Snow Country – Yasunari Kawabata

snwcntrTitle : Snow Country (Daerah Salju)
Author : Yasunari Kawabata (1935)
Translator : A.S. Laksana
Editor : Gita Romadhona
Publisher : GagasMedia
Edition : Cetakan kedua, 2010
Format : Paperback, vi +190 pages

“Apakah Bima Sakti selalu seperti ini tiap malam?”
“Bima Sakti? Indah, bukan? Tapi tidak selalu begini tiap malam. Sekarang ini luar biasa cerah.”
(p.180)

Di daerah salju itu, Shimamura pertama kali bertemu dengan Komako, yang belakangan diketahuinya adalah seorang geisha. Seperti biasa seusai melakukan aktivitas, pria itu meminta sake dan geisha, tetapi tak ada yang membangkitkan minatnya selain Komako. Berjalanlah kisah keduanya dalam musim dingin itu, Komako yang biasanya sudah sangat lelah dan mabuk akan mengoceh di depan Shimamura dan tertidur di sana hingga pagi. Keduanya menjalin sebuah hubungan yang janggal, bukan kekasih, tetapi juga tak bisa dikatakan sahabat. Keduanya saling berkisah tentang kehidupan dan berbagi kecintaan terhadap musik dan tarian.

Sementara itu, Shimamura sendiri masih menyimpan rasa penasaran pada wanita yang dilihatnya di kereta, yang ternyata tinggal serumah dengan Komako. Wanita itu bernama Yoko, yang di sana untuk merawat seorang pria-entah-siapa yang berada di ambang kematiannya. Hubungan janggal Komako dan Shimamura semakin aneh dengan masuknya Yoko dalam perbincangan keduanya, serta sikap Komako sendiri kepada wanita itu.

Saya setuju dengan sebuah review yang saya baca yang mengibaratkan Kawabata ‘melukis’ dalam buku ini, alih-alih menulis. Buku ini melukiskan hal-hal kompleks tentang sebuah tempat dan hubungan manusia. Jujur, saya tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaan saya saat membacanya, atau menyebutkan apa yang bisa saya simpulkan seusai membacanya. Saya menikmati setiap alunan kalimat dalam buku ini, bahkan dalam versi terjemahannya pun.

Seperti buku Kawabata yang pernah saya baca sebelumnya, buku ini tak memberi gambaran utuh tentang karakter-karakternya. Kita disuguhkan pada pertunjukan suatu daerah dan budayanya, meski sedikit banyak kita bisa membaca karakter orang-orang yang terlibat di sana.

Terkadang, banyak hal tidak memerlukan alasan. Seperti Shimamura yang tidak memerlukan pembenaran atas hubungannya dengan Komako meski wanita itu tak tampak memiliki kelebihan yang luar biasa. Atau Komako yang bersikap baik pada Yoko meski dia membencinya karena Shimamura mempedulikannya. Atau apakah kita perlu tahu mengapa Yoko memilih akhir yang seperti itu. Buku ini adalah potret sebuah episode kehidupan, yang tak memerlukan penjelasan di mana ujung dan mana pangkalnya. Buku ini mungkin adalah jenis buku yang bisa dikupas satu per satu lapisannya, ketika kita membacanya di saat yang tepat.

4/5 bintang untuk keindahan yang tak terjelaskan.

Sebuah karya yang dikerjakan dengan cinta yang memancar dari kesungguhan hati—bukankah ia akan selalu sanggup menggerakkan hati, kapan pun dan di mana pun? (p.169)

2 responses to “Snow Country – Yasunari Kawabata

  1. Tak semua hal butuh penjelasan, ato emang penulis2 Jepang tuh “agak-agak ga jelas” dalam menciptakan narasi? Masalahnya Yoko Ogawa juga gitu, apalagi Haruki Murakami, bisa ampe guling-guling deh bacanya 😓.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s