The Martian – Andy Weir

the martianTitle : The Martian
Author : Andy Weir (2011)

The cost for my survival must have been hundreds of millions of dollars. All to save one dorky botanist. Why bother?
Well, okay. I know the answer to that. Part of it might be what I represent: progress, science, and the interplanetary future we’ve dreamed of for centuries. But really, they did it because every human being has a basic instinct to help each other out. It might not seem that way sometimes, but it’s true.

Misi Ares merupakan misi pendaratan manusia di Mars yang bertujuan mempelajari segala hal tentang planet tersebut, mulai dari atmosfer, tanah, dan segala hal yang berkaitan dengan kemampuannya untuk menjadi planet ‘hidup’. Ares 1-2 cukup berhasil, tetapi Ares 3 mengalami cuaca buruk tak terduga yang menyebabkannya harus meninggalkan Mars secara darurat pada Sol 6. Sol adalah satuan hari di planet Mars, yang lamanya 39 menit lebih lama dibandingkan hari di Bumi. Kepergian awak Ares 3 tidak lengkap karena salah seorang kawan mereka, Mark Watney, sempat terbentur antena dan sistem komunikasi tidak mendeteksi tanda kehidupan padanya, sedangkan cuaca tidak memungkinkan mereka mencari jasadnya.

Namun, Watney tidak meninggal. Dia selamat berkat sistem homeostasis manusia yang menutup kebocoran pada kostum astronotnya. Dia tertinggal sendirian di Mars, tanpa alat komunikasi, dengan ransum terbatas, tetapi dengan otak cerdas dan selera humor yang tinggi.

Pendaratan Ares 4 baru akan terjadi empat tahun lagi, dengan jarak ribuan kilometer dari Hab Ares 3. Sementara itu, dia bisa memperpanjang ransumnya agar bisa menunjang hidupnya selama itu, merencanakan perjalanan yang hanya mengandalkan tenaga surya dari panel yang bisa ditunjang Rovernya, yang tidak hanya menyokong perjalanan, tetapi juga mesin-mesin yang menunjang hidupnya seperti oksigen dan air. Dia harus memodifikasi banyak hal, dan dia harus bercocok tanam. Jika beruntung, dia bisa mencari cara untuk menghidupkan kembali alat komunikasinya agar NASA tahu dan membantunya memikirkan hal-hal tersebut.

I got my undergrad degree at the University of Chicago. Half the people who studied botany were hippies who thought they could return to some natural world system. Somehow feeding seven billion people through pure gathering. They spent most of their time working out better ways to grow pot. I didn’t like them. I’ve always been in it for the science, not for any New World Order bullshit.
When they made compost heaps and tried to conserve every little ounce of living matter, I laughed at them. “Look at the silly hippies! Look at their pathetic attempts to simulate a complex global ecosystem in their backyard.”
Of course, now I’m doing exactly that.
(Sol 14)

Sementara itu, tiga bulan pasca kepergian Ares 3 dari Mars, NASA baru menyadari bahwa Watney masih hidup melalui pantauan satelit. Misi besar-besaran pun direncanakan untuk menyelamatkan Watney. Segala informasi yang masuk ke NASA adalah milik publik, sehingga mereka tidak bisa lepas dari media. Namun bukan hanya itu, Mark Watney adalah astronot mereka, dan mereka memiliki tanggung jawab untuk mengusahakan hidupnya semaksimal mungkin. Perbedaan pendapat, percobaan demi percobaan, kerjasama dengan pihak lain, serta apakah mereka harus melibatkan awak Ares 3 yang lain merupakan beberapa pertimbangan alot karena waktu adalah hal kritis yang menentukan hidup-mati seorang Watney.

Buku ini disusun dalam beberapa sudut pandang. Di Mars, pembaca disuguhkan catatan harian Watney dalam Log yang diisinya sekadar untuk memiliki teman bicara dan melampiaskan perasaannya, sedangkan di Bumi (NASA) dan Hermes (pesawat ruang angkasa yang digunakan awak Ares 3) menggunakan sudut pandang orang ketiga. Perpindahan lokasi penceritaan dalam buku ini cukup membuat penasaran karena masih meninggalkan pertanyaan, sekaligus membuat suasana kisah tidak terlalu monoton. Karakter-karakter yang dimunculkan juga ‘hidup’ dan memiliki perannya masing-masing, baik mereka sebagai ilmuwan yang berusaha memaksimalkan pengetahuan mereka, maupun para astronot yang merasakan dilema antara menolong kawan mereka atau bertanggung jawab terhadap keluarga.

Watney sendiri, saya suka karakternya yang humoris. Semangatnya menular pada saya saat membacanya, dan memberikan energi positif di sepanjang kisah. Tentu saja Watney tidak melulu bahagia, pasti ada masa-masa dia terpuruk dan putus asa—meski tidak lama—yang wajar sebagai seorang manusia. Terlebih, situasinya memang di luar kewajaran. Apalagi tidak semua usahanya berjalan lancar, sedikit kecelakaan membuatnya kehilangan beberapa liter air yang berharga, beberapa oksigen yang penting untuk hidupnya, bahkan sumber makanannya. Di atas itu semua, selera humornya yang tinggilah yang membuatnya bisa bertahan hidup.

“Well,” Irene said, “he’s very intelligent. All of them are, of course. But he’s particularly resourceful and a good problem-solver.”
“That may save his life,” Cathy interjected.
“It may indeed,” Irene agreed. “Also, he’s a good-natured man. Usually cheerful, with a great sense of humor. He’s quick with a joke. In the months leading up to launch, the crew was put through a grueling training schedule. They all showed signs of stress and moodiness. Mark was no exception, but the way he showed it was to crack more jokes and get everyone laughing.”

Saya suka dengan segala trivia tentang Mars dan kehidupan di luar angkasa, termasuk prosedur teknis NASA dan lain sebagainya. Memang penulis tidak berhubungan dengan NASA, dan riset hanya dilakukan melalui pencarian Google, tetapi kenyataannya kisah ini terjadi di masa depan, sehingga kemungkinan memang banyak teknologi fiksi yang ada dalam buku ini. Walaupun tidak sedikit juga hal ilmiah yang saya rasa cukup akurat. Dan yang terpenting adalah, bagaimana penulis menyusunnya menjadi suatu rangkaian hal yang masuk akal, seperti navigasi dengan bulan-bulan yang dimiliki oleh Mars (Phobos dan Deimos), penggunaan hal-hal yang memang sudah ada di Mars seperti Pathfinder (Technically it’s “Carl Sagan Memorial Station.” But with all due respect to Carl, I can call it whatever the hell I want. I’m the King of Mars.), juga berbagai reaksi kimia dan biologis yang mungkin terjadi dalam atmosfer Mars.

My guess is pockets of ice formed around some of the bacteria, leaving a bubble of survivable pressure inside, and the cold wasn’t quite enough to kill them. With hundreds of millions of bacteria, it only takes one survivor to stave off extinction.
Life is amazingly tenacious. They don’t want to die any more than I do.
(Sol 195)

Selain berhubungan dengan NASA, misi penyelamatan Watney melibatkan badan antariksa Tiongkok yang menambah kompleksitas sekaligus universalitas cerita. Walaupun begitu, saya tidak merasakan perbedaan sudut pandang dan budaya dari orang-orang Tiongkok yang dimasukkan ke dalam cerita.

“Love of science is universal across all cultures.”

Nilai-nilai persahabatan dan kekeluargaan sangat terasa pada orang-orang yang berhubungan dengan Watney. Bagaimana kita menghargai seorang manusia, bukan hanya sebagai obyek, tetapi juga sebagai subyek. Hal-hal yang menyangkut inilah yang seringkali melahirkan adegan-adegan mengharukan. Pun bagaimana kita merasakan empati pada karakter Watney di saat dia sedang terpuruk, dan bagaimana kita ikut bersorak pada pencapaian-pencapaiannya. Tak jarang saya tercekat saat membaca beberapa scene yang tampak biasa, tampak lucu, tetapi sebenarnya menunjukkan betapa sesungguhnya naluri kita adalah mencintai, menyayangi, dan merayakan hidup orang-orang yang kita pedulikan.

I never realized how utterly silent Mars is. It’s a desert world with practically no atmosphere to convey sound. I could hear my own heartbeat. (Sol 449)

4.5/5 bintang untuk Mars survival guide a la Watney.

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya berkesempatan menonton filmnya. Karena bertepatan dengan saya selesai membaca bukunya, saya malah terfokus pada perbedaan-perbedaan antara film dan buku yang sebenarnya kurang esensial, tetapi mau tak mau saya sadari juga sebagai orang yang sangat terpukau dengan bukunya. Misalnya kepergian Ares 3 pada Sol sekian belas, alih-alih Sol 6 seperti di buku, dan gambaran Acidalia Planitia yang di buku saya bayangkan sebagai dataran yang sangat luas, tanpa bangun apapun. Di luar itu, sebenarnya film The Martian cukup sukses dan menakjubkan untuk kelasnya.

I’m in the middle of a bunch of craters that form a triangle. I’m calling it the Watney Triangle because after what I’ve been through, stuff on Mars should be named after me. (Sol 473)

They say once you grow crops somewhere, you have officially “colonized” it. So technically, I colonized Mars.
In your face, Neil Armstrong!

One response to “The Martian – Andy Weir

  1. Pingback: Book Kaleidoscope 2015 | Bacaan B.Zee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s