Jejak Penyintas & Rumah

jejak penyintasJudul 1 : Jejak Penyintas (Sepuluh Kisah Rumah Tangga Buruh Migran Perempuan dari Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Juni 2007
Tebal : xxv + 84 halaman

rumahJudul 2 : Rumah: Dambaan Buruh Migran Perempuan (Sepuluh Cerita dari dan tentang Rumah Buruh Migran Perempuan Asal Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone)
Edisi : Cetakan Pertama, Mei 2008
Tebal : xxviii + 105 halaman

Penyunting : Tati Krisnawaty, SH Ningsih, JJ Rizal
Penerbit : The World Bank Office Jakarta

Gelombang buruh migran seolah tak ada habisnya. Selama berpuluh-puluh tahun, menjadi TKI/TKW adalah pilihan hidup yang (dirasa) menjanjikan. Pemberitaan mengenai kesulitan pada buruh migran tersebut pun tak menyurutkan orang untuk berbondong-bondong memilih menjadi buruh atau PRT di luar negeri. Hal ini tentu bukan tanpa alasan. Memang benar bahwa menjadi buruh migran menjanjikan penghasilan yang jauh lebih besar. Jika kita, sebagai ‘orang luar’, memandang kasus gagal dari para TKI, maka orang-orang pedesaan (terutama yang disorot dalam buku ini: Sukabumi, Malang, Lombok Tengah, dan Bone) yang hidup dalam kondisi pas-pasan, bahkan kekurangan, lebih memilih untuk memandang kasus-kasus yang berhasil.

Kedua buku ini terlahir dari studi kasus mengenai para buruh migran perempuan (BMP). Dari sekian ratus wawancara dan penelitian, dipilihlah masing-masing sepuluh kasus untuk setiap buku, yang masing-masing mewakili isu perempuan penyintas (survivor) dan usaha membangun rumah tinggal–yang dianggap sebagai simbol kesejahteraan, keamanan, tempat bernaung, dan tempat pulang.

Di tengah masyarakat yang masih menganut budaya patriarki, menjadi BMP tidaklah mudah. Di satu sisi, mereka ingin turut andil dalam meningkatkan kesejahteraan rumah tangga, di sisi lain, ada budaya dan adat yang membuat usaha mereka jauh lebih sulit. Adanya diskriminasi, tindak kekerasan—baik fisik maupun mental, sampai pada pencerabutan hak-hak perempuan, tak pelak terjadi pada mereka, meski nyata-nyata telah berusaha menaikkan taraf hidup keluarga, dengan segenap pengorbanannya.

Buku ini memotret kisah-kisah BMP, baik yang berhasil ataupun yang gagal, yang dihina atau dipuji, yang dihargai maupun yang disia-siakan dan sekadar dimanfaatkan. Ada BMP yang hidupnya menjadi bahagia dalam rumah yang mapan, ada juga yang diceraikan karena alasan adat, bahkan ada yang disingkirkan setelah suami/keluarga mendapatkan bantuannya. Namun, di sisi lain, bukan tidak mungkin BMP yang berubah dan meninggalkan keluarganya untuk pilihan hidup yang lain. Dalam hal ini, kesetiaan suami/keluarga di kampung halaman yang disoroti.

Kisah-kisah dalam buku ini merupakan kisah nyata yang dibalut dalam nama-nama samaran, sehingga kisahnya pun dibangun dengan konflik yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Tak semua kisah terbalut emosi, beberapa ada kisah yang ‘biasa’ saja, tetapi—yang paling penting adalah—berhasil menyampaikan maksudnya. Buku ini dimaksudkan sebagai salah satu sarana menyebarluaskan isu-isu sosial mengenai BMP yang jarang disoroti, atau jarang mendapatkan perhatian dari pihak yang berwenang. Bahkan mungkin ada pihak-pihak yang sengaja menutup mata dan hanya mengambil keuntungan secara sepihak. Hal-hal ini menyebabkan minimnya regulasi yang melindungi para BMP, regulasi yang bukan hanya menjadikan mereka sebagai komoditas.

Kelemahan dari buku ini adalah tata bahasa dan penulisan yang tidak sempurna. Masih banyak saya temukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sangat disayangkan, mengingat buku ini adalah sebuah karya yang semestinya bisa dikemas dengan lebih baik sehingga bisa menjangkau lebih banyak pembaca.

Pembahasan yang mengiringi kisah-kisah dalam buku ini—pada kata pengantar, prolog, dan epilog—sangat lengkap dan komprehensif. Mulai dari tema, sinopsis, latar belakang, moral, dan lain sebagainya. Di satu sisi baik untuk tujuan yang dimaksudkan dari penulisan buku ini, tetapi di sisi lain, detail yang terlalu berlebihan membuat pembaca merasa cukup, bahkan sebelum membaca kisahnya sendiri.

Secara keseluruhan, buku ini cukup mencerahkan, memberi sudut pandang baru, dan mengasah empati kita pada orang-orang yang mengambil pilihan tak populer dalam hidupnya. Semoga pihak yang berwenang berkesempatan untuk mengetahui kisah-kisah mereka dan membuat regulasi yang berimbang. 3/5 bintang untuk perempuan-perempuan perkasa dan perjuangannya.

Juni : Budaya & Setting Indonesia

Juni : Budaya & Setting Indonesia

2 responses to “Jejak Penyintas & Rumah

  1. Aku baru tau ada buku ini ^^ Sepertinya menarik! Aku pernah baca buku yang mengangkat tema ini tapi fiksi yang paling kuingat ada 1 cerita tentang TKW yang kerja di luar sana banting tulang kadang dapat perlakuan tidak pantas ehhhh suami di kampung malah selingkuh! u.u

    • Iya, cerita macam itu juga ada. Seperti gunung es kali ya, satu kasus yg ditemui sebenarnya ‘perwakilan’ dari banyak kasus serupa.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s