga kehidupan isi dunia? Siapa yang bisa menghalangi bumi berputar pada sumbernya? Siapa yang berani menghalangi awan bergantung di atas sana? (hal.236)

Saya rasa, masih banyak sekali celah pemahaman yang saya lewatkan dari membaca buku ini satu kali. Penulis memasukkan simbol-simbol dan ide-ide filosofis yang terkadang nyleneh. Bagi saya, buku ini sulit untuk dinikmati secara keseluruhan, tetapi potongan-potongan pembentuknya jelas sangat mengesankan. 3.5/5 bintang.

Review #22 for Lucky No.15 Reading Challenge category Something New

4 responses to “Trilogi Soekram – Sapardi Djoko Damono

  1. Kayaknya kok mumet ya, Zee, baca buku ini. Kalo pun ngga mumet, kayaknya ngga mampu nulis reviewnya, kalo akuuu… Keren deh reviewnyaaa…

    • Iyaa, agak ngawang sih pertamanya…tapi jadi lebih make sense kalo diambil bagian per bagiannya. Ini aja ngereviewnya berbulan2 baru jadi mbak, hahaa… Makasiih🙂

  2. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: Sapardi X Jokpin (Oleh-Oleh ALF 2016 Part 4/4) | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s