Pride and Prejudice – Jane Austen

PnPTitle : Pride and Prejudice
Author : Jane Austen (1797)
Publisher : Wordsworth Classics
Format : Paperback, 329 pages

Pasangan Bennet memiliki lima anak perempuan yang sedang beranjak dewasa. Oleh karena tidak memiliki anak laki-laki, seluruh kekayaan Mr.Bennet akan jatuh pada seorang sepupu jauh jika dia meninggal dunia. Hal ini membuat Mrs.Bennet begitu berambisi menikahkan putri-putrinya, dan kalau bisa, dengan pria yang mapan.

Kelima Bennet bersaudari memiliki karakter yang berbeda-beda. Jane si sulung yang cantik dan merupakan cermin wanita ideal masa itu, Elizabeth/Lizzy yang cerdas dan merupakan favorit ayahnya, Mary si kutu buku, serta Catherine/Kitty dan Lidya yang bebas. Kisah dibuka dengan kedatangan seorang pria kaya di Netherfield, tak jauh dari kediaman Bennet di Longbourn. Pria itu, Mr.Bingley, kabarnya sedang mencari istri, dan secara otomatis, Mrs.Bennet mengharapkan salah seorang putrinya yang terpilih. Tidak mengejutkan jika kemudian Jane menarik perhatian pria itu, begitupun sebaliknya. Di samping itu, Bingley memiliki seorang teman yang juga kaya, tapi kaku dalam pergaulan hingga tampak sombong, Mr.Darcy. Sejak awal terlihat ada gesekan antara Darcy dengan Lizzy, tetapi tampaknya rasa sebal Lizzy pada Darcy tidak berlangsung dua arah.

Hubungan ini berjalan cukup rumit, Lizzy mau tidak mau harus sering berhubungan dengan Darcy karena kawannya diharapkan menjadi calon iparnya, ditambah saudari-saudari Bingley yang nantinya akan mengganggu hubungan saudara mereka dengan Jane. Pada suatu kesempatan, dia juga akan berkenalan dengan Wickham yang akan memberinya sudut pandang yang berbeda tentang Darcy. Singkatnya, Lizzy yang sangat ingin tidak berhubungan dengan Darcy yang memiliki citra negatif di matanya, selalu berkesempatan untuk mengalami sebaliknya, dan disadari atau tidak, dia justru menjadi penasaran tentang kisah hidup orang yang dibencinya itu.

‘Perhaps,’ said Darcy, ‘I should have judged better, had I sought an introduction, but I am ill-qualified to recommend myself to strangers.’
‘Shall we ask your cousin the reason of this?’ said Elizabeth, still addressing Colonel Fitzwilliam. ‘Shall we ask him why a man of sense and education, and who has lived in the world, is ill qualified to recommend himself to strangers?’
‘I can answer your question,’ said Fitzwilliam, ‘without applying to him. It is because he will not give himself the trouble.’
‘I certainly have not the talent which some people possess,’ said Darcy, ‘of conversing easily with those I have never seen before. I cannot catch their tone of conversation, or appear interested in their concerns, as I often see done.’
‘My fingers,’ said Elizabeth, ‘do not move over this instrument in the masterly manner which I see so many women’s do. They have not the same force or rapidity, and do not produce the same expression. But then I have always supposed it to be my own fault—because I will not take the trouble of practising. It is not that I do not believe my fingers as capable as any other woman’s of superior execution.’
Darcy smiled and said, ‘You are perfectly right. You have employed your time much better. No one admitted to the privilege of hearing you, can think anything wanting. We neither of us perform to strangers.’
(p.150-151)

Dinamika sosial pada masa itu digambarkan dalam obsesi Mrs.Bennet. Bagaimana dia dan orang-orang dalam lingkarannya memandang pria dan wanita, bagaimana para wanita berlomba-lomba menarik perhatian para pria, dan bagaimana para pria bersikap dalam posisinya yang ditentukan oleh kekayaan. Tidak terlalu banyak konflik yang berarti selain hubungan-hubungan itu dan pandangan masyarakat terhadapnya. Karakter para putri Bennet yang disorot hanya Jane dan Lizzy, serta Lydia yang nantinya akan mengguncang keluarga itu. Jane yang serba sempurna dan Lizzy yang mandiri saling mengisi dan melengkapi, baik dalam kisah maupun dalam penggambaran satu sama yang lainnya. Kemunculan dan hubungan keduanya memperjelas perbedaan dan pandangan hidup masing-masing.

‘Oh! you are a great deal too apt you know, to like people in general. You never see a fault in anybody. All the world are good and agreeable in your eyes. I never heard you speak ill of a human being in my life.’ (p.15)

Buku ini banyak memotret kejadian dan dialog sehingga, bagi saya, agak membosankan. Terkecuali beberapa momen kecil yang bisa membuat saya tertawa atau kagum, keseluruhan buku ini memiliki konflik yang itu-itu saja dan penyelesaian yang bisa ditebak. Perkembangan karakter tidak terlalu tampak, hanya perubahan drastis dari sudut pandang satu sama lain dikarenakan kesalahpahaman atau ketidaktahuan. Karya ini dipuji-puji karena merupakan potret akurat dari kondisi sosial masa itu, serta karakter Lizzy yang mendobrak stigma tentang perempuan. 2.5/5 bintang untuk perkenalan saya dengan Austen.

‘I wish I could say anything to comfort you,’ replied Elizabeth; ‘but it is wholly out of my power. You must feel it; and the usual satisfaction of preaching patience to a sufferer is denied me, because you have always so much.’ (p.276)

September : Sastra Eropa

September : Sastra Eropa

Review #29 of Classics Club Project

Review #34 for Lucky No.15 Reading Challenge category Bargain All The Way

5 responses to “Pride and Prejudice – Jane Austen

  1. dari dulu penasaran ama ceritanya. masukin wl😀

  2. Weh, 2.5 aja Zee? Yah, buku ini emang terkenal lebih karena pesan tentang situasi sosialnya dan karakter Lizzy daripada inti cerita ato struktur plotnya sih ya. Mungkin di bagian itu dirimu tidak berkenan, heuheuheu.

  3. Pingback: Lucky No. 15 Reading Challenge Wrap Up | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s