Little Women – Louisa May Alcott

Review in Indonesian and English.Little Women

Title : Little Women
Author : Louisa May Alcott (1868-1869)
Publisher : Penguin Classics
Edition : 42nd printing, © 1989
Format : Paperback, xxxvi + 508 pages

Little Women merupakan salah satu bildungsroman alias coming-of-age story yang populer pada masanya, bahkan hingga saat ini. Karya ini merupakan semi-autobiografi penulis, sehingga pada beberapa bagian, kita dapat menemukan persamaan dengan kehidupan pribadi penulis, meski sebagian lainnya tetap merupakan fiksi. Pada awalnya, buku ini terbit menjadi dua bagian; di mana bagian kedua diberi judul Good Wives oleh penerbit di Inggris. Edisi yang saya baca ini merupakan penyatuan dari dua bagian buku itu, dengan bagian kedua dimulai di halaman 236. Edisi ini juga diperkaya dengan pengantar dan catatan kaki yang menjelaskan kata-kata dan referensi yang mungkin kurang umum pada masa sekarang. Menilik catatan itu, saya melihat bahwa Alcott relatif banyak menggunakan referensi karya-karya Charles Dickens dalam bukunya.

Buku ini berkisah tentang tahun-tahun anak-anak March menjadi dewasa. Pasangan March memiliki empat orang anak gadis dengan karakteristik yang berbeda-beda; Meg yang paling dewasa dan paling kehilangan masa-masa kejayaan Mr. March yang sekarang telah bangkrut, Jo yang tomboy dan bebas, Beth yang kalem dan pemalu, serta Amy si bungsu yang manja. Mr. March termasuk sebagai salah seorang yang bertugas pada Perang Sipil di Amerika saat itu, sehingga keempat anak tersebut—yang saat itu berusia 12-16 tahun—tinggal bersama Mrs. March (Marmee) dan Hannah, pembantu mereka sejak kecil.

Mrs. March tak hanya membesarkan mereka, tetapi juga mendidik keempat putrinya dengan caranya sendiri. Dalam kondisi keluarga yang sedang prihatin, mereka dididik untuk tetap bersemangat menjalankan tugas-tugas mereka dengan penuh tanggung jawab. Meski Meg sebagai guru privat mendapatkan anak didik yang nakal, Jo harus berkutat di rumah Aunt March yang membosankan, keduanya mendapatkan teladan dari ibu mereka yang tak habis membuat keduanya kagum. Beth yang sangat minder hingga tak bisa bergaul di sekolah tetap mendapatkan pendidikan di rumah, sambil membantu pekerjaan rumah. Hanya Amy yang masih bersekolah.

Mrs. March knew that experience was an excellent teacher, and, when it was possible, she left her children to learn alone the lessons which she would gladly have made easier, if they had not objected to taking advice as much as they did salts and senna. (p.259)

Perubahan terjadi saat Jo berkenalan dengan tetangga mereka, Laurie, yang tinggal bersama kakeknya yang kaya raya, Mr. Laurence. Kesamaan sifat membuat Jo cepat akrab dengan Laurie, dan otomatis membuat Laurie dekat dengan keluarga March, bahkan termasuk Beth. Akan tetapi, kisah mereka tidak melulu dihiasi kebahagiaan. Setiap anggota keluarga mendapatkan ujiannya masing-masing, yang menguji kedewasaan dan membuat mereka lebih baik. Seperti Meg yang diuji dengan kemewahan yang sangat diidam-idamkannya, Jo dengan kesabarannya yang pendek, atau Amy dengan kebanggaannya.

“That is perfectly natural, and quite harmless, if the liking does not become a passion, and lead one to do foolish or unmaidenly things. Learn to know and value the praise which is worth having, and to excite the admiration of excellent people, by being modest as well as pretty, Meg.” (p.97)

Cobaan terbesar, yang juga merupakan klimaks dari kisah bagian pertama adalah saat Mr. March terluka hingga membutuhkan perawatan khusus, sedangkan Beth terkena scarlet fever saat Marmee sedang ke luar kota merawat ayahnya. Penyakit yang pada saat itu—sebelum era antibiotik—termasuk salah satu penyakit mematikan, merupakan ujian berat bagi keluarga March yang saling terikat secara emosional satu sama lain.

Title page: Little Women (1868), by Louisa May Alcott (1832-1888). Boston: Roberts Brothers, 1868. *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

Pada bagian kedua (yang sebenarnya sudah ditandai pada akhir bagian pertama), satu per satu putri-putri March bertambah dewasa, yang ditandai dengan pernikahan Meg. Bagi Jo yang berjiwa bebas, kehilangan kakak satu-satunya adalah hal yang berat. Pun bagi Meg yang mengalami berbagai masalah rumah tangga sebagaimana layaknya pasangan yang baru menikah. Pada bagian ini, pengejaran mimpi dan cita-cita mereka juga disorot dengan lebih dalam, terutama Jo dengan semangatnya di bidang menulis, dan Amy dengan bakat seninya.

“Never till I’m stiff and old, and have to use a crutch. Don’t try to make me grow up before my time, Meg; it’s hard enough to have you change all of a sudden; let me be a little girl as long as I can.” (p.153)

Hal yang menarik dari buku ini adalah ikatan antar anggota keluarga yang sangat kuat, persahabatan dengan keluarga Laurence yang sangat tulus, serta bumbu-bumbu kehidupan yang beraneka rasa. Penulis memotret bagian-bagian menarik dari kehidupan keluarga March ke dalam bab-bab yang relatif pendek. Mungkin ada beberapa bagian yang terasa membosankan, tetapi lebih banyak bagian yang seru, bagian yang menyenangkan (terutama kreativitas permainan masa kecil mereka), bagian yang kocak, sedih, hingga mengaduk-aduk emosi. Bagian paling mengharukan bagi saya adalah yang melibatkan Beth dan Mr. Laurence, sedang yang paling kocak adalah yang melibatkan Jo dan cinta. Dan bagian favorit saya, sekaligus paling berkesan dan selalu saya ingat ada di sebelum bab terakhir bagian kedua, Under the Umbrella.

And here let me premise, that if any of the elders think there is too much “lovering” in the story, as I fear they may (I’m not afraid the young folks will make that objection), I can only say with Mrs. March, “What can you expect when I have four gay girls in the house, and a dashing young neighbor over the way?” (p.236)

Di antara bab-bab dalam buku ini kadang disertai bab yang berisi korespondensi, terutama bagian yang terlalu panjang jika diceritakan dengan narasi, dan terasa lebih baik jika dipadatkan dalam bentuk surat-menyurat. Selain lebih ringkas, format penulisan surat secara tidak langsung menunjukkan kepribadian penulisnya dengan lebih kuat, serta suasana hati dengan lebih gamblang. 4/5 bintang untuk perjalanan panjang gadis-gadis March.

This is *only* my second read of Little Women, after I read the abridged version years ago. I read this along with Hamlette since March 2015, and my first experience of discussing chapter per chapter. From this reading, I got so many details that I may lose if I read it by myself, despite the introduction and notes included on my edition.

This book portrays the life of the Marches in its own way. It’s everyday life, with obvious morals here and there, it may seem a little bit preachy for some people, but not for me. Since, the author told the morals through Mrs. March, and it is natural for a mother to preach her children. I love the characterizations of the March girls. Each girl has her part in the story, together they make a heart-warming story of family, friendship, and love.

Frontispiece illustration from part 1 of Little Women by Louisa May Alcott (1832-1888), illustrated by her sister May Alcott. Boston: Roberts Brothers, 1868 *AC85.Aℓ194L.1869, Houghton Library, Harvard University

“… You are the gull, Jo, strong and wild, fond of the storm and the wind, flying far out to sea, and happy all alone. Meg is the turtle-dove, and Amy is like the lark she writes about, trying to get up among the clouds, but always dropping down into its nest again. Dear little girl! she’s so ambitious, but her heart is good and tender, and no matter how high she flies, she never will forget home. …” (p.375)

I think I ended up liking all the characters in this book. They improved quite much as the years went by, especially Amy, the little one. However, nothing could compare with the improvement of shy Beth when she and Mr. Laurence became friends on the earlier chapters. The scene, as most scene with Beth, drew my tears out. The progress of Jo’s love was smooth and lovely, and of course Meg with her happy little family was a precious journey.

This book is one of the great choice to revisit. Either chapter we decide to read could make a different effect in different situation, also a better understanding of the characters. Reading this book is a kind of reminder of how simplicity may change many things. It is the simple thing that often touches the heart. It is also the simple thing that shows sincere love.

Review #26 of Classics Club Project

Review #24 of Children’s Literature Reading Project

Review #25 for Lucky No.15 Reading Challenge category Freebies Time

6 responses to “Little Women – Louisa May Alcott

  1. I completely agree that because most of the moralizing comes from Mrs. March, it doesn’t make the book as a whole feel too much like a sermon. Excellent observation!

    I’m so glad you enjoyed this read-along! I know most read-alongs discuss two or three chapters at once, but I feel like some books just deserve a much closer, slower examination🙂

  2. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

  3. Pingback: 2015 Reading Challenges: Wrap Up | Bacaan B.Zee

  4. Pingback: Galbraith, Rowling, Cormoran Strike, dan Perempuan | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s