Scene on Three (108)

SceneOnThree

Baru kembali ke hadapan layar untuk ngeblog dan ternyata SoT edisi yang lalu lumayan juga yang ikut. Maaf belum sempat mampir, kebetulan awal bulan kemarin saya (sok) sibuk sekali, diusahakan nanti atau besok ya.

SoT hari ini saya ambil dari buku yang draft reviewnya juga terbengkalai sejak awal bulan, Snow Country by Yasunari Kawabata.

Yang lebih mengejutkan Shimamura di luar cerita tentang catatan harian, gadis itu mengatakan bahwa ia mencatat setiap novel dan cerita pendek yang dibacanya sejak umurnya lima belas atau enam belas tahun. Semuanya sudah tercatat di sepuluh buku catatan.
“Kau menuliskan pendapat-pendapatmu?”
“Aku tidak pernah bisa menulis seperti itu. Aku hanya menuliskan judul, pengarangnya, tokoh-tokoh dalam cerita dan hubungan di antara mereka. Itu saja.”
“Apa gunanya hanya mencatat yang begitu-begitu?”
“Sama sekali tak ada.”
“Sia-sia saja.”
“Sepenuhnya sia-sia.” Perempuan itu menjawab ringan, seolah-olah itu pengakuan yang sepele saja. Namun, ia memandang Shimamura lekat-lekat.
Sepenuhnya sia-sia. Entah kenapa Shimamura ingin menekankan pernyataan itu. Tetapi, setelah beberapa saat memandangi perempuan itu, ia merasakan keheningan, seakan-akan ia bisa mendengar suara hujan. Ia cukup paham bahwa itu bukanlah sesuatu yang sia-sia bagi perempuan itu; dengan tindakan itu, ia justru sedang menegaskan kemurnian dan makna kehadirannya.
(p.43)

Banyak sekali yang membuat saya relate dengan scene ini. Yang pertama, kalau hidup di zaman sekarang, perempuan itu pasti punya blog buku, hahaha. Tapi menarik sekali, saya dulu suka menulis yang ‘tidak penting’ dan ‘sia-sia’ juga, tapi tidak pernah terpikir untuk menulis tentang buku yang saya baca hingga saya punya blog. Kedua, saya suka merenungkan tentang yang dimaksud dengan ‘kemurnian dan makna kehadirannya’ itu. Walaupun saya belum tahu persis apa yang dimaksudkan oleh Kawabata, sedikit banyak saya merasakan banyak hal saat membaca scene ini.

Bagikan scene-mu di tanggal 13 ini:

  1. Tuliskan suatu adegan atau deskripsi pemandangan/manusia/situasi/kota dan sebagainya dari buku pilihan kalian ke dalam suatu post.
  2. Jelaskan mengapa adegan atau deskripsi itu menarik, menurut versi kalian masing-masing.
  3. Jangan lupa cantumkan button Scene on Three di dalam post dengan link menuju blog Bacaan B.Zee.
  4. Masukkan link post kalian ke link tools yang ada di bawah post Bacaan B.Zee, sekalian saling mengunjungi sesama peserta Scene on Three.
  5. Meme ini diadakan setiap tanggal yang mengandung angka tiga, sesuai dengan ketersediaan tanggal di bulan tersebut (tanggal 3, 13, 23, 30, dan 31).

2 responses to “Scene on Three (108)

  1. Menarik sekali, SoT ini membangkitkan kenangan lama. Dulu waktu masih kelas 2 SD, aku menceritakan kisah Goosebumps yang judulnya Selamat Datang di Rumah Mati kepada temanku yang sebentar lagi mau pindah ke NTT. Waktu itu dia mencatat apa yang kuceritakan di sebuah buku catatan khusus. Aku waktu itu juga bilang sia-sia, kenapa tidak beli bukunya saja. Tapi dia tetap ngotot mencatat , biar jadi kenang-kenangan katanya🙂

    Kalau direnungkan lagi, sesuatu yang kita anggap sia-sia kadang memang bisa jadi punya arti ya😉

    Ngomong-ngomong aku jadi kangen temanku itu. Apa kabarnya ya sekarang? ⃛ヾ(๑❛ ▿ ◠๑ )

  2. Pingback: Link of The Week #18: GA Reminder, Dekut Burung Kukuk, dan Scene yang Membangkitkan Kenangan | Ira Book Lover

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s